Showing posts with label Events. Show all posts
Showing posts with label Events. Show all posts

Sunday, August 12, 2018

Hangat dan Intim dalam Konser Phum Viphurit Live in JKT


Phum Viphurit.

Setelah energi penonton hampir terkuras atas penampilan dua band pembuka, Circarama dan Polka Wars yang cukup mengebu-gebu, kini giliran Phum Viphurit beserta anggota band lainnya naik ke atas panggung yang tingginya kurang lebih hanya 60 cm.

Phum naik ke atas panggung dari sisi kanan penonton. Teriakan histeris dari penggemar yang didominasi oleh perempuan memenuhi ballroom Hotel Grand Kemang, Sabtu (11/8) malam. Mungkin bahagia karena bisa menyaksikan langsung pertunjukan si ‘Lover Boy’.

Hello! Selamat malam, everybody,” sapa Phum sesaat setelah naik ke atas panggung.

Hari itu, musisi kelahiran Thailand yang dibesarkan di Selandia Baru sejak usia 9 tahun tersebut mengenakan pakaian yang cukup santai; kaos hitam ‘Damn! I Love Indonesia’ pemberian salah satu penggemar yang sempat ikut meet and greet, celana panjang garis-garis gradasi abu-abu putih yang digulung, kaos kaki warna merah dengan sepatu Converse krem putih, serta jam tangan Casio warna emas.

Senyuman manis dengan gigi berbehel dari penyanyi bernama asli Viphurit Siritip ini tidak pernah hilang. Bersama dengan anggota band lainnya; Tanapon Santiwattana sebagai bassist, Chen-An Wu sebagai gitaris, dan Ormfu pada drum, Phum langsung membawakan lagu ‘Stranger in a Dream’.

Sesaat, Phum terlihat seperti kaget saat mendengar seluruh penonton sing-along dan hafal lirik lagunya. Lagi-lagi senyum manisnya masih saja menempel di wajahnya. Setelah lagu ‘Stranger in a Dream’, pria yang kini berusia 23 tahun tersebut langsung membawakan ‘Paper Throne’ dan ‘Trial and Error’.

Tiba-tiba, Phum meminta salah satu penonton untuk berpartisipasi dalam lagu ‘The Art of Detaching One’s Heart’. Semua penonton, mayoritas perempuan, mengangkat tangannya agar dapat dipilih untuk bernyanyi bersama. Mengingat lagu ‘The Art of Detaching One’s Heart’ merupakan kolaborasi antara Phum dan Jennifer Lackgren dari Jenny & The Scallywags, ia ingin lirik bagian Jennifer dinyanyikan oleh salah satu penggemarnya.

Phum terlihat kewalahan, dan akhirnya memutuskan untuk menarik salah satu penonton dari barisan paling depan. Penggemar yang dipilih Phum adalah perempuan berhijab bernama Audia. Di atas panggung, Audia itu menyanyikan lirik bagian Jennifer dengan kaku dan seakan tak percaya ia bisa satu panggung dengan Phum. Ini seperti ‘One Less Lonely Girl’-nya Justin Bieber, yang membuat penonton lainnya iri.

Setelahnya, pria yang memiliki tinggi kurang lebih 185 cm itu sempat berkata turut berduka cita atas bencana alam gempa yang terjadi di Lombok dan Bali beberapa waktu lalu. Untuk itu, Phum langsung memperkenalkan bassistnya, Tanapon untuk memperlihatkan kemampuan beatboxnya.

Tanpa ragu, Tanapon memperlihatkan kemampuan beatboxnya yang pernah mendapatkan penghargaan. Mungkin semua orang yang ada di dalam ruangan itu terkejut dengan pertunjukan tersebut.

Okay, I can leave you now,” canda Phum setelah Tanapon selesai ber-beatbox-ria.

Yang ditunggu-tunggu, akhirnya Phum membawakan ‘Lover Boy’ dan dilanjut dengan ‘Beg’. Sebelum mulai membawakan ‘Beg’, Phum bercerita bahwa lagu ini mengenai kisah cintanya yang ditolak oleh teman perempuannya di Selandia Baru. Setelah ditolak, Phum yang baru berusia 18 tahun saat itu langsung buat lagu ‘Beg’ dalam waktu dua hari.

