Showing posts with label Gigs Geek. Show all posts
Showing posts with label Gigs Geek. Show all posts

Sunday, August 12, 2018

Hangat dan Intim dalam Konser Phum Viphurit Live in JKT


Phum Viphurit.

Setelah energi penonton hampir terkuras atas penampilan dua band pembuka, Circarama dan Polka Wars yang cukup mengebu-gebu, kini giliran Phum Viphurit beserta anggota band lainnya naik ke atas panggung yang tingginya kurang lebih hanya 60 cm.

Phum naik ke atas panggung dari sisi kanan penonton. Teriakan histeris dari penggemar yang didominasi oleh perempuan memenuhi ballroom Hotel Grand Kemang, Sabtu (11/8) malam. Mungkin bahagia karena bisa menyaksikan langsung pertunjukan si ‘Lover Boy’.

Hello! Selamat malam, everybody,” sapa Phum sesaat setelah naik ke atas panggung.

Hari itu, musisi kelahiran Thailand yang dibesarkan di Selandia Baru sejak usia 9 tahun tersebut mengenakan pakaian yang cukup santai; kaos hitam ‘Damn! I Love Indonesia’ pemberian salah satu penggemar yang sempat ikut meet and greet, celana panjang garis-garis gradasi abu-abu putih yang digulung, kaos kaki warna merah dengan sepatu Converse krem putih, serta jam tangan Casio warna emas.

Senyuman manis dengan gigi berbehel dari penyanyi bernama asli Viphurit Siritip ini tidak pernah hilang. Bersama dengan anggota band lainnya; Tanapon Santiwattana sebagai bassist, Chen-An Wu sebagai gitaris, dan Ormfu pada drum, Phum langsung membawakan lagu ‘Stranger in a Dream’.

Sesaat, Phum terlihat seperti kaget saat mendengar seluruh penonton sing-along dan hafal lirik lagunya. Lagi-lagi senyum manisnya masih saja menempel di wajahnya. Setelah lagu ‘Stranger in a Dream’, pria yang kini berusia 23 tahun tersebut langsung membawakan ‘Paper Throne’ dan ‘Trial and Error’.

Tiba-tiba, Phum meminta salah satu penonton untuk berpartisipasi dalam lagu ‘The Art of Detaching One’s Heart’. Semua penonton, mayoritas perempuan, mengangkat tangannya agar dapat dipilih untuk bernyanyi bersama. Mengingat lagu ‘The Art of Detaching One’s Heart’ merupakan kolaborasi antara Phum dan Jennifer Lackgren dari Jenny & The Scallywags, ia ingin lirik bagian Jennifer dinyanyikan oleh salah satu penggemarnya.

Phum terlihat kewalahan, dan akhirnya memutuskan untuk menarik salah satu penonton dari barisan paling depan. Penggemar yang dipilih Phum adalah perempuan berhijab bernama Audia. Di atas panggung, Audia itu menyanyikan lirik bagian Jennifer dengan kaku dan seakan tak percaya ia bisa satu panggung dengan Phum. Ini seperti ‘One Less Lonely Girl’-nya Justin Bieber, yang membuat penonton lainnya iri.

Setelahnya, pria yang memiliki tinggi kurang lebih 185 cm itu sempat berkata turut berduka cita atas bencana alam gempa yang terjadi di Lombok dan Bali beberapa waktu lalu. Untuk itu, Phum langsung memperkenalkan bassistnya, Tanapon untuk memperlihatkan kemampuan beatboxnya.

Tanpa ragu, Tanapon memperlihatkan kemampuan beatboxnya yang pernah mendapatkan penghargaan. Mungkin semua orang yang ada di dalam ruangan itu terkejut dengan pertunjukan tersebut.

Okay, I can leave you now,” canda Phum setelah Tanapon selesai ber-beatbox-ria.

Yang ditunggu-tunggu, akhirnya Phum membawakan ‘Lover Boy’ dan dilanjut dengan ‘Beg’. Sebelum mulai membawakan ‘Beg’, Phum bercerita bahwa lagu ini mengenai kisah cintanya yang ditolak oleh teman perempuannya di Selandia Baru. Setelah ditolak, Phum yang baru berusia 18 tahun saat itu langsung buat lagu ‘Beg’ dalam waktu dua hari.

