Showing posts with label Books & Films. Show all posts
Showing posts with label Books & Films. Show all posts

Friday, November 17, 2017

List of K-Drama I've Watched in 2017 [part 2]

Hi!

Mungkin banyak orang yang penasaran, mengapa saya senang sekali nonton K-drama dibandingkan sinetron Indonesia, dorama Jepang atau serial barat. Menurut pandangan saya, K-drama lebih unggul dalam kualitas gambar dan suara, plot cerita, dan akting para pemainnya dibandingkan sinetron Indonesia atau dorama Jepang. Sedangkan dalam serial barat, walaupun sinematografinya sama-sama bagus, tapi kadang saya tidak suka dengan plot cerita beserta endingnya. Alasan kenapa K-drama lebih menarik, because we all love happy ending! Ya gak sih? πŸ˜‚

Alasan mengapa saya tidak menonton sinetron Indonesia bisa dibaca di sini. Saya nonton beberapa dorama dan serial barat, tetapi tidak seintens K-drama. Alasan mengapa saya senang sekali menonton K-drama bisa kamu baca di sini dan ini ya.

===============================================================
 K-dramas airing in April 2017 
===============================================================


Queen of Mystery μΆ”λ¦¬μ˜ μ—¬μ™• poster from here.

Queen of Mystery μΆ”λ¦¬μ˜ μ—¬μ™•
Romanisasi: Chooriui Yeowang
Broadcast network: KBS2
Klasifikasi: 15 (15μ„Έ 이상 κ΄€λžŒκ°€)
Periode siaran: 5 April - 25 Mei 2017
Waktu tayang: Rabu dan Kamis pukul 22:00 KST
Jumlah episode: 16 episode
Genre: mystery/comedy
Produksi: AStory Co., Ltd.
Sutradara: Kim Jin-Woo, Yoo Young-Eun
Penulis: Lee Sung-Min
Casts: Choi Gang-Hee (Yoo Seol-Ok), Kwon Sang-Woo (Ha Wan-Seung), etc.



Sinopsis: Yoo Seol-Ok (Choi Gang-Hee) liked mystery novels and wanted to become a detective, but she gave up her dream after marrying. Now, she is a housewife with a husband who works as a prosecutor. She meets Ha Wan-Seung (Kwon Sang-Woo). He is a passionate detective and they decide to collaborate to solve cases.

Komentar: Pertemuan antara akting Choi Gang-Hee yang terlihat agak mbloon dengan akting Kwon Sang-Woo yang keras kepala dan bodoh itu sungguh membuat saya jatuh cinta dengan drama ini. Semua masalah yang ada dalam penyidikan bisa dipecahkan dengan mudah oleh Seol-Ok. Untuk action scene, urusannya bisa ditangani dengan mudah oleh Wan-Seung.

Pasangan ini (gak bisa disebut pasangan juga sih karena Seol-Ok sudah bersuami) membuat semua masalah terlihat mudah untuk diatasi. Drama ini akan mbikin kamu ingin terus melihat mereka memecahkan kasus demi kasus.

And, hey! Jangan lupa, Queen of Mystery season 2 akan tayang pada Februari 2018~ πŸŽ‰

Lesson learned from this K-drama: Umur bukan halangan untuk menggapai cita-cita~

Tuesday, October 17, 2017

List of K-Drama I've Watched in 2017 [part 1]

Hi!

Sebelumnya, postingan mengenai daftar K-drama yang saya tonton sepanjang tahun 2017 akan dibagi menjadi 4 bagian (Januari - Maret, April - Juni, Juli - September, Oktober - Desember). Perlu diingat kalau saya tidak menonton semua drama yang tayang. Saya nonton K-drama berdasarkan sinopsis, trailer, daftar pemeran dan mood. Kalau gak mood,  mau sebagus apapun reviewnya, saya gak bakal nonton K-drama tersebut. Oh! Please beware, this will be a super long post. πŸ˜†

Nah, mari kita memulai postingan ini dengan curhatan dan keluh kesah terlebih dahulu~

Menonton drama dari Korea Selatan (K-drama) merupakan makanan sehari-hari saya saat ini. Yah, namanya juga pengangguran yang sedang saving money mode on, pilihannya hanya bisa berdiam diri di rumah, tidur, atau menonton K-drama untuk mengejar ketertinggalan selama 4 bulan akibat skripsian. Pokoknya keluar rumah kalau ada hal penting saja.

Ini efek skripsi juga sih. Serius, tabungan saya habis buat skripsian doang. Ngeprint, fotokopi, scan data, dan tetek bengek lainnya. Kalau dihitung, dari awal skripsi sampai penggandaan skripsi untuk sidang, tabungan saya habis ± Rp 900.000. Biaya tersebut belum termasuk biaya sidang dan wisuda, beli kemeja putih, celana hitam, dan sepatu untuk sidang skripsi.

