Showing posts with label Happy Birthday. Show all posts
Showing posts with label Happy Birthday. Show all posts

Monday, December 21, 2020

26

Phew... lagi-lagi memasuki usia baru dengan kesendirian. Sebenarnya sih nggak masalah ya, toh kita senang-senang saja ngelakuin apa-apa sendiri.

Meski sendiri, bukan berarti setahun terakhir ini suck ya. Banyak hal seru yang dilewati. Mulai dari menemukan hobi baru, hingga pasangan baru. Iya, nggak salah baca kok. Akhirnya setelah lima tahun menjomblo, saya pacaran lagi...

... tapi hanya untuk empat bulan.

Ini kisahnya cukup nano-nano sih. Bolehlah ya kita cerita mengenai mantan di postingan ulang tahun kali ini. Bosan kalau harus marah-marah lagi kayak pas postingan 25 atau pusing lihat perencanaan pernikahan teman di postingan 24.

Okeh kita mulai aja ceritanya.

Mantan saya berinisial T dan berusia 27 tahun alias terpaut dua tahun dari saya. Sign kami sama-sama Sagitarius, tapi saya lupa dia ulang tahunnya Desember tanggal berapa. πŸ˜…

Kita match lewat aplikasi pencarian jodoh Bumble pada 23 Juni 2019 (yes, I scrolled this and reread some chat between us). Dia ini aslinya orang Serang tapi merantau dan nyewa indekos di Jakarta Barat. Saya lupa dia bekerja sebagai video editor atau illustrator, ya intinya yang berhubungan dengan visual.



Setelah match, kita cukup intens chatting via Bumble. Ngomongin keseharian, rekomendasiin film, hukum, poitik, sampai lagu-lagu .Feast dan Hindia (cieee dengerinnya Baskara banget nih πŸ˜›). Benar-benar ruang diskusi banget. Saya yang saat itu masih nganggur, jadi tertarik untuk terus chat sama dia.

Uniknya kita nggak pernah minta akun media sosial masing-masing. Benar-benar hanya chat via Bumble... sampai 11 Agustus 2019 saya inisiatif duluan untuk pindah chat ke WhatsApp. Jujur ya, saya ngerasa nyaman dan aman chat sama dia, jadi why not.



Tapi setelah pindah chat ke WhatsApp, komunikasi kami malah mengendur. Masing-masing dari kami terkadang nggak balas chat yang ada dan didiamkan begitu saja. Komunikasi kami jadi on-off banget. Ya saya sih santai, karena merasa ini bukan prioritas.

Hingga awal tahun 2020, dia tiba-tiba membalas status WhatsApp saya dan kita mulai intens chat kembali. Nggak lama kemudian dia bilang mau nyamperin saya ke Depok. Dia mau ketemu saya. 

WOW! Sungguh mengagetkan!

Meski agak tiba-tiba, tentu saya iyakan. Dia menuju Depok dengan kereta dan kami janjian bertemu di Habitat, kafe milik temannya teman saya. Kami akhirnya bertemu dan saya merasa dia sesuai dengan apa yang selama ini saya pikirkan.

Obrolan kami mengalir begitu saja. Seperti bertemu dengan teman lama. Dari pertemuan pertama tentu ada pertemuan kedua, ketiga, keempat.

Setelah banyak meet up, kami jadian. Tapi saya lupa tanggal pasti jadiannya. Jujur, kalau saya nggak ingat, artinya peristiwa ini nggak begitu memorable buat saya. Mungkin terlihat jahat ya, tapi memang begitulah kenyataannya.

Saat itu juga dia nggak mengeluarkan pernyataan seperti "Mau jadi pacar aku nggak?"Saya ingat dia cuma bilang "Mau ngejalanin dulu nggak?" saat pertemuan kami di salah satu kafe di kawasan M Bloc Space.