She’s doesn’t like me, and now she’s engaged,” ungkapnya, disusul koor kekecewaan penonton.

Kemudian Phum bawakan ‘Sweet Hurricane’, single pertamanya berjudul ‘Adore’ yang diberikan sentuhan musik reggae diakhir pertunjukan, dan lagu ‘Long Gone’ sebagai penutup konser hangat dan intim ini.

This is last song for tonight, see you next time!” ujar Phum.

Selesai bawakan ‘Long Gone’, Phum menyuruh semua penonton maju ke depan untuk direkam. Barikade tiang pembatas pita yang sering digunakan di bank langsung copot, membuat penonton membludak maju ke depan panggung. Suasana cukup chaos, Phum yang saat itu sedang berkeringat langsung dipeluk oleh beberapa penggemar. Tak hanya Phum, ketiga anggota bandnya pun tidak luput dari serbuan penonton.

Karena tidak ingin ada ‘korban’, pihak sekuriti dan pihak promotor Lokatara Live langsung menyelamatkan Phum, meninggalkan ketiga anggota band yang masih diserbu.

Malam itu, Phum membawakan semua lagu yang ada dalam album pertamanya, ‘Manchild’ (2017). Mungkin akan ada beberapa penonton yang kecewa karena Phum tidak berbicara dalam Bahasa Thailand, malah berbicara bahasa Inggris sebagai bahasa pertamanya. Dilansir dari berbagai hasil wawancara, Phum memang lebih nyaman menggunakan bahasa Inggris saat menulis dan menyanyikan lagu.

Lagu-lagu yang ia tulis, ia sebut sebagai ‘sunshine music’ karena sebagian besar liriknya berdasarkan perasaan dan emosi yang muncul ketika ia menulis dan mengaransemen lagu.

Dilansir dari Time Out Bangkok, Phum rencananya akan mengeluarkan album kedua pada kuartal ketiga tahun ini. Menurutnya, album kedua ini akan sedikit berbeda dari yang pertama, yang melibatkan melodi sedih dan skenario buruk kehidupan. Pada album kedua, isinya akan fokus pada hal-hal menyenangkan dan orang-orang yang ia temui dalam kehidupan.

Sebelumnya, Circarama dan Polka Wars jadi band pembuka pertunjukan Phum Viphurit Live in Jakarta.

Circarama.

Band asal Jakarta, Circarama membawakan lima lagu dari album pertamanya, ‘Plasticine Jewel’ (2017), yaitu ‘Empty Room’, ‘I Don’t Mind’, ‘Apple Queen’, ‘Sweet Shining’, dan ‘Porcelain Sky’.

Sedangkan Polka Wars membawakan beberapa lagu, yaitu ‘Horse’s Hooves’, ‘Coraline’, ‘Seek’, ‘Mapan’, ‘Rekam Jejak’, ‘Rangkum’, dan ‘Mokelé’ yang masing-masing diambil dari album ‘Axis Mundi’ (2015), ‘EP/NY’ (2017), dan single terbaru mereke: ‘Mapan’ serta ‘Rekam Jejak’.

Polka Wars.

“(Konser ini) pas nih untuk menyambut Asian Games (karena ada kolaborasi antara Indonesia dan Thailand),” ujar vokalis sekaligus gitaris Polka Wars, Karaeng Adjie.

Tidak hanya membawakan lagu-lagu lamanya, Polka Wars juga sempat membawakan lagu baru yang belum dirilis berjudul ‘Mandiri’. Yang spesial kali ini, Karaeng menyanyikan lagu ini sendiri tanpa bantuan ketiga personil lainnya, gitaris Billy Aulia Saleh, bassist Xandega Tahajuansya, dan drummer Giovanni Rahmadeva. Jika dilihat dari lirik yang diyanyikan, lagu ‘Mandiri’ berkisah mengenai patah hati yang belum sembuh.