Beruntung rumah saya cukup nyaman, ditambah akses wi-fi yang kencang dan unlimited foods! Kalaupun tidak ada makanan, saya bisa pesan lewat Go-Food atau masak sendiri. Saya introverthomeperson dan heavy sleeper, jadi tak keluar rumah sebulan penuh dan tidur 20 jam non-stop pun tak masalah.

Saya mulai menonton K-drama sejak SMP, sambil menemani Mami Eyang (ibu dari ayah) yang sedang sakit kala itu. Indosiar merupakan salah satu saluran televisi nasional yang mendubbing dan menayangkan drama sageuk yaitu drama berlatar dinasti dan kerajaan di Korea zaman dahulu. Pada saat SMA, saya getol beli DVD K-drama bajakan, kadang pinjam punya kakak. Memasuki dunia perkuliahan, saya getol download ilegal HD K-drama yang satu episodenya bisa berukuran 900 MB - 1 GB lebih (kini semua drama sudah saya hapus karena terlalu memenuhi memori).

Pada akhir tahun 2016 hingga kini, saya lebih suka nonton streaming di VIU Indonesia, yaitu aplikasi streaming berbayar dengan subtitle English, Bahasa Indonesia, Bahasa Malaysia, dan Bahasa Mandarin; KissAsian atau My Asian TV yang paling cepat update dengan hardsub English; atau 123Drakor atau IndoXXI atau Ns21.me dengan hardsub Bahasa Indonesia. Sayang, Drama Fever tidak available di Indonesia. Saya juga sempat coba streaming di Viki, tetapi kemudian menyerah karena satu episode saja banyak banget iklannya. ☹️

Sejauh ini saya sudah menonton 33 judul drama di 2017. Jujur, saya lupa urutan K-drama yang saya tonton, jadi daftar ini akan berurutan sesuai dengan jadwal tayang perdana ya!~

===============================================================
 K-dramas airing in January 2017 
===============================================================

Thursday, September 21, 2017

Pengabdi Setan: Ibu Datang Kembali

Poster Instagram Pengabdi Setan (dok. Rafi Films)

Setelah mengidap penyakit aneh selama 3 tahun, Ibu (Ayu Laksmi) akhirnya meninggal dunia. Karena tekanan ekonomi, Bapak (Bront Palarae) lalu memutuskan untuk mencari nafkah di luar kota, meninggalkan keempat anak; Rini (Tara Basro), Toni (Endy Arfian), Boni (Nasar Anuz), dan Ian (M. Adhiyat) serta Ibundanya (Elly D. Luthan) yang duduk di kursi roda.

Tak lama setelah Bapak pergi, keempat anak tersebut merasa bahwa Ibu kembali berada di rumah. Situasi semakin menyeramkan ketika mereka mengetahui bahwa Ibu datang lagi tidak sekedar untuk menjenguk, tetapi juga untuk menjemput mereka.


Pengabdi Setan (Satan’s Slave) merupakan film produksi Rafi Films tahun 1980 yang ditulis dan disutradarai oleh Sisworo Gautama Putra. Kali ini Rafi Films bekerjasama dengan sutradara Joko Anwar untuk meremake film Pengabdi Setan.

Saat mendengar film Pengabdi Setan akan diremake oleh Joko Anwar, saya pikir akan melihat karakter ikonik nan jahat Bibi Darminah (diperankan oleh Ruth Pelupessy), karakter Pak Karto (diperankan oleh I.M. Damsyik) yang taat agama tetapi sering sakit-sakitan, atau karakter Rita (diperankan oleh Siska Karabety) anak muda yang tak percaya tahayul dan senang hura-hura padahal Ibunya belum lama meninggal dunia, ternyata saya tidak mendapatinya.


Banyak perbedaan mencolok antara film Pengabdi Setan original dan versi remakenya. Mulai dari plot cerita, karakter dan latar belakang mereka yang berbeda tetapi esensinya tetap sama. Remake Pengabdi Setan lebih vivid dari segi cerita dan karakter. Bisa dikatakan bahwa plot cerita remake ini sedikit lebih rumit dari versi originalnya, tetapi untungnya digambarkan dengan baik oleh sang sutradara. Menurut saya, Pengabdi Setan remake ini seperti jawaban atas pertanyaan yang muncul tetapi tak terjawab dengan baik pada Pengabdi Setan original.

Dalam gelaran konferensi pers di Epicentrum XXI, Rabu (20/9/2017), Joko Anwar selaku sutradara sempat memberikan statement mengenai perbedaan plot cerita versi original dan remake, “Ketika kita mau remake sebuah film, tidak bisa mengulang kembali adegan yang sudah dibuat film sebelumnya. Sensibilitas penontonnya pasti berbeda, apa yang menakutkan di zaman dulu belum tentu dianggap menakutkan sekarang.”

First impression setelah menonton screening film ini: ADIK CAPEK NONTONNYA, BANG!

Pengabdi Setan remake ini mampu memberikan kengerian aneh yang membuat saya sulit tidur setelah menontonnya. Dengan durasi 105 menit, Joko Anwar tidak membiarkan saya dan para penonton lainnya bernafas lega. Banyak kejutan-kejutan menyeramkan (jump scare) tetapi tidak murahan yang membuat penonton berteriak kaget kemudian menutup mata atau telinganya (I do both! πŸ˜±).