Saya sebenarnya bimbang. Hati saya bilang jangan karena belum ada rasa suka sama sekali dengan dirinya. Tapi di sisi lain saya ngerasa ini kesempatan baik meski nggak tahu bakal ada apa ke depannya.

Setelah berpikir beberapa waktu, akhirnya saya iyakan ajakan dia. Yup, finally I got a boyfriend.

Selama pacaran, saya paling blak-blakan dengan mantan. Saya berani menceritakan masalah dan trauma yang masih saya rasakan hingga kini. Saya bahkan sempat bilang kalau saya belum ada niatan ke jenjang pernikahan karena trauma tersebut.

Sang pacar, yang tentu kini sudah jadi mantan, saat itu mendengarkan dan meresponnya dengan baik.

Tapi rupanya mulai muncul masalah...

Saya kesulitan pacaran. Saya kaget rupanya kencan-kencan yang kami lalui itu mengambil banyak porsi uang hidup bulanan saya. Kami selalu split billing atau bergantian mengeluarkan uang. Jujur, pacaran mahal ya bok!

Selain itu saya kaget karena setiap hari harus ngabarin, teleponan setiap malam dan lainnya. Saya biasanya sendiri, jadi kegiatan ini sejujurnya sangat menguras energi saya. Ya meski begitu saya mencoba nyaman dan jalani saja.

Lalu... masalah lainnya seakan muncul perlahan. Ingat saya pernah bilang ke mantan jika saya belum ada niatan ke jenjang pernikahan? Rupanya mantan seperti berbeda pemikiran.

Saya merasa mantan perlahan-lahan mendorong untuk mengarahkan hubungan ini ke jenjang pernikahan, meski tahu saya punya trauma, yang bahkan insiden pemicunya pernah dia dengarkan dengan telinga kepala sendiri.

Dia bahkan encourage kalau saya bisa jadi mama yang baik bagi anak-anak. Mohon maaf, saya berangan-angan atau proyeksi diri jadi ibu dari seorang anak aja nggak pernah. Jujur, saya nggak bisa ngebayangin ngelahirin anak ke dunia yang seperti ini.

Meski mantan nggak blak-blakan ngajakin nikah, tapi saya merasa 'ditekan'. Akibatnya coping mechanism bekerja. Saya mendadak menjauhi dia. Saya berhenti kontak dia. Tentu dia bertanya-tanya, berusaha menghubungi saya tapi hasilnya nol. Saya menutup diri.

Dia juga nggak bisa datang ke rumah saya karena saya tidak pernah membawanya ke rumah atau mengenalkanya ke kedua orang tua dan ke sanak saudara lain. 

Saya takut jika orang tua nyuruh saya nikah. Beberapa bulan sebelum pacaran, Mamak saya sudah kode untuk saya nikah dan ini didukung oleh adik-adiknya (baca kisahnya di sini). Ini yang bikin saya takut ngenalin mantan kepada mereka. Apalagi setelah tahu mantan punya pemikiran ke sana, saya makin emoh untuk ngenalin ke keluarga.

Rupanya yang saya lakukan ini adalah silent treatment, dan ini jahat. Untuk satu ini, saya hanya bisa minta maaf. Seharusnya sebagai orang dewasa, saya bisa komunikasikan dengan baik. Nyatanya tidak seperti itu.

Silent treatment ini berjalan sekitar dua minggu. Setelahnya saya memutuskan untuk minta pisah via WhatsApp. Saat itu pandemi Covid-19 lagi menggila dan saya dapat work from home (WFH), jadi nggak bisa bertemu langsung untuk minta pisah.

Kalau dari chatannya, dia marah. Ya tentu marah, wong pacar nggak ada kabar dua minggu terus tiba-tiba minta putus. Ya akhirnya putuslah kita, dan jujur, hati saya lega karena ngerasa nggak ada pressure lagi.

Di sisi lain saya bukan anti dengan pernikahan, tapi hanya belum lihat benefit menikah untuk kehidupan saya. Saya lebih banyak melihat minus dari pernikahan. Kemungkinan ini hasil buah pemikiran dari trauma yang belum sembuh.