Circarama dan Polka Wars sendiri merupakan band beranggotakan masing-masing empat orang yang berasal dari Jakarta.

Circarama berisi anggota; Jugo Djarot pada gitar dan vokal, Faiz Mochamad pada gitar, Teuku RIfaldi pada bass, dan Eki Yuda Sena pada drum. Musik mereka bergenre sekiranya psychedelic, folk, ambient, dan rock. Namun sebagai grup musik, mereka enggan melabeli diri mereka sebagai band dengan satu genre tertentu. Menurut mereka, hanya orang-orang yang sudah mendengarkan musik mereka yang bisa ‘melabeli’nya.

Lain lagi dengan Polka Wars, yang anggotanya merupakan lulusan sekolah Islami. Pada 2015, mereka sempat memenangkan kompetisi yang disponsori Converse, yang hadiahnya berupa kesempatan rekaman di Converse Rubber Tracks Studio, Brooklyn, New York, Amerika Serikat. Pada album ‘Axis Mundi’, semua lirik ditulis dalam Bahasa Inggris. Namun, baru-baru ini, setelah merilis lagu ‘Rangkum’, Polka Wars mulai memproduksi lagu dalam Bahasa Indonesia.

PS: postingan ini sempat tayang menjadi dua artikel di UrbanAsia dengan judul 'Circarama dan Polka Wars Buka Pertunjukan Phum Viphurit Live in Jakarta' dan 'Konser Phum Viphurit Live in Jakarta: Hangat dan Intim'.

Thursday, December 29, 2016

The (Random) Talk: The Trees and The Wild

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan mewawancarai tiga personel dari band favorit asal Bekasi, The Trees and The Wild (Trees & Wild, disingkat TTATW). Band yang terbentuk tahun 2005 ini (akhirnya) mengadakan konser tunggal bertajuk I'll Believe In Anything Tour bekerjasama dengan Institut Français d'Indonésie (IFI) Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. Tour ini diadakan dalam rangka rilisnya album Zaman, Zaman pada September 2016 lalu.

Baca postingannya di sini.

Terima kasih tak terhingga untuk ketiga personel TTATW; Remedy Waloni, Andra Budi Kurniawan, Tyo Prasetya, dan camera person dadakan Alita Dantrie atas waktunya. Terima kasih banyak! 

Direkam di backstage auditorium Institut Français d'Indonésie (IFI) Jakarta pada Sabtu, 19 November 2016. Direkam menggunakan Apple iPhone SE. Diedit dengan Adobe Premiere Pro CS6.

Oiya, gunakan headphone/earphone saat menonton video ini ya!


Enjoy and happy new year 2017!

Wednesday, November 30, 2016

[Live] The Sounds Project Vol. 2

Musik Gunadarma: The Sounds Project Vol. 2 at Gudang Sarinah Ekosistem, Jakarta Selatan (November 25, 2016). Recording with Apple iPhone SE and editing with Adobe Premiere Pro CS6.

Line-up on playlist: Maliq & D'essentials, The Adams, The Trees and The Wild, White Shoes and The Couples Company, and Barasuara.

Enjoy!

Saturday, November 19, 2016

The Trees & The Wild: I'll Believe In Anything Tour Jakarta

The Trees and The Wild: I'll Believe In Anything Tour
(ki-ka) Andra, Innu, Tyo, Remedy, dan Tamy.
Pic from here.

Ada kabar gembira! 
Band favorit asal Bekasi yang belum lama ini mengeluarkan album kedua setelah 7 tahun hiatus akan mengadakan konser tunggal!

The Trees and The Wild (atau Trees & Wild, disingkat TTATW) akan mengadakan konser tunggal bertajuk I'll Believe In Anything Tour bekerjasama dengan Institut Français d'Indonésie (IFI) di Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. Tour ini diadakan dalam rangka rilisnya album Zaman, Zaman pada September lalu.

Harga tiket tournya pun bisa dibilang 'memuaskan' kok. Dengan HTM 120 ribu rupiah, kalian akan dapat satu album Zaman, Zaman dalam bentuk kaset. Iya, kaset! Kabarnya kaset ini hanya diproduksi untuk acara I'll Believe In Anything Tour aja. Super eksklusif!