Setan-setan yang bertebaran dalam film ini pun murni memakai special make-up effects tanpa efek digital komputer. Ditambah sound effect dan original soundtrack berjudul “Kelam Malam” yang dinyanyikan Aimee Saras menambah atmosfer gelap dan menyeramkan dalam film ini. Inilah yang membuat Pengabdi Setan remake lebih terasa ngeri dibanding film originalnya.

Sedikit bocoran, ada beberapa adegan (favorit saya) dalam Pengabdi Setan original yang didaur ulang dengan baik oleh Joko Anwar, yaitu adegan saat sedang ibadah dan adegan kecelakaan Herman yang diperankan oleh Simon Cader pada Pengabdi Setan original.


Cerita-cerita horor dibalik pembuatan film remake ini menambah kengerian tersendiri. Rumah tua di kawasan Pangalengan, Jawa Barat yang menjadi lokasi syuting ternyata memiliki kisah horor. Walaupun kondisinya sudah buruk sehingga harus direnovasi terlebih dahulu, Joko Anwar tetap memakai lokasi tersebut karena dari segi layout dan naskah sangatlah cocok. Cerita horor terjadi pada malam hari, suara misterius sempat terekam tak sengaja dari halaman oleh salah satu crew yang sedang break syuting. Cerita berhantu rumah tersebut sempat viral dan masuk ke dalam trending topic forum terbesar di Indonesia, Kaskus.

Akhir kata, sejujurnya elemen suara lonceng dalam film Pengabdi Setan remake tidak membuat saya ngeri sama sekali, tetapi malah membuat saya teringat tukang es dongdong atau es cincau keliling yang suka lewat di depan rumah. Aneh memang.

Oke, kalau kalian penasaran dengan sosok Ibu, saksikan film Pengabdi Setan yang akan tayang di seluruh jaringan bioskop di Indonesia mulai Kamis, 28 September 2017.

Sebelum nonton, ingat pesan Bibi Darminah, “Akan aku hancurkan manusia-manusia tak beriman seperti kalian. Kami akan selalu datang disetiap diri manusia, selagi agama cuma menjadi kedoknya.”

Dengan beberapa perubahan, tulisan ini juga dimuat pada situs komunitas gerakan nonton GudangFilm, klik di sini jika ingin membaca.

Thursday, April 28, 2016

[Review] Ada Apa Dengan Cinta 2

Salah satu adegan di film AADC 2. (dok. Miles Films/2016)

Jendela terbuka
dan masa lampau memasukiku sebagai angin.
Meriang. Meriang. Aku meriang.
Kau yang panas di kening.
Kau yang dingin dikenang.

Apa kabar hari ini? Lihat, tanda tanya itu,
jurang antara kebodohan dan keinginanku
memilikimu sekali lagi.

Perjalanan ini dimulai semenjak Rangga, yang memenangkan lomba puisi tahunan sewaktu SMA dulu, menolak untuk diwawancarai oleh Cinta, ketua klub mading saat itu. Tolakan Rangga membuat Cinta penasaran. Dengan nekat, Cinta mengirimkan surat menghina sehingga membuat Rangga geram.

Rasa geram itu meninggalkan sebuah buku berjudul AKU karya Sjuman Djaya di lantai lorong sekolah. Cinta tak langsung mengembalikan buku itu. Cinta membacanya dengan seksama, hingga memfotokopinya untuk koleksi pribadi.

Setelah Cinta puas membaca buku berjudul AKU karya Sjuman Djaya milik Rangga, ia mengembalikannya dengan sepucuk surat bertuliskan, "Rangga, bila emosi mengalahkan logika, terbuktikan banyakan ruginya. Benerkan?"

Rangga yang menerima itu hanya tersenyum. Dia bahagia karena buku langka yang berjudul AKU karya Sjuman Djaya miliknya kembali lagi, dan mungkin juga Rangga bahagia karena Cinta yang mengembalikan bukunya.

Kalau kata Limbong, perjalanan hubungan Rangga dan Cinta macam roman tahun tujuh-puluhan. Berawal dari buku, berlanjutlah ke malam minggu. Tapi Rangga membuat kesalahan yang lumayan fatal saat berjalan bersama Cinta di Kwitang. Ia berkata bahwa Cinta seperti perempuan yang tidak memiliki kepribadian karena selalu mengorbankan kebebasan pribadi demi sesuatu yang kurang prinsipil bersama teman-temannya.

Cinta marah, tetapi dia sempat menengok ke arah Rangga sebelum pergi. Yang artinya, kalau menurut Limbong, Cinta ingin dikejar oleh Rangga. Tapi Rangga enggan mengejar Cinta. Gengsinya terlalu tinggi.