She’s doesn’t like me, and now she’s engaged,” ungkapnya, disusul koor kekecewaan penonton.

Kemudian Phum bawakan ‘Sweet Hurricane’, single pertamanya berjudul ‘Adore’ yang diberikan sentuhan musik reggae diakhir pertunjukan, dan lagu ‘Long Gone’ sebagai penutup konser hangat dan intim ini.

This is last song for tonight, see you next time!” ujar Phum.

Selesai bawakan ‘Long Gone’, Phum menyuruh semua penonton maju ke depan untuk direkam. Barikade tiang pembatas pita yang sering digunakan di bank langsung copot, membuat penonton membludak maju ke depan panggung. Suasana cukup chaos, Phum yang saat itu sedang berkeringat langsung dipeluk oleh beberapa penggemar. Tak hanya Phum, ketiga anggota bandnya pun tidak luput dari serbuan penonton.

Karena tidak ingin ada ‘korban’, pihak sekuriti dan pihak promotor Lokatara Live langsung menyelamatkan Phum, meninggalkan ketiga anggota band yang masih diserbu.

Malam itu, Phum membawakan semua lagu yang ada dalam album pertamanya, ‘Manchild’ (2017). Mungkin akan ada beberapa penonton yang kecewa karena Phum tidak berbicara dalam Bahasa Thailand, malah berbicara bahasa Inggris sebagai bahasa pertamanya. Dilansir dari berbagai hasil wawancara, Phum memang lebih nyaman menggunakan bahasa Inggris saat menulis dan menyanyikan lagu.

Lagu-lagu yang ia tulis, ia sebut sebagai ‘sunshine music’ karena sebagian besar liriknya berdasarkan perasaan dan emosi yang muncul ketika ia menulis dan mengaransemen lagu.

Dilansir dari Time Out Bangkok, Phum rencananya akan mengeluarkan album kedua pada kuartal ketiga tahun ini. Menurutnya, album kedua ini akan sedikit berbeda dari yang pertama, yang melibatkan melodi sedih dan skenario buruk kehidupan. Pada album kedua, isinya akan fokus pada hal-hal menyenangkan dan orang-orang yang ia temui dalam kehidupan.

Sebelumnya, Circarama dan Polka Wars jadi band pembuka pertunjukan Phum Viphurit Live in Jakarta.

Circarama.

Band asal Jakarta, Circarama membawakan lima lagu dari album pertamanya, ‘Plasticine Jewel’ (2017), yaitu ‘Empty Room’, ‘I Don’t Mind’, ‘Apple Queen’, ‘Sweet Shining’, dan ‘Porcelain Sky’.

Sedangkan Polka Wars membawakan beberapa lagu, yaitu ‘Horse’s Hooves’, ‘Coraline’, ‘Seek’, ‘Mapan’, ‘Rekam Jejak’, ‘Rangkum’, dan ‘Mokelé’ yang masing-masing diambil dari album ‘Axis Mundi’ (2015), ‘EP/NY’ (2017), dan single terbaru mereke: ‘Mapan’ serta ‘Rekam Jejak’.

Polka Wars.

“(Konser ini) pas nih untuk menyambut Asian Games (karena ada kolaborasi antara Indonesia dan Thailand),” ujar vokalis sekaligus gitaris Polka Wars, Karaeng Adjie.

Tidak hanya membawakan lagu-lagu lamanya, Polka Wars juga sempat membawakan lagu baru yang belum dirilis berjudul ‘Mandiri’. Yang spesial kali ini, Karaeng menyanyikan lagu ini sendiri tanpa bantuan ketiga personil lainnya, gitaris Billy Aulia Saleh, bassist Xandega Tahajuansya, dan drummer Giovanni Rahmadeva. Jika dilihat dari lirik yang diyanyikan, lagu ‘Mandiri’ berkisah mengenai patah hati yang belum sembuh.