Awalnya pihak SRM Band Management hanya mengadakan satu kali show di IFI Jakarta. Waktu show bertambah seiring dengan meningkatnya antusias penikmat musik The Trees and The Wild. Ada early show mulai pukul 14.00 - 16.00 WIB dan late show mulai pukul 16.00 - 18.00 WIB. Saya tetap menonton mereka saat late show. Maklum suka bangun siang, jadi tak akan sempat untuk nonton early show.


The Trees and The Wild's I'll Believe In Anything Tour.
Foto oleh Thea Arbar.

Antrian penonton late show sudah mengular dari pukul 15.20 WIB. Tetapi penonton early show baru keluar pukul 16.20 WIB, dan penonton late show baru bisa masuk ke auditorium pukul 16.30 WIB. Beruntung saya dapat tempat duduk dengan view yang ciamik, sehingga kelima personelnya terlihat dengan jelas dari atas panggung.

Opening act dibuka oleh Rangkai, duo yang baru berdiri selama 4 bulan. Saya lupa kedua nama personelnya karena terlalu fokus dengan 4 buah lagu yang mereka bawakan. Musik mereka enak didengar karena ada berbagai macam alat musik yang digunakan oleh mereka, salah satunya pianika dan harmonika. Mereka juga sangat interaktif dengan para penonton.


Rangkai membuka I'll Believe In Anything Tour.
Foto oleh Thea Arbar.

Setelah itu masuklah kelima personel The Trees and The Wild. Kali ini tanpa membawa botol/kaleng beer, dan hari ini Remedy (vocal) tampil rapi dengan mengenakan kemeja warna hitam. Saya kaget karena biasanya Remedy selalu mengenakan kaos seperti ketiga personel pria lainnya.

Ya, inilah yang saya tunggu-tunggu. Untuk memanaskan penjuru auditorium, tanpa basa-basi, band yang terbentuk tahun 2005 ini langsung membawakan Monumen disusul dengan Zaman, Zaman.

Saat auditorium mulai memanas oleh dua lagu tersebut, band yang beranggotakan lima orang ini membawakan lagu yang bertempo sedikit pelan, Srangan dan memanas kembali saat Tuah/Sebak dilantunkan.

Tiba-tiba kejutan dilancarkan setelah mereka membawakan Tuah/Sebak, REMEDY BERBICARA KEPADA PENONTON setelah roadman TTATW, Mas David membisikan sesuatu ke telinganya. Remedy berkata bahwa mixer mereka ngehang. Mereka perlu waktu 15 menit untuk mereset ulang mixer tersebut.

Ada alasan mengapa saya kaget mendengar Remedy berbicara kepada penonton ditengah-tengah show. Percaya atau tidak, selama ini mereka selalu membabat habis setlist sampai akhir TANPA PERNAH SEKALIPUN berbicara dengan penonton. Ini merupakan peristiwa yang langka!


The Trees and The Wild's I'll Believe In Anything Tour.
(ki-ka) Remedy, Andra, Tamy, Tyo, dan Innu.
Foto oleh Thea Arbar.

Dalam kurun waktu tersebut, Remedy mengajak keempat personel lainnya untuk membawakan Our Roots, salah satu lagu dalam album pertama mereka, Rasuk. Koor kegirangan penonton pecah. Saya merinding sendiri.

Selesai Our Roots dilantunkan, naik kembali Mas David ke atas panggung, membisikan sesuatu ke telinga Remedy. Setelah itu Remedy berinteraksi kembali ke penonton menanyakan lagu apa yang mau dibawakan selanjutnya. Saya berteriak "Irish Girl!" beberapa kali, tetapi kebanyakan penonton berteriak "Kata!" atau "Malino!".

Melodi Kata terdengar. Ah pupus harapan saya melihat mereka membawakan track favorit saya dari album Rasuk, Irish GirlTanpa jeda, band asal Bekasi ini langsung membawakan Saija. Sepertinya mixer mereka sudah berfungsi sebagaimana seharusnya.