Cinta dan Rangga menjalani perjalanan semasa SMA ini dengan penuh benci tapi rindu yang berujung gengsi. Sesekali Cinta menurunkan gengsinya dengan mendatangi rumah Rangga. Cinta bertemu dengan ayah Rangga, Yusrizal. Cinta memasak bersama Rangga untuk makan malam yang berakhir dengan tidak nyaman karena bom panas yang dilempar oleh para haters Yusrizal.

Dari sini Cinta mengetahui kehidupan keluarga Rangga yang sesungguhnya.

Perjalanan semasa SMA yang manis dan sedikit pahit ini dijalani oleh mereka berdua, hingga pada suatu ketika Rangga harus ikut Yusrizal pergi ke New York. Meninggalkan Cinta dengan keringatnya karena berlarian di bandara demi menghentikan Rangga, kecupan manis dibibirnya, dan dengan janji akan kembali ke pelukan Cinta dalam satu purnama.

Empatbelas tahun kemudian, pertemanan Cinta dengan Maura, Milly, dan Karmen masih sama seperti dulu. Cinta juga sudah bertunangan, tetapi bukan dengan Rangga. Cinta bertunangan dengan pria lain. Pria yang mapan, tipikal family guy dan suami idaman setiap perempuan di muka bumi.


Kenapa begitu?


Kemana Rangga?


Mana janjinya yang akan kembali dalam satu purnama?


Tuesday, February 25, 2014

Way Back Home (2013)

Way Back Home (μ§‘μœΌλ‘œ κ°€λŠ” κΈΈ)

Bercerita tentang sepasang suami istri beranak satu yang hidup tenang dengan membuka bengkel mobil. Song Jung-Yeon (Jeon Do-Yeon) harus menghadapi kenyataan bahwa suaminya, Im Jong-Bae (Go Soo) yang menjadi penjamin, harus menanggung hutang temannya yang bunuh diri akibat tidak sanggup membayar hutangnya. Mereka menjual semua harta mereka; bengkel mobil dan apartemen mereka. Hidup mereka yang awalnya tenang, menjadi berantakan.

Teman Jong-Bae menawarkan sebuah pekerjaan: mengantarkan batu permata ke Paris, Prancis. Dan pekerjaan ini khusus perempuan. Jong-Bae tidak bisa dan melarang Jung-Yeon untuk mengambil pekerjaan itu. Kekurangan uang untuk menghidupi keluarganya, memaksa Jung-Yeon untuk melanggar larangan dari suaminya.



Dan kisah menyedihkan -yang membuat mata anda bengkak akibat terlalu banyak mengeluarkan air mata pun- berlanjut.

Disutradarai oleh Bang Eun-Jin (Perfect Number), film yang diadaptasi oleh kisah nyata Jang Mi-Jung ini membuat air mata para penonton keluar terus menerus hingga film ini selesai.  Walaupun film ini diadaptasi dari kisah nyata, namun ada beberapa perubahan nama agar film ini lebih dramatis. Tidak usah ragu dengan akting Jeon Do-Yeon, Go Soo, dan Kang Ji-Woo. Mereka bertiga bermain dengan sangat apik. 

Jeon Do-Yeon, aktris berbakat berumur 41 tahun yang lahir di Seoul, 11 Februari 1973 ini pernah mendapatkan penghargaan di Cannes Film Festival 2007 sebagai best actress di film Secret Sunshine. Selain itu, Do-Yeon juga memenangkan penghargaan di KOFRA Film Award 2014 sebagai best actress di film Way Back Home ini.

Go Soo yang sehari-harinya biasa kita lihat di K-drama, bermain sangat baik di sini. Jangan berharap Ko Soo akan terlihat tampan di film ini, dia sangat terlihat lusuh dan menyedihkan karena mulai dari make up sampai wardrobenya sangat mendukung karakternya.



Kang Ji-Woo, aktris cilik yang baru berusia 6 tahun ini, berhasil menarik perhatian penonton. Tidak banyak aktris cilik yang bisa bermain dengan natural tapi Ji-Woo berbeda, aktingnya natural -yang membuat penonton iba melihatnya-. Way Back Home ini merupakan film pertama yang Ji-Woo bintangi.

Sinematografi yang apik, pengambilan gambar dengan angle yang baik membuat film ini benar-benar membawa penonton terhanyut. Namun ada beberapa scene yang 'kentang'. Scene itu adalah scene dengan cerita menyedihkan yang dengan cepat berganti dengan scene 'biasa'. Penonton yang tadinya sudah ingin mengeluarkan air mata, malah tidak jadi menangis. Anti-klimaks.

Selain itu, untuk make up dan wardrobe sangat mendukung para pemainnya. Set-nya juga sangat mendukung dan membuat jalan ceritanya jadi lebih terlihat real. Untuk secara keseluruhan, film ini wajib ditonton oleh penggemar film bergenre drama atau penggemar K-drama.

Dan film ini tayang eksklusif di Blitzmegaplex mulai tanggal 25 Februari 2014.

@theaarbar

Wednesday, January 29, 2014

KILLERS Youth Ambassador Gathering

Akhirnya... Killers Youth Ambassador Gathering!