Circarama dan Polka Wars sendiri merupakan band beranggotakan masing-masing empat orang yang berasal dari Jakarta.

Circarama berisi anggota; Jugo Djarot pada gitar dan vokal, Faiz Mochamad pada gitar, Teuku RIfaldi pada bass, dan Eki Yuda Sena pada drum. Musik mereka bergenre sekiranya psychedelic, folk, ambient, dan rock. Namun sebagai grup musik, mereka enggan melabeli diri mereka sebagai band dengan satu genre tertentu. Menurut mereka, hanya orang-orang yang sudah mendengarkan musik mereka yang bisa ‘melabeli’nya.

Lain lagi dengan Polka Wars, yang anggotanya merupakan lulusan sekolah Islami. Pada 2015, mereka sempat memenangkan kompetisi yang disponsori Converse, yang hadiahnya berupa kesempatan rekaman di Converse Rubber Tracks Studio, Brooklyn, New York, Amerika Serikat. Pada album ‘Axis Mundi’, semua lirik ditulis dalam Bahasa Inggris. Namun, baru-baru ini, setelah merilis lagu ‘Rangkum’, Polka Wars mulai memproduksi lagu dalam Bahasa Indonesia.

PS: postingan ini sempat tayang menjadi dua artikel di UrbanAsia dengan judul 'Circarama dan Polka Wars Buka Pertunjukan Phum Viphurit Live in Jakarta' dan 'Konser Phum Viphurit Live in Jakarta: Hangat dan Intim'.

Wednesday, November 30, 2016

[Live] The Sounds Project Vol. 2

Musik Gunadarma: The Sounds Project Vol. 2 at Gudang Sarinah Ekosistem, Jakarta Selatan (November 25, 2016). Recording with Apple iPhone SE and editing with Adobe Premiere Pro CS6.

Line-up on playlist: Maliq & D'essentials, The Adams, The Trees and The Wild, White Shoes and The Couples Company, and Barasuara.

Enjoy!

Saturday, November 19, 2016

The Trees & The Wild: I'll Believe In Anything Tour Jakarta

The Trees and The Wild: I'll Believe In Anything Tour
(ki-ka) Andra, Innu, Tyo, Remedy, dan Tamy.
Pic from here.

Ada kabar gembira! 
Band favorit asal Bekasi yang belum lama ini mengeluarkan album kedua setelah 7 tahun hiatus akan mengadakan konser tunggal!

The Trees and The Wild (atau Trees & Wild, disingkat TTATW) akan mengadakan konser tunggal bertajuk I'll Believe In Anything Tour bekerjasama dengan Institut Français d'Indonésie (IFI) di Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. Tour ini diadakan dalam rangka rilisnya album Zaman, Zaman pada September lalu.

Harga tiket tournya pun bisa dibilang 'memuaskan' kok. Dengan HTM 120 ribu rupiah, kalian akan dapat satu album Zaman, Zaman dalam bentuk kaset. Iya, kaset! Kabarnya kaset ini hanya diproduksi untuk acara I'll Believe In Anything Tour aja. Super eksklusif!

Awalnya pihak SRM Band Management hanya mengadakan satu kali show di IFI Jakarta. Waktu show bertambah seiring dengan meningkatnya antusias penikmat musik The Trees and The Wild. Ada early show mulai pukul 14.00 - 16.00 WIB dan late show mulai pukul 16.00 - 18.00 WIB. Saya tetap menonton mereka saat late show. Maklum suka bangun siang, jadi tak akan sempat untuk nonton early show.


The Trees and The Wild's I'll Believe In Anything Tour.
Foto oleh Thea Arbar.

Antrian penonton late show sudah mengular dari pukul 15.20 WIB. Tetapi penonton early show baru keluar pukul 16.20 WIB, dan penonton late show baru bisa masuk ke auditorium pukul 16.30 WIB. Beruntung saya dapat tempat duduk dengan view yang ciamik, sehingga kelima personelnya terlihat dengan jelas dari atas panggung.