Saija remuk, dan dia kan sadar yang tak diam dengannya hanya waktu.

Dilanjutkan dengan track favorit saya, Empati Tamako

Mereka akan berkata, kesedihanmu akan pergi terhempas angin selatan yang penuh debu, terbawa sampai ufuk timur terjauh.
Dan kau akan terdiam. Bertanya dalam hati kapan ini ‘kan berakhir dan terbawa sampai ufuk timur terjauh.
Dan kau pernah melangkahkan kaki dan sejengkal sadar dan melantunkan, "Terang yang kau dambakan, hilanglah semua yang kau tanya".

Empati Tamako menjadi penutup I'll Believe In Anything Tour di IFI Jakarta. Saya sempat kecewa karena Nyiur tidak dibawakan. Tetapi semua kekecewaan itu hilang tatkala saya dapat mewawancarai Remedy, Andra, dan Tyo secara eksklusif!

Sunday, December 20, 2015

Midnight Supper: The Trees and The Wild

Saya ingat betul seminggu sebelum acara ini berlangsung, saat malam yang dingin, salah satu teman saya, Amalia mengirim e-flyer mengenai acara ini. Jujur, saya benar-benar lupa mengenai The Trees and The Wild (TTATW) yang akan main tanggal 19 Desember. Padahal sebelumnya saya sudah melihat jadwal main yang mereka posting awal bulan Desember kemarin. Yah, namanya juga mahasiswi tingkat akhir ya, harus memikirkan revisi seminar yang tidak selesai-selesai.

Karena pada tanggal segitu saya libur, saya langsung cari tahu mengenai acara tersebut. Ternyata acara yang akan digelar di Kopitiam Tan, SCBD ini invitation only. Untungnya pembagian invitation yang diadakan di akun Instagram Kopitiam Tan belum tutup. Langsung deh saya daftar (saya juga menyuruh Amalia untuk ikutan daftar, jaga-jaga bila salah satu dari kami tidak berhasil mendapatkannya :p).

And lucky, I got the invitation. Satu invitation hanya berlaku untuk dua orang saja. Tentu saya mengajak Amalia untuk pergi, tetapi karena tiba-tiba anak kostan ini sakit, akhirnya saya pergi dengan teman saya yang lain, Fitria.

Sebenarnya hari itu saya capek berat karena hanya tidur sebentar dan dari subuh sudah harus pergi untuk ngevolunteer di acara Run For Your Lives Indonesia 2015 dan baru bisa pulang dari Ancol setelah magrib (seharusnya saya belum boleh pulang, tapi demi nonton TTATW, saya memelas untuk pulang duluan :p). Untung PIC saya baik banget. Terima kasih Kak Sandro! (abaikan paragraf ini) :'))

Acara Midnight Supper: The Trees and The Wild baru dimulai pukul 22.30 WIB. Band yang berasal dari Bekasi, Barefood, membuka acara dengan lagu-lagu mereka yang ciamik. Sempat mereka membawakan lagu milik musisi terkenal lainnya. Well, sejujurnya saya dan Fitria yang tadinya sudah nguap-nguap karena ngantuk, jadi semangat lagi setelah lihat salah satu personil Barefood bernama Ditto yang bentuknya geek-lucu-keren gitu. Iya, manusia yang bentuknya kayak gitu emang tipe kita banget. Kyaa!

Barefood. Btw, Ditto yang pakai kaos garis-garis :'))

Sejam kemudian, Barefood menyudahi permainan mereka. Agak gak rela melihat mereka selesai bermain, karena dengan begitu kami harus menyudahi kegiatan menatap Ditto.

By the way, saya agak sebal dengan TTATW karena persiapan panggung mereka lama sekali. Lebih dari 30 menit hanya untuk mengeset ulang panggung, tapi entah mengapa itulah yang saya suka dari TTATW.