Hari ini saya hampir tidak jadi datang ke acara gathering ini karena cuaca yang tidak mendukung. Kemarin cerah sekali, tapi hari ini benar-benar gelap. Hujan dari pagi dan saya sempat dapat kabar kalau daerah Mampang Prapatan dan Kemang dilanda banjir.

Tapi saya bersyukur karena daerah Ps. Minggu sampai Kuningan tidak dilanda banjir, jadi saya tetap bisa datang ke acara gathering.

Schedule hari ini adalah nonton (lagi) film Killers di Blitzmegaplex dan dilanjutkan dengan bertemu eksekutif produser dan beberapa pemain Killers di Galeri Indonesia Kaya. Saya agak kecewa karena Timo dan Kimo tidak bisa datang. Padahal saya mengharapkan mereka datang ke acara gathering ini. :(

Seharusnya kami nonton Killers jam 4 sore. Tapi karena ada kesalahan teknis dari Blitzmegaplex, akhirnya molor sampai sejam. Para Youth Ambassador yang lain mungkin gak sabar untuk nonton film Killers. Penasaran sama filmnya.


Killers - Inside Us Lives a Killer.

Ah, kalau saya sih udah gak penasaran. Saya udah nonton film Killers versi belum disensor Desember tahun kemarin. Advance screening. Cuma ada 12 orang yang kepilih buat nonton film Killers versi belum disensor lho! (Ceritanya mau sombong) :p

By the way, kesal banget habis nonton film Killers versi yang sudah disensor. BROH! YANG DISENSOR BANYAK BANGET! Spoiler sedikit nih, scene opening yang Nomura lagi beradegan seks dengan korbannya, kalau di versi belum disensor, adegan itu ada kayaknya 2 menitan, sedangkan kalau versi yang sudah disensor kayaknya cuma ada setengah menit kurang deh.

Kecewa banget. Karena menurut saya, scene itu adalah scene Timo banget! Kenapa saya bilang begitu? Karena di film Timo sebelumnya, The ABCs Of Death (2012) segmen L Is For Libido dan V/H/S 2 (2013) segmen Safe Haven, adegan seks pasti ada walaupun cuma beberapa detik. Hahaha.

Setelah nonton film Killers, para Youth Ambassador yang jumlahnya lebih dari 50 orang, digiring menuju Galeri Indonesia Kaya untuk ketemu dan bincang-bincang dengan Oka Antara (as Bayu Aditya), Dimas Argoebie (as anaknya Darma), Aoura Lovenson Chandra (eksekutif produser), dan Fauzar Acut (produser).


Kak Halli membuka acara.

Salam dari Timo yang gak bisa hadir di gathering hari ini.

Kiri-kanan: Aoura, Fauzar, Oka, dan Dimas.

Kiri-kanan: Aoura, Fauzar, Oka, dan Dimas.

Ternyata Oka Antara adalah orang yang asik dan santai. Karena kita bukan pers, Oka Antara blak-blakan cerita soal Killers, kenapa dia kepilih main di film Killers dsb.

Ada satu omongan Oka Antara yang perlu direnungi. Terutama buat para wartawan/wati di Indonesia. Dia sempat kecewa soal filmnya, V/H/S 2 segmen 'Safe Haven', yang tidak diberitakan sama sekali di Indonesia. Padahal film ini masuk Sundance Film Festival 2013 bersama film What They Don't Talk About When They Talk About Love (Mouly Surya - 2013) lho!

Apa kita harus nyiapin makanan enak buat wartawan/wati biar mereka mau nulis atau ngeberitain yang baik-baik tentang film kita? Enggak kan?

Sempet ketawa kecil dengar kalimat itu, padahal dalam hati sih deg banget. Saya udah sering datang ke screening atau gala premiere film yang penuh dengan wartawan/wati media cetak maupun online. Kita emang dikasih makan enak sih. Mungkin ini karena kebiasaan. Pihak dari film takut kalau filmnya gak diberitakan, makanya para wartawan/wati dikasih makan (ah, kalau saya sih sebenarnya gak ngaruh dikasih makan juga. Karena saya kan cuma ngereview filmnya. Kalau filmnya gak bagus, ya saya bilang gak bagus). :p

Mungkin inilah jawaban kenapa film-film dengan budget kecil banyak yang kurang laku.

Dan inilah mengapa film Killers gak ada gala premiere-nya. Saya sempat dengar dari Kak Jeffrey kenapa Killers gak ada gala premiere, kata Timo sih gak guna dan buang-buang uang. Hahaha... Bener juga sih. Gala premiere kan cuma didatangi cast & crew, wartawan, dan beberapa orang yang beruntung bisa nonton gratis gegara ikutan kuis di socmed (ini sih saya banget). :p


Bersama Oka Antara. Kyaaa!

Kiri-kanan: Saya, Kahfi, Vania, dan Hannah Al Rashid.