Berdasarkan hasil dari psikolog yang saya curhati, saya memang harusnya melakukan penyembuhan perlahan dan bertahap terhadap trauma tersebut, sehingga nantinya dapat menjalani hidup dengan lebih baik.

Setelah putus dari mantan, saya mulai menata lagi step-step hidup ke depannya. Saya mungkin menikah, tapi tidak tahu kapan. Sekarang saya mau fokus kepada diri sendiri, menerima diri sehingga nantinya bisa membuka diri ke orang baru.

Dari hubungan ini, saya bisa petik banyak hal. Berkat mantan, saya jadi bisa mengenal diri sendiri lebih baik lagi. Akhirnya saya sadar bahwa saya belum siap untuk berkomitmen sebelum benar-benar terlepas dari beban-beban trauma yang ada.

Saya juga belajar kalau lebih baik menolak ajakan berhubungan kalau memang belum ada hati atau rasa. Saya merasa hubungan yang setengah-setengah seperti ini memang nggak baik untuk dijalani.

Selain itu mata saya benar-benar terbuka soal komunikasi, karena ini merupakan tiang yang paling penting dalam sebuah hubungan. Dari hubungan ini juga akhirnya saya bisa belajar mengenai apa yang harus dilakukan agar hubungan baru di masa depan bisa terjalin dengan baik.

Jika sudah lebih baik, saya juga berharap bisa mengenalkan pasangan ke keluarga. Biar nanti bisa pacaran di rumah aja, lebih hemat hahaha



Ya begitulah, tahun ini highlightnya ya saya punya pacar lagi setelah lima tahun sendiri. Sayangnya pendekatan 7 bulan hanya bisa bertahan 4 bulan hehehe ya gak apa lah ya, namanya juga hidup.

PS: Untuk mantan, kalau kamu baca postingan blog ini, saya minta maaf ya. Saya harap kamu bisa dapat pasangan yang cocok secara visi dan misi hidup, sehingga langgeng sampai maut memisahkan. Terima kasih juga. Ya, pokoknya mah yang terbaik buat hidup masing-masing. πŸ˜Š

Saturday, December 21, 2019

25

Saya baru sadar jadi perempuan berusia 25 tahun itu melelahkan.

Ada banyak ekspektasi yang orang inginkan dari saya, seperti punya kekasih dan menikah. I MEAN, WHO THE F*CK ARE Y'ALL??? Kok berani banget kasih saya ultimatum, padahal kalian bukan siapa-siapa saya.

Punya kekasih atau menikah itu bukan perlombaan ya, jadi enggak perlu diburu-buru! πŸ€¦πŸ½‍♀️

Saya pernah posting sebuah Instagram Story mengenai hal ini. Saya tekankan lagi, punya kekasih atau menikah bukanlah sebuah lomba atau persaingan. PUNYA KEKASIH DAN MENIKAH BUKAN PERLOMBAAN. Tolong jalani saja masing-masing or better shut the f*ck up.

Buat saya, menikah bukan hanya soal cinta dan jadi halal kalau mau bersanggama. It's beyond that. Ini soal komunikasi dan komitmen untuk hidup bersama, dan juga soal keterbukaan atau transparansi antara pasangan dalam segala hal. 

Jujur, saya paling malas mendengar ocehan pasangan yang baru menikah atau orang tua yang gembar-gembor mengenai indahnya hidup bersama, dan mengajak para lajang untuk segera menikah.

Hhh... Saya mau galak sedikit. Kedua orang tua saya, khususnya Mamak, hanya pernah bertanya sekali mengenai kisah percintaan saya, dan itu pun sudah lama sekali. She's never ask about that shit again, karena saya yakin beliau tahu saya sedang menikmati hidup.