Para kru sedang persiapan untuk TTATW

Panggung yang sudah siap diselimuti efek magis dari TTATW

Seperti biasa, Remedy, Tamy, dan Innu berada diposisi depan, sedangkan Andra dan Tyo berada diposisi belakang. Kadang merasa gak adil melihat posisi mereka. Andra itu lebih pendek dan lebih kecil dibandingkan keempat personil lainnya, tapi dia selalu berada diposisi belakang. Kan makin gak kelihatan. :(

Saat rekaman seorang pria dengan suara serak yang berbicara sendiri mulai diputar, saya langsung terdiam untuk menikmati jalannya pertunjukkan magis ini. Ketika rekaman pria tersebut hampir selesai, masuklah seluruh personil TTATW; Remedy dengan botol beernya, Tamy yang selalu terlihat memukau penonton pria, Andra yang selalu terlihat imut karena tinggi badannya, Tyo yang gundul serta tinggi gagah, dan Innu yang selalu bermain drum dengan liar di materi album kedua ini. Mereka langsung bersiap diposisi masing-masing.





Jujur, malam itu saya mengeluarkan kamera hanya untuk sekedar memfoto untuk blog saja (dan hanya merekam saat mereka membawakan lagu Empati Tamako). Karena malam itu saya hanya ingin menikmati permainan mereka, saya jadi lupa setlist mereka, but I found their setlist from this site. Nyiur, Tuah Sebak, Serangan, Angel (Massive Attack cover), Saija, dan Empati Tamako adalah setlist mereka malam itu.



Yang membuat saya jatuh cinta dengan materi album kedua mereka ini adalah permainan drum Innu yang benar-benar merasuk. Sempat saya menonton TTATW di Focal Point, Bandung dan dari lagu pertama hingga lagu terakhir, saya cuma fokus lihat Innu main drum macam orang yang sedang kerasukan (sampai saya hapal bagaimana mimik wajahnya Innu saat sedang bermain drum). Sayang saat menonton mereka malam itu, saya berada di sebelah kiri panggung (kalau dari depan panggung, posisi Innu berada di kanan panggung) dan tentu saja saya tidak bisa melihat Innu dengan jelas karena terhalang oleh para pria yang tingginya melebihi saya.

TTATW - Empati Tamako

Pertunjukkan berdurasi satu setengah jam itu merupakan pertunjukkan magis dari The Trees and The Wild yang menutup tahun 2015 dengan sangat baik.

Terima kasih telah memberikan saya (serta penikmat musik TTATW lainnya) pengalaman menonton terbaik yang selalu membuat kami ingin lagi, lagi, dan lagi menonton pertunjukkan magis kalian. Terima kasih karena pertunjukkan magis kalian kali ini merupakan kado terbaik untuk saya tahun ini (fyi, tanggal 21 nanti saya berulang tahun ke 21 tahun).

Sampai jumpa di pertunjukkan magis kalian selanjutnya di tahun 2016!

Saturday, September 12, 2015

Jazzy Nite

Kemarin malam saya dan teman saya, Dhila datang ke acara Jazzy Nite di Cilandak Town Square (Citos) untuk menonton live performance dua band favorit kami: Efek Rumah Kaca dan Payung Teduh.

Sebenarnya saya 'terpaksa' menonton Efek Rumah Kaca di acara ini karena saya tidak bisa menonton konser mereka di Bandung tanggal 18 September nanti. Ini semua karena mata kuliah Seminar yang tidak bisa saya tinggalin walaupun hanya sebentar. Apalagi dosen meminta kami mengumpulkan Bab I minggu depan. Nah lho. Mati deh.

Balik lagi ke acara Jazzy Nite. Kami berdua sampai di Citos sekitar pukul 19.00 WIB. Kami berangkat dari Depok setelah magrib. Aduh, tumben sekali Depok - Cilandak gak sampai sejam. Tumben sekali jalan TB. Simatupang lagi bersahabat.

Dua jam sebelum acara mulai, kami langsung memutari Citos untuk mencari spot enak untuk menonton Efek Rumah Kaca dan Payung Teduh.