After gathering. Abis bantuin beres-beres (efek JiFFest) :p

Ah! Pokoknya mah seru banget bisa bincang-bincang sama mereka. Kita bisa tau dibalik pembuatan film Killers. Kita juga sempat tanya-jawab dan banyak pertanyaan yang mengundang tawa. Saya bersyukur bisa datang ke acara gathering ini dan saya juga bersyukur bisa jadi salah satu Youth Ambassadornya Killers. Pengalaman yang gak terlupakan banget!

@theaarbar

Sunday, November 17, 2013

Pop Up Cinema & Retrospective Bong Joon-ho JiFFest

Hari ini ngevolunteer lagi!

Hari ini spesial karena akan ada Indonesia Filmmakers Gathering dan special screening Snowpiercer dan lebih spesial lagi karena kita udah stand by dari pukul 13.00 WIB!

Mulai dari pukul 13.00 WIB, kita briefing sampe benar-benar paham dengan kerjaan masing-masing daaan hari ini (akhirnya) para volunteer dapat name tag! Yay! (Kenapa baru dapat name tag sekarang? Karena baru jadi hari ini juga).

Atas: Danu, saya, Kahfi, Vania, Grace, Fahmi.
Bawah: Rino, Levi, Kak Adis, dan Wildan.

Yay! My name!

By the way, saya punya teman-teman baru, yaitu para volunteer JiFFest juga. Mereka adalah Vania Ivena, Grace Esther, Wildan Ramadhan, Rino Sriwijaya, Fahmy Siddiq, Rizky Danurwindo, dan Fahlevi Andika Putra. Dan kita langsung akrab padahal baru pertama kali ketemu lho! :')

Hari ini sebelum mulai kerja, saya, Vania, Grace, Kahfi, dan Levi late lunch di Yoshinoya. Kita banyak ngobrol-ngobrol sampai Kak Jeffrey nelponin Vania buat cepet-cepet balik ke Blitzmegaplex. Duh sabar dong Kak Jeff. :p

Kerjaan saya hari ini adalah stay di depan Blitzmegaplex Grand Indonesia sambil bawa-bawa pamflet JiFFest buat dibagiin ke orang-orang yang lalu lalang daaan menjadi guide bagi para undangan Indonesia Filmmakers Gathering (yang gak tau tempat registrasi gatheringnya dimana).

Ada moment lucu dimana salah satu undangan Indonesia Filmmakers Gathering adalah orang bule. Dia kelihatan kebingungan gitu sambil bawa-bawa undangan IFG. Dengan takut-takut saya ngedatengin dia.

Saya yang gak pandai berbahasa Inggris cuma nyapa dia dengan 'excuse me'. Dan betapa speechless-nya saya, TERNYATA ORANG BULE ITU LANCAR BERBAHASA INDONESIA. Astaga... :')

By the way, yang diputar di Pop Up Cinema itu adalah Cinema Shorts: Doc is Doc, yaitu kumpulan film dokumenter pendek. Film-film dokumenter itu adalah; Bukit Bernyawa, Epic Java, Komedi Coklat, Grady Sang Penyembuh, dan Selamat Tinggal Sekolahku.

Sedangkan untuk Retrospective Bong Joon-ho, yang diputar adalah film-film berjudul The Host, Mother, dan special screening Snowpiercer (invitation only)!

Tadinya saya mau nonton Epic Java, tapi sayang sekali seat di GIK penuh, jadinya saya nonton Snowpiercer aja di Blitzmegaplex bareng volunteer yang lainnya.

Film Snowpiercer keren! 

Eh, kalau dipikir-pikir, saya ini kerja atau enggak sih? Rasanya saya kebanyakan mainnya deh daripada kerjanya. Hihihi... Ternyata emang enak banget kalo ngevolunteer di acara JiFFest.

Dan hari ini saya pulang bareng Grace. Ternyata Grace ngekost di deket UI (soalnya dia kuliah di UI). Wuih... Alhamdulillah ternyata ada yang searah. Hahaha...

Hari ini menyenangkan!

@theaarbar

Friday, November 15, 2013

Pop Up Cinema JiFFest

Hari ini adalah hari pertama saya ngevolunteer di JiFFest dan partner saya hari ini adalah Kahfi Ramadhan (@kafkahfi). Ada yang familiar sama dia? Mungkin ada. Soalnya doi seleb tweet gitu deh karena followersnya 7 ribu keatas, kalau kata Kak Jeffrey sih. :p

Hari ini saya sudah stand by di Galeri Indonesia Kaya (GIK), Grand Indonesia (sebelah Blitzmegaplex) dari pukul 14.00 WIB. Saya agak telat beberapa menit sih tapi ternyata masih sepi banget. 

Saya bingung kenapa masih sepi. Akhirnya saya WA Kak Jeffrey dan katanya, Kak Nana udah sampai di sana. Saya langsung menghubungi Kak Nana. Sambil nungguin Kak Nana naik ke atas, saya duduk-duduk di depan Blitzmegaplex.

By the way, saat itu saya belum kenal sama Kahfi lho (karena briefing saya dan dia berbeda waktunya).