Opening act dibuka oleh Rangkai, duo yang baru berdiri selama 4 bulan. Saya lupa kedua nama personelnya karena terlalu fokus dengan 4 buah lagu yang mereka bawakan. Musik mereka enak didengar karena ada berbagai macam alat musik yang digunakan oleh mereka, salah satunya pianika dan harmonika. Mereka juga sangat interaktif dengan para penonton.


Rangkai membuka I'll Believe In Anything Tour.
Foto oleh Thea Arbar.

Setelah itu masuklah kelima personel The Trees and The Wild. Kali ini tanpa membawa botol/kaleng beer, dan hari ini Remedy (vocal) tampil rapi dengan mengenakan kemeja warna hitam. Saya kaget karena biasanya Remedy selalu mengenakan kaos seperti ketiga personel pria lainnya.

Ya, inilah yang saya tunggu-tunggu. Untuk memanaskan penjuru auditorium, tanpa basa-basi, band yang terbentuk tahun 2005 ini langsung membawakan Monumen disusul dengan Zaman, Zaman.

Saat auditorium mulai memanas oleh dua lagu tersebut, band yang beranggotakan lima orang ini membawakan lagu yang bertempo sedikit pelan, Srangan dan memanas kembali saat Tuah/Sebak dilantunkan.

Tiba-tiba kejutan dilancarkan setelah mereka membawakan Tuah/Sebak, REMEDY BERBICARA KEPADA PENONTON setelah roadman TTATW, Mas David membisikan sesuatu ke telinganya. Remedy berkata bahwa mixer mereka ngehang. Mereka perlu waktu 15 menit untuk mereset ulang mixer tersebut.

Ada alasan mengapa saya kaget mendengar Remedy berbicara kepada penonton ditengah-tengah show. Percaya atau tidak, selama ini mereka selalu membabat habis setlist sampai akhir TANPA PERNAH SEKALIPUN berbicara dengan penonton. Ini merupakan peristiwa yang langka!


The Trees and The Wild's I'll Believe In Anything Tour.
(ki-ka) Remedy, Andra, Tamy, Tyo, dan Innu.
Foto oleh Thea Arbar.

Dalam kurun waktu tersebut, Remedy mengajak keempat personel lainnya untuk membawakan Our Roots, salah satu lagu dalam album pertama mereka, Rasuk. Koor kegirangan penonton pecah. Saya merinding sendiri.

Selesai Our Roots dilantunkan, naik kembali Mas David ke atas panggung, membisikan sesuatu ke telinga Remedy. Setelah itu Remedy berinteraksi kembali ke penonton menanyakan lagu apa yang mau dibawakan selanjutnya. Saya berteriak "Irish Girl!" beberapa kali, tetapi kebanyakan penonton berteriak "Kata!" atau "Malino!".

Melodi Kata terdengar. Ah pupus harapan saya melihat mereka membawakan track favorit saya dari album Rasuk, Irish GirlTanpa jeda, band asal Bekasi ini langsung membawakan Saija. Sepertinya mixer mereka sudah berfungsi sebagaimana seharusnya.

Saija remuk, dan dia kan sadar yang tak diam dengannya hanya waktu.

Dilanjutkan dengan track favorit saya, Empati Tamako

Mereka akan berkata, kesedihanmu akan pergi terhempas angin selatan yang penuh debu, terbawa sampai ufuk timur terjauh.
Dan kau akan terdiam. Bertanya dalam hati kapan ini ‘kan berakhir dan terbawa sampai ufuk timur terjauh.
Dan kau pernah melangkahkan kaki dan sejengkal sadar dan melantunkan, "Terang yang kau dambakan, hilanglah semua yang kau tanya".

Empati Tamako menjadi penutup I'll Believe In Anything Tour di IFI Jakarta. Saya sempat kecewa karena Nyiur tidak dibawakan. Tetapi semua kekecewaan itu hilang tatkala saya dapat mewawancarai Remedy, Andra, dan Tyo secara eksklusif!