Lalu tiba-tiba, kalian-kalian ini, yang tidak kasih saya makan atau pun menghidupi saya, kasih ultimatum seperti; "Nikah dong biar gak sendirian kemana-mana", "Kamu kapan nikah? Itu kakak-kakak kamu udah pada nikah dan punya anak", "Umur sudah segini kok gak punya pacar juga?", "Lo normal gak sih?" atau "Elu gendut sih, makanya gak laku".

F*CK Y'ALL. πŸ–•πŸ½

Gini, saya banyak melihat masalah-masalah yang dihadapi para pasutri. Tidak usah jauh-jauh, saya melihatnya dari orang tua, dan kedua kakak saya yang sudah menikah. Saya juga melihatnya dari teman-teman saya yang menikah muda dan beberapa diantaranya harus gugur karena ego masing-masing.

Kalau mau jujur, saya belum siap berkomitmen soal menikah. Bukannya saya takut, tapi menikah tanpa persiapan mental yang matang adalah 'bunuh diri'. Maka dari itu, saya masih ingin bebas menggali dan mengenal lebih jauh diri sendiri.

Di sisi lain, sebagai salah satu Sagitarius, saya ini cinta kebebasan dan tidak ingin dikekang oleh hubungan apapun saat ini. Saya masih ingin bebas bekerja, nongkrong bersama teman-teman, menonton bioskop sendirian, dan lain-lain.

Menurut saya, ini bentuk saya dalam mencintai diri sendiri. Dengan begini juga saya bisa jauh lebih mengenal baik dan buruknya diri sendiri. Maka ketika saya siap, artinya saya sudah mengenal diri sendiri. Jadi kalau pun ada masalah, setidaknya saya bisa menanganinya dengan baik.

Oh ya, menjawab normal atau tidak, saya normal dan saya masih tertarik dengan pria. Ada salah satu kolega yang saat ini sedang saya suka karena wajahnya manis. Tapi hanya sebatas suka gitu aja sih, enggak ada keinginan buat petrus jakador.

Karena balik lagi, sekarang saya lagi enggak mau terikat oleh hubungan apapun. 

Jadi intinya, ada saatnya nanti saya siap untuk menikah kok, tapi tidak sekarang. Begitulah. Clear ya, enggak perlu kalian begini lagi ke saya. Terima kasih! πŸ’…πŸΌ

***

Hadeuh, niat hati mau menulis yang menyenangkan soal ulang tahun ke-25 kali ini, tapi yang terlintas malah hal-hal yang menyebalkan dan malah bikin saya misuh-misuh. Maaf deh ya, habis kalau dipendam malah akan jadi bom waktu, jadi lebih baik saya utarakan.

Terus, kalau dipikir-pikir, jadi orang dewasa itu memang sulit sekali ya. Saya jadi paham,  sekarang makin banyak orang yang berusia tua, bukannya lebih bijaksana malah makin jadi sok tahu. Padahal itu bukan urusan mereka, tapi banyak yang ikut campur. Capek deh.

Semoga saya nanti tidak seperti itu ke orang lain. Noted! 

***

Anyway, saya mau cerita mengenai apa yang terjadi kepada saya selama satu tahun terakhir ini. Lagi-lagi, sama seperti tahun lalu, hidup saya terombang-ambing layaknya sedang naik wahana roller coaster. It's fun, tapi di sisi lain bikin pusing juga, tapi pada akhirnya I enjoyed it.

Cerita setahun terakhir ini lebih ke soal pekerjaan dan karir sih. Jika tahun lalu saya dua kali pindah perusaahan, tahun ini pun sama. Ini bukan mau saya juga sih, tapi yah memang lagi kurang beruntung saja dapat atasan yang (lagi-lagi) toxic. πŸ˜‚

TL;DR pada perusahaan ketiga, saya dipaksa resign oleh ketiga koordinator lapangan (korlip) saya. Saya ingat betul apa kata kepala HRD mengenai alasan saya dipaksa resign.