Akhirnya Kak Nana datang dan kami langsung di briefing lagi. Saya sedikit gelagapan ditanyain soal jadwal JiFFest. Soalnya saya agak lupa-lupa (padahal kemarin saya baru aja di back office dan ngetweet tentang Pop Up Festival di akun JiFFest).

Yang semula saya mau ditaruh di meja registrasi, akhirnya gak jadi gara-gara saya masih belum hafal jadwal JiFFest. Duh... Malu-maluin ah.

Kalau kerjaan Kahfi sih jadi MC di setiap pertunjukan. Dia kelihatan gemeteran pas pertama kali ngomong diatas panggung. Saya sih cuma ketawa kecil dan bersyukur karena gak terpilih menjadi MC. Soalnya gue gak bisa ngomong di depan orang banyak. Alhamdulillah banget!

Hari ini ada tiga film yang diputar. Ada Elesan Deq A Tutuq (Jejak Yang Tidak Berhenti) karya Syaiful Anwar, Mangga Golek Matang di Pohon (The Mangoes) karya Tonny Trimarsanto, dan Toilet Blues karya Dirmawan Hatta.

For your info, film Toilet Blues adalah film dengan penonton terbanyak. Gila!

By the way, kerjaan saya hari ini (akhirnya) cuma ngambilin ID Card GIK (sambil terus-terusan bilang 'Terima kasih' sampai penontonnya keluar semua) di pintu keluar auditorium. Hahaha...

Ini nih ID Cardnya GIK

Mbak Shanty, founder JiFFest, lagi di wawancara sama SCTV

Karena kerjaan saya mudah dan tidak makan banyak waktu, saya dan Kahfi banyak main di Galeri Indonesia Kaya. Seru banget! GIK tuh kayak @America tapi versi Indonesianya. Keren banget deh! Selain masuknya gratis, di tiap weekend, GIK pasti ngadain acara di auditorium-nya. Entah pertunjukan theater, pertunjukan musik atau film. Wajib main ke sini!

Hari ini rapi sekali...

Sayangnya 'display only'. Padahal lucu banget!

Hari ini pakai tali sepatu keberuntungan!

Setelah selesai main-main, saya dan Kahfi dikasih waktu makan malam (sendiri-sendiri) dan dikasih uang 20 ribu/orang. Saya sama Kahfi bingung. Di GI, mau makan apa dengan uang 20 ribu? Akhirnya Saya dan Kahfi mutusin makan di Yoshinoya yang makanannya paling murah (setidaknya tidak hampir 30 ribu).

Setalah acara ini selesai, kami pulang ke rumah masing-masing dan siap ngevolunteerin lagi lusa nanti. Hehehe...

See ya!

@theaarbar

Monday, July 29, 2013

Tuesday, September 25, 2012

Hello, m&c!

Waktu terus bergulir dengan cepat. Tanpa disadari, saya sudah membaca ratusan komik di dalam hidup saya. Begitu banyak cerita manga yang sudah saya baca (dan sering saya baca berulang-ulang) sehingga saya (sangat) hafal cerita-cerita manga itu diluar kepala.

Kalau tidak salah saya mulai membaca komik dari SD. Waktu itu saya masih membaca komik Donal Bebek terbitan m&c! dan saat SMP saya mulai membaca komik-komik shoujo yang ceritanya bikin deg-degan dan bikin senyum-senyum sendiri saat membacanya. Mangaka favorit saya dari dulu adalah Usami Maki dan Arai Kiyoko.

Waktu SMP yang suka membeli komik terbitan m&c! adalah kakak perempuan saya. Saya tertular kebiasaannya yang suka membeli komik. Dan saat kelas 9 SMP menuju kelas 10 SMA, saya mulai membiasakan menyisikan uang saku untuk membeli komik.

Kadang-kadang saya tidak jajan dan membawa bekal sendiri atau jalan kaki menuju sekolah agar uang saku saya utuh dan bisa membeli banyak komik.

Komik adalah harta saya yang paling berharga. Saya tidak mau lagi meminjami komik-komik saya. Pernah sekali kakak perempuan saya meminjami komik saya kepada temannya. Namun berbulan-bulan komik yang berjudul A Heart for Money karya Usami Tae tidak kembali kepada saya.

Saya marah besar sama kakak perempuan saya.

Saya berharap komik itu bisa re-stock lagi (soalnya waktu itu sudah tidak ada di toko buku). Dan akhirnya cetakan keduanya terbit tahun ini dan saya langsung membelinya! Bahagia banget saya waktu itu :')

Sekarang total komik terbitan m&c! di lemari buku saya, kurang-lebih 327 buah. Komik one-shot ada (kurang-lebih) 184 buah, sisanya komik-komik bersambung.