Tuesday, September 6, 2016

[Live] Efek Rumah Kaca: Tiba Tiba Suddenly Konser

Efek Rumah Kaca live at Tiba Tiba Suddenly Konser - Ruru Radio, Gudang Sarinah Ekosistem, Jl. Pancoran Timur II No. 4, Jakarta Selatan (September 6, 2016). Recording with Apple iPhone SE and editing with VideoShow app. Enjoy!

Wednesday, August 31, 2016

[Live] Road To Soundrenaline - Beer Brother Kemang

The Trees and The Wild live at Road to Soundrenaline - Beer Brother, Kemang (August 31, 2016). Recording with Apple iPhone SE and editing with VideoShow app. Enjoy!




Sunday, May 15, 2016

Barasuara: Taifun Tour 2016 di Jakarta

Barasuara: Taifun Tour 2016
(atas) Marco, TJ, Iga
(bawah) Asteriska, Gerald, Puti
Pic from here.

Saya lupa kapan pertama kalinya saya menonton live performance Barasuara. Yang saya ingat, saat itu Barasuara belum mengeluarkan album Taifun, tetapi musik mereka dengan hebatnya terngiang-ngiang di kepala saya.

Semenjak itu, saya selalu mencari tahu jadwal manggung mereka, menyaksikan video-video mereka di YouTube, dan menonton live performance mereka bersama sahabat-sahabat (yang juga menyukai musik mereka) bila sedang tidak sibuk dengan tugas-tugas kampus.

Selama dua minggu (2-15 Mei 2016), Barasuara menggelar tour pertama bertajuk Taifun Tour 2016 yang dipersembahkan oleh UrbanGiGs dan Juni Concert. Taifun Tour 2016 ini menyambangi enam kota di Pulau Jawa, yaitu Yogyakarta, Malang, Surabaya, Solo, Bandung, dan berpuncak di Jakarta.

Saya dan sahabat saya, Amalia, bisa dibilang cukup beruntung dapat menyaksikan live performance Barasuara di Taifun Tour 2016. Kami sempat khawatir akan kehabisan tiket karena saat pertama kali Taifun Tour 2016 diumumkan, kami tidak punya uang sepeserpun untuk membeli tiket. Tetapi Tuhan berkata lain, saya dan Amalia dapat rejeki seminggu sebelum Taifun Tour 2016 di Jakarta digelar.

Pukul lima sore, setelah bermacet-ria dari Depok, saya dan Amalia mendarat dengan mulus di Gudang Sarinah, Pancoran Timur II, Jakarta Selatan. Sesampainya, kami langsung menukarkan nota dengan tiket dan menunggu open gate. Fyi, ini kedua kalinya saya dan Amalia datang ke Gudang Sarinah untuk menyaksikan gigs band-band indie Indonesia.

Barasuara: Taifun Tour 2016 tickets.

Barasuara: Taifun Tour 2016 gate.

Amalia and I, in front of Barasuara: Taifun Tour 2016 gate.

Saya tidak tahu apakah ini acara molor atau memang sengaja diplanning seperti itu, karena dikatakan open gate pukul 6, tapi kami terpaksa berbaris sambil berdiri selama sejam di depan gate dan baru bisa memasuki venue pukul 7 malam. Di dalam venue pun kami harus menunggu kembali selama 30 menit. Tapi, walaupun begitu, kami cukup beruntung bisa berdiri di barisan paling depan!

Barasuara: Taifun Tour 2016 stage.

Taifun Tour 2016 di Jakarta dimulai dengan naiknya dua drummer kakak-beradik Marco Steffiano dan Enrico Octaviano. Mereka memainkan drum dengan tempo yang hampir sama. Saya terpukau. Bisa dibilang ini family goal banget ya! Gila!

Kemudian naiklah Iga Massardi (vokal/gitar), Gerald Situmorang (bass/gitar), TJ Kusuma (gitar), Asteriska (vokal), dan Puti Chitara (vokal) ke atas panggung. Mereka berdiri di posisi masing-masing dan bersiap-siap. Kembang api air mancur yang menyala di panggung tanpa aba-aba menjadi pembuka lagu Hagia. 