Sebelumnya, belajar dari kunjungan pertama saya ke acara ini, saya harus reservasi tempat atau istilah kerennya open table. Kalau kamu gak open table atau nonton berdiri, kamu pasti diusir satpam sampai main lobby Citos dan kamu kesal karena gak bisa lihat band favorit kamu secara langsung dan hanya bisa nonton lewat layar yang sudah disiapkan.

Katanya acara ini gratis! Gimana sih?!

Tidak usah kesal atau marah-marah. Ini namanya strategi marketing. Kalau ada acara keren kayak gini, ya pasti semua restoran di Citos bekerja sama untuk meningkatkan penjualan produk mereka.

Memang harga yang ditetapkan agak keterlaluan untuk kamu yang punya dompet pas-pasan seperti saya ini. Harga yang ditetapkan setiap restoran itu memang bervariasi tetapi harganya harus diatas 200 ribu rupiah. Contohnya Excelso menetapkan harga 550 ribu rupiah untuk empat kepala dan Liberica menetapkan harga 300 - 700 ribu rupiah untuk dua hingga empat kepala.

Mahal? Bukan main. Tetapi untung sekali ada J.CO yang mematok harga 274 ribu rupiah untuk dua kepala dan menurut kami berdua, harga tersebut sudah termasuk 'murah'. Akhirnya kami open table di J.CO.

Kami mendapat selusin JPops, tiga buah JCronut, dua donat gula, dua gelas kopi ukuran medium serta dua mug untuk dibawa pulang.

Setelah open table, saya dan Dhila duduk dan mengobrol sampai acara dimulai. Tetapi sampai Grace Sahertian membuka acara, kami terus mengobrol. Memang susah menjadi perempuan yang senang rumpi. Hahaha.

Lalu dimulailah live performance Efek Rumah Kaca. Saya dan Dhila berhenti berbicara. Saya mulai sing along. Merinding! 

Dan yang paling saya kaget adalah Gerald Situmorang ikut bermain di lagu Sebelah Mata dan Lagu Kesepian! Sebelumnya Efek Rumah Kaca dan Barasuara (bandnya Gerald Situmorang yang dibentuk oleh Iga Massardi -mantan personil band The Trees and The Wild- pada tahun 2012) berkolaborasi di Go Ahead Challenge: Artwarding Night 2015 tanggal 22 Agustus yang lalu.

Dengan kehadiran Gerald, saya makin menyesal tidak datang ke Artwarding Night kemarin. Walaupun Sounds From The Corner (SFTC) sudah merilis video mereka, saya tetap menyesal karena dari yang saya tonton, kolaborasi mereka keren sekali!

By the way, beberapa kali saya tersorot kamera saat sedang sing along dan wajah saya terpampang beberapa detik di layar yang besarnya bukan main. Malu sih, tapi gak apalah. Siapa tau nanti wajah saya masuk KompasTV. Hahaha...

Oh sebelumnya, Jazzy Nite merupakan acara yang diselenggarakan di Cilandak Town Square (Citos) setiap bulan pada hari Jumat minggu pertama dan keempat mulai pukul 21.00 WIB sampai tengah malam.

Acara yang sudah berjalan sejak bulan Juni 2013 ini adalah hasil kolaborasi Citos dan Organic Records yang kemudian ditayangkan di stasiun televisi swasta KompasTV setiap hari Minggu pukul 23.00 WIB. Jadi bagi kamu yang tidak sempat nonton live performance band favorit, bisa nonton re-runnya di KompasTV.

Acara ini selesai pukul 1 pagi. Saya dan Dhila memang senang karena bisa menonton band favorit kami, tapi saya baru ingat ada kelas pagi dan dosennya sedikit menyebalkan. Setelah itu kami langsung buru-buru pulang dan sampai rumah sekitar pukul 2 pagi. Yah, ini sih mending tidak usah tidur sekalian, biar tidak kebablasan.

PS: Apa yang saya tulis di postingan ini semata-mata hanya untuk informasi, bukan untuk menjatuhkan pihak mana pun. Saya menulis sesuai dengan apa yang saya alami dan rasakan. Dan perlu diingat, tulisan ini bukan hasil endorse dari pihak manapun. Terima kasih.