Koleksi komik terbitan m&c! :)

Selain membeli komik-komik shoujo, saya juga membeli komik shonen Bleach karya Tite Kubo. Saya suka banget sama komik ini. Suka banget sama Toushirou Hitsugaya :p

Kenapa saya suka membeli komik terbitan m&c!? Itu karena kualitas komiknya yang oke punya. Walaupun harganya makin lama makin mahal, saya tetap setia membeli komik terbitan m&c!. Selain itu m&c! banyak nerbitin komik-komik karya Yasuko, Shiiba Nana, Kayoru, Aikawa Saki, Konno Risa, Kawamaru Shin, Shiumi Saki, Chiba Kozue, dan masih banyak lagi.

Oiya, saya suka sama artwork-nya Chiaki Karasawa, tolong terbitin komik dia lagi ya, m&c! ;)

Akhir kata, terima kasih banyak untuk m&c! yang telah banyak menerbitkan komik-komik bagus dan berkualitas. Saya cinta banget sama komik-komik terbitan m&c!

With love from manga addict,
@theaarbar

Thursday, May 10, 2012

Workshop L.A Lights Indie Movie 2012 - Jakarta


Tik... Tok... Tik... Tok...

Kebiasaan buruk gue selama ini adalah: bergadang dan bangun (ke)siangan dan telat.

Dan hari ini adalah hari penting buat gue. Ya! Gue hari ini ikut Workshop L.A Indiemovie 2012. Gue baru pertama kali ikut workshop film dan workshop ini sangat penting buat gue. Gue harus nambah ilmu perfilman gue. Karena sampai detik ini, gue masih gak diizinin untuk terjun ke dunia perfilman.

Mama mau semua anaknya kerja kantoran. Sedangkan gue gak suka kerja kantoran. Say sorry for my Mom and my Dad, gue akan terus kejar passion gue walau gak ada restu dari kalian.

Back to the topic.

HARI INI GUE TELAT BANGUN! Dan gue telat datang ke acara Workshop L.A Indiemovie 2012 di PPHUI Kuningan, Jakarta!

Bangun-bangun gue langsung berlari ke kamar mandi. Mau nangis rasanya. Mbak Ros yang masih ada di rumah langsung bantuin gue menyiapkan semua yang mau gue pakai hari ini. Oops! Sorry, gue bukan anak manja. Kalau kepepet, Mbak Ros emang pasti bantuin gue sambil marah-marah (Yay! Mbak Ros itu tukang marah-marah tapi alhamdulillah kerjanya bagus).

Setelah selesai ini-itu, gue langsung telpon Pak Yusuf. Sudah dua kali gue pakai jasa ojeg beliau (yang pertama bisa baca disini). Pak Yusuf udah stay di depan ITC (fyi, beliau baru aja nganterin penumpang yang lain ke Cinere). Dan dengan cepat pak Yusuf nganterin gue ke PPHUI Kuningan, Jakarta.

Gue tau bakal telat banget. Acara mulai jam 10 dan gue masih dijalan. Gue rasa bakal telat banget. Dan benar saja! Telat 30 menit! Tapi untungnya masih keburu.

Gue masuk ke dalam hall PPHUI dan langsung ditunjukin tempat duduk baris dua dari depan! Oh! Thank you, God! Gue telat 30 menit dan gue dapat tempat duduk baris dua dari depan! Awesome!

Pembicara sesi pertama adalah Riri Riza dan Nur Hidayat (Mas Mono, DOP). It's awesome moment dimana gue bisa lihat dan bisa berada di satu ruangan bersama sutradara dan DOP terkenal! Di sesi pertama ini kita ngomongin The Script Battle: The Scriptwriter vs The Audience, dimana sang penulis skenario harus bisa membawa penontonnya masuk kedalam cerita yang ia buat. Dan di sesi ini, Riri Riza membuat skenario pendek dan membuat sebuah area syuting diatas panggung. Awesome banget!

Skenario super pendek itu dibintangi oleh Prisia Nasution (pemain FTV) dan Lukman Sardi. Kyaaaa! Prisia aslinya cantik banget dan Lukman Sardi benar-benar keren.

Kemudian sesi kedua ada seorang visual effects artist yang-saya-lupa-namanya, menjelaskan tentang bagaimana proses kreatif membuat video yang memakai visual effects, mulai dari ide sampai eksekusi hingga hasil akhir. Dan talkshow ini asik banget. Ternyata untuk bikin video yang pakai visual effect 30 detik aja, para visual effects artist ini harus memakan waktu 3 bulan atau lebih. Cool!

Kemudian sesi terakhir ada Professor Richard Krevolin (yang nyentrik abis) ngomongin cara mengangkat ide menjadi sebuah skenario. Sesi terakhir ini benar-benar membantu gue banget. Ternyata ada step by step cara mengangkat ide menjadi sebuah skenario. Awesome! Sangat membantu gue banget!

Oiya, di acara ini kita dikasih makan siang lho! Asik banget!


Asli, enak! (soalnya gue lagi laper)

Setelah itu gue pulang ke rumah dengan sebuah pelajaran yang gak bisa dilupakan dan harus segera di terapkan dalam pembuatan film-film gue nanti.

Semoga perjalanan gue menuju kursi sang sutradara pro bisa segera terealisasikan. Amin.

@theaarbar