Sempurna yang kau puja dan ayat-ayat yang kau baca, tak kurasa berbeda
Kita bebas untuk percaya
“Seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami”

Setelah Hagia selesai, dengan cepat mereka membawakan Nyala Suara yang membuat para penonton bernyanyi dan berjoget bersama. Gudang Sarinah memanas perlahan tapi pasti.

Baramu padam, baramu padam
Lara menyala tanpa suara
Bara dalam sekam
Kala merdeka ada suara
Riak melebur, peluh membaur
Karam dalam diam
Karam dalam bara dalam sekam

Barasuara: Taifun Tour 2016.

Selesai membawakan Nyala Suara, Iga Massardi, selaku ketua geng Barasuara, memberikan speech yang saya rasa sedikit agak ngaco. Setelah sadar speech yang dia bicarakan tadi agak ngaco, Iga langsung berkata, "Lagu selanjutnya..." yang kemudian dibalas dengan koor dari penonton. Tarintih dibawakan dengan enerjik oleh band ini. Saya dan seluruh penonton kembali bernyanyi dan berjoget bersama.

Keras serapah dari semua yang kau tahu
“Apapun yang kan kamu cari adalah bisikanku”
Tak engkau ingat tajam hujam aksaramu
“Tak kau tahu kau mau sandarkan di bahuku?”
Bertabur buih air mata yang terluka
Belati itu belati tebar pedih tebar perih
Berbunga bunga ketika lihatmu ada
Menari nari merintih redam sedih redam sedih
Terlambatkah sudah, surga di telapak kakimu?

Iga dan kawan-kawan Barasuara kembali membawakan speechnya dan mulai mengganti alat musik mereka dengan yang lain. Saya lupa mereka berbicara apa, karena saya fokus melihat Marco (yes! he's my favorite personil in Barasuara). Kemudian terdengar petikan gitar dari Gerald. Mereka membawakan Taifun yang (lagi-lagi) membuat penonton kompak bernyanyi bersama.

Di dalam hidup ada saat untuk berhati-hati atau berhenti berlari
Tawamu lepas dan tangis kau redam di dalam mimpi yang kau simpan sendiri
Sumpah serapah yang kau ucap tak kembali
Tak kembali
Semua harap yang terucap akan kembali
Akan kembali
Saat kau menerima dirimu dan berdamai dengan itu
Kau menari dengan waktu tanpa ragu yang membelenggu

Barasuara: Taifun Tour 2016.

Tanpa istirahat, mereka membawakan Mengunci Ingatan yang membuat saya dan (mungkin) beberapa penonton baper, karena liriknya yang agak menye-menye.

Sembuhkan lukamu yang membiru
Serpihan hatimu yang berdebu
Pagimu yang terluka
Malammu yang menyiksa
Hal yang ingin kau lupa
Justru semakin nyata
Mengunci ingatanmu
Menahan masa lalu
Memori yang membisu
Harapan yang berdebu

Setelah menye-menye dengan Mengunci Ingatan, Iga membuka speech lagi dan mereka akan membawakan lagu baru mereka yang berjudul Samara. Iga menyarankan para penonton untuk merekam Samara, agar fans Barasuara di kota lain (yang tidak termasuk dalam rangkaian Taifun Tour 2016) juga bisa menikmati lagu baru ini.

Senjamu yang kian temaram
Surya tenggelam kau tak padam
Senyummu dalam kegelapan
Tawanya larut dalam diam
Gelapmu jadi kediaman
Yang benderang yang kau harapkan
Di dalammu, di dalammu
Ada dendam melagu
Sinar terang yang kau harapkan
Senjamu yang kian temaram
Surya tenggelam kau tak padam
Gelapmu jadi kediaman
Di dalammu dendam melagu
Samara, Ani, Jiyana
Senjamu yang kian temaram
Surya tenggelam kau tak padam
Samara, Ani, Jiyana
Kita bisa tenggelam dan bisa padam
Atau bangkit berjalan lalu melawan


Menunggang Badai menjadi lagu selanjutnya yang dibawakan oleh Barasuara. Di lagu ini, penonton benar-benar diajak bernyanyi dan berjoget bersama di level yang lebih tinggi dari sebelumnya (tetapi untungnya tidak berakhir ricuh). Beberapa additional player dinaikan di panggung yang tingginya hanya sepinggang orang dewasa itu.