"Kata mereka, kamu enggak asik"

Saya gak kaget sih, karena orang-orang di kantor tersebut memakai sistem like and dislike.  Kalau kamu sudah enggak mereka suka, ya kamu ditendang.

Lingkungan kantor juga sudah tidak sehat alias toxic abis. Di sana kalian bakal menemukan  orang-orang dengan jabatan atas yang toxix. Mereka bersikap bossy dan tentu semena-mena kepada para reporter.

Bahkan kalian juga akan menemukan sekelompok korlip yang tidak punya pengalaman di media berbasis online tetapi malah diangkat dan diberikan posisi tersebut. INI. MIND-BLOWING. SEKALI. πŸ€¦πŸ½‍♀️🀦🏽‍♀️🀦🏽‍♀️

Mereka bahkan tidak up to date atau berusaha mempelajari isu terkini. At least, Googling lah kalau enggak tahu! Kalah jauh dengan para reporter yang mereka dzolimi. Giliran dikasih tahu soal isu terkini yang seharusnya diangkat, mereka malah marah karena merasa digurui. πŸ€£πŸ€£πŸ€£

Ini merupakan hal yang fatal untuk sebuah media berbasis online sih, sebab reporter dipimpin oleh orang-orang tak berpengalaman di online sebelumnya.

Padahal ya, kita bisa belajar bersama, sama-sama belajar, bukan saling menjatuhkan. Tapi kayaknya hal-hal baik kayak gini enggak berlaku buat mereka.

Oh ya, misal ada orang-orang dari kantor lama, terutama yang manusia-manusia toxic membaca ini, tolong wawas diri, introspeksi, atau refleksi diri kalian. Kalau kata Muslim dan Coki, MUHASABAH DIRI ANDA dan bersikaplah profesional.

Kembali ke topik awal. Alasan saya enggak disukai karena terlalu vokal dalam menyuarakan pendapat. Apalagi saya suka mempertahankan opini dan hak saya. Karena hal ini, bahkan salah satu korlip itu pernah mengancam saya secara personal.

Saya tidak berbohong soal ancaman. Saya masih ada bukti chatnya~

Mereka, khususnya sekelompok korlip tersebut, memang tidak suka dengan reporter yang terlalu vokal, makanya saya dicut dan disemena-menakan.

Tapi fenomena ini enggak hanya terjadi kepada saya. Sebulan sebelumnya, dua reporter juga dipaksa resign karena terlalu vokal. Bulan berikutnya, saya dan kawan saya juga dipaksa resign. Bulan selanjutnya juga ada dua teman saya yang dipaksa resign.

Hingga kini, dari 28 reporter yang tergabung, hanya sisa belasan. Ada yang memang resign karena memang kantor sudah setoxic itu, namun lebih banyak yang dipaksa resign. Bahkan beberapa hari yang lalu, kedua kawan saya yang masih bertahan di sana juga dipaksa resign dengan alasan yang tidak masuk akal.

Oh ya, dipaksa resign itu sebenarnya kita dicut kantor, tapi kita pula yang kasih surat resign. Iya, mereka memang licik sekali, biar enggak kelihatan main kotor.


Saya baru berani menuliskan hal ini sekarang karena sudah tidak ada beban. Kemarin-kemarin saya tahan karena saya masih menghargai mereka, tapi rasanya udah gak guna juga. Jadi sekalian saja lah saya burn the bridge. Bye toxic! πŸ‘‹πŸΌπŸ‘‹πŸΌ


***

Tapi selalu ada hikmah dibalik hal buruk. Selalu ada pelangi setelah badai.

Pasca dipaksa resign, saya gencar kirim lamaran ke berbagai media dan perusahaan startup ternama. Ada 8 lamaran yang dikirim lewat email, dan puluhan lamaran via situs pencari kerja (i.e JobStreet, Kalibrr, UrbanHire, Jobs.ID, dan Glints) ataupun langsung ke situs perusahaan.

Setiap minggu saya bisa bolak-balik ke percetakan untuk mencetak CV dan portofolio saya sebagus mungkin, agar menarik dibaca oleh para recruiter. Tidak perlu bertanya sudah habis berapa uang saya untuk hal ini, karena saya sendiri enggak berani menghitungnya.

Akhirnya... penantian berakhir.

Setelah mengikuti beberapa kali proses interview di berbagai perusahaan dalam waktu sebulan lebih, akhirnya saya diterima di sebuah perusahaan media ekonomi waralaba.

Proses penerimaan saya sebagai reporter juga terbilang cukup singkat. Setelah beberapa hari mengirimkan lamaran lewat email, saya ditelepon untuk ikut psikotes dan interview. Interview dengan user, yakni korlip dan editor juga terbilang singkat.

Setelahnya saya sih enggak berharap banyak dan cuma bisa berserah kepada Allah soal hasilnya. Diterima atau enggak, yang penting saya sudah ikuti prosesnya. Nothing to lose kalau kata Umire, salah satu kawan saya yang gesrek itu.

Eh dua hari setelahnya, saya ditelepon HRD. Mereka bilang saya lolos dan langsung nego gaji. Saya udah enggak pakai nego, dan langsung menerima pekerjaan tersebut. Hari Senin berikutnya saya datang ke kantor untuk tanda tangan surat perjanjian kerja, dan foto untuk ID card press.

What a day to be alive.

Saat ini saya masih bekerja di media tersebut, dan saya harap saya bisa bekerja di sini hingga beberapa tahun mendatang. Saya betah bekerja dengan mereka yang memang profesional dalam bidangnya.

Tentu saya yang tadinya goblok banget soal ekonomi, jadi sedikit paham dunia ekonomi. Memang jadi reporter itu harus bisa belajar apapun, apalagi ekonomi yang jadi momok menakutkan sejak saya SMA dulu.

Hai, Mbak dan Mas, saya senang bekerja dengan kalian. Terima kasih sudah memberi saya kesempatan yang baik untuk selalu belajar. πŸ˜Š

***

Lalu apa yang saya lakukan di hari ulang tahun kali ini?

Berbeda dengan tahun lalu, dimana saya bebersihan kamar, saya bangun jam 9 pagi, abis itu gelegoran saja di kasur. Terus saya makan nasi kuning yang dibeli tadi pagi sama Mamak. Bikin kopi, dan melanjutkan beberapa pekerjaan yang belum kelar.

Di sela-sela waktu mumet kerjaan, saya menulis postingan ini.

KOK GAK FANCY BANGET YA? πŸ€£πŸ€£πŸ€£

Pengin deh sesekali ulang tahun fancy, kayak makan di restoran mewah sambil mengenakan pakaian cantik gitu. Atau solo traveling ke luar negeri. Mungkin tahun depan ya. Nabung dulu kita! Semoga tercapai! Amin! πŸ™πŸΌ

Tambahan: Mamak ngajak makan malam di luar. Tadinya mau makan di Shabu Hachi, tapi akhirnya melipir ke Abuba Steak. Acara birthday dinner dadakan tersebut bahkan sempat saya buat thread di Twitter. Enjoy! πŸ€£

Friday, December 21, 2018

24

Tidak mudah menginjakkan kaki di usia 24.

Tahun lalu, tantangan hidup saya hanya lulus kuliah (postingannya bisa kamu baca di sini), kini berbeda. Tantangan hidup saya selain mencari pekerjaan baru, adalah mungkin menikah.

YHA MOHON MAAF INI, PASANGANNYA SAJA BELUM ADA. BELUM LAGI MODAL PESTA PERNIKAHANNYA YANG SUNGGUH BIKIN STRES SENDIRI. MEMANGNYA NIKAH DI NEGARA KAPITALIS BEGINI GAMPANG?! huft...