Di dalam mu dendam parah bersarang
Perih mencekam, perih mencekam
Pedih bersulang, pedih bersulang
Lara bersarang, lara bersarang
Dalam peraduan dendam mu meragu
Dalam perasaan diam mu memburu
Dalam kesunyian geram mu bertalu
Dalam keraguan lantas kau berseru

Istirahat sejenak, Iga dan kawan-kawan membacakan sticky notes yang sudah ditulis dan ditempel di papan dekat gate oleh para penonton sebelum acara mulai tadi. Sayang, saya dan Amalia tidak menulis apa-apa karena kami langsung masuk ke venue untuk mengincar barisan paling depan.

Gerald, Puti, dan Marco di Barasuara: Taifun Tour 2016.

"Gerald, ditunggu di kostan nanti!" kata Asteriska, membaca salah satu sticky notes. Asteriska sempat membacakan penulisnya, tetapi saya lupa namanya siapa.

"Buat [yang nulis di sticky notes tadi]. Nih!" kata Gerald sambil mengangkat kaos lincahnya, sehingga memperlihatkan perutnya. Penonton langsung memberikan koor kesenangan.

Marco telanjang dada sambil ngerekam video di Barasuara: Taifun Tour 2016! :'))

Sendu Melagu langsung dimainkan. Penonton berjoget dan bernyanyi bersama kembali. By the way, saya suka sekali permainan drum Marco di lagu ini. Top banget!

Semua yang kau rindu
Semua menjadi abu
Langkahmu tak berkawan
Kau telah sia siakan
Waktu yang kau tahu
Waktu yang berlalu
Ingatmu kau merayu
Ingatnya kau berlalu
Sendu melagu

Api & Lentera menjadi lagu selanjutnya yang dibawakan dengan enerjik oleh Barasuara. Kita, para penonton, lagi-lagi diajak bernyanyi dan berjoget bersama di level yang lebih tinggi dari sebelumnya, dan lagi-lagi permainan drum Marco di lagu ini membuat saya terpesona. Duh, Marco!

Lepaskan rantai yang membelenggu
Nyalakan api dan lenteramu
Sampaikan mereka bara dan suara
Berlalu, lalu kini kau menunggu
Serap seram di pundakmu
Lambat laun kan menari, kan berlari
Memori yang dulu kau hapuskan akan berlari
Saranku kau berhenti menyiksa diri
Waktu yang akan mengobatimu
Yang kau perlu kau mendewasakan itu
Kita kan pulang dengan waktu yang terbuang
Dan kenangan yang berjalan bersama

Bahas Bahasa menjadi lagu penutup yang benar-benar membuat kami, para penonton, puas dengan Taifun Tour 2016 di Jakarta ini. Apalagi ditambah dengan permainan drum kakak-beradik Marco dan Enrico yang super sekali.

O! Itu tak kau lihat tak kau ragu
Peluh dan peluru hujam memburu
Bahasamu bahas bahasanya
Lihat kau bicara dengan siapa
Lidah kian berlari tanpa henti
Tanpa disadari tak ada arti
Bahasamu bahas bahasanya
Lihat kau bicara dengan siapa
Makna – makna dalam aksara
Makna mana yang kita bela
Berlabuh lelahku
Di kelambu jiwamu

Para crew berfoto bersama di atas panggung Barasuara: Taifun Tour 2016.

Walaupun venuenya tidak terlalu besar, panas, dan penuh sesak, tapi kami puas. Terima kasih atas musik hebat kalian. Terima kasih atas joget-joget dan nyanyi bersama tadi. Terima kasih atas durasi satu setengah jam kurang yang sangat menghentak. Terima kasih Barasuara. Kalian hebat!

Sampai jumpa di gigs selanjutnya!