***

Beberapa waktu lalu, salah satu sahabat semasa kuliah bernama Amalia, menikah dengan teman SMAnya. Pesta pernikahannya sederhana, di rumah saja. Tidak ada yang 'wah', namun terasa intim dan santai.

Sekitar dua minggu sebelum mereka ijab kabul, saya sempat ikut dia cetak undangan dan menemaninya mencari tempat tinggal sementara (yang tidak jauh dari rumah saya, jadi sekarang saya sering main ke tempatnya πŸ˜‚).

Setelahnya, saya merasa stres sendiri. Kenapa persiapan pesta pernikahan itu sangat menyesakkan? Pesta yang sederhana seperti pernikahan Amalia saja rasanya sudah ribet sekali. πŸ˜“

Dengan dalih 'pernikahan satu kali dalam seumur hidup', banyak sekali pasangan yang buang-buang uang hanya untuk menjadi 'ratu' dan 'raja' sehari. Contoh paling dekat adalah Kakak dan Abang saya. Mereka sampai bikin pesta pernikahan dua kali, satu di gedung dan satu di rumah.

Waktu itu saya masih berada di usia yang senang main (dan masih kelihatan bocahnya), jadi tidak ikut campur secara langsung persiapan pesta pernikahan mereka. Makanya ketika saya menemani dan melihat Amalia menyiapkan pesta pernikahannya, saya ikut stres.

Dua pesta pernikahan yang digelar Kakak dan Abang saya tentu adalah keinginan Mamak saya. Yang namanya orang tua, apalagi di Indonesia, punya pesta pernikahan sederhana bukan pilihan mereka. Mamak saya kerja di salah satu perusahaan besar dan Bapak adalah PNS, teman beliau berdua banyak... tentu gengsinya ikutan meninggi.

Ingat berita salah satu beauty influencer, Suhay Salim yang hanya menikah di KUA menggunakan jeans dan blazer? Saya sempat membicarakan hal itu dengan Mamak. Bodohnya saya menceritakan hal tersebut dengan mengebu-gebu.

"Wah nikah mah di KUA aja ya, murah dan cepat. Duitnya bisa buat liburan atau beli perabotan," kata saya.

"Kalau kamu mau nikah di KUA aja, nunggu Mamak meninggal," jawab Mamak.

DUAAAR!!! ⚡️⚡️⚡️

Saya melihat Mamak dengan tatapan tidak percaya dan kaget. Sungguh, saya kaget mendengar pernyataan semena-mena beliau. Sebegitu tidak ikhlaskah beliau jika saya hanya menikah di KUA?

Padahal esensinya kan sama-sama menikahkan dua insan yang selalu dikejar pertanyaan 'kapan kawin?' dari sanak saudara kalau sedang kumpul-kumpul, kan? Harusnya pernikahan itu enggak bikin stres kan?

Ya ampun, saya stres.

***

Tapi kalau dipikir kembali, kenapa pula saya stres? Pasangan belum ada, rencana-rencana  masa depan berdua juga belum terbentuk. Selain belum ada pasangan, sekarang saya juga masih jadi pengangguran.

Berarti, secara tidak langsung, saya belum siap lahir batin untuk menikah dalam waktu dekat. Ya Tuhan, ciptaanMu ini aneh sekali karena stres dengan hal yang belum terjadi... πŸ˜‚

Saya sih hanya berharap bisa menikah ketika kondisi emosional, spiritual dan finansial sudah cukup stabil. Umur hanya angka, tidak menandakan tingkat kedewasaan dan kesiapan diri dengan masa depan kok~

Kalau saya belum siap menikah pada usia 24, ya saya bisa menikah ketika saya siap saja. As simple as that, ya kan? πŸ˜œ

Ya pokoknya dapat pekerjaan tetap saja dulu. Ketika dapat pemasukan tetap, kan saya bisa tabung untuk membayar pesta pernikahan yang tidak murah. Sekaligus biaya bangun rumah, perabotan, beli sandang dan papan, bayar listrik, bayar internet, bayar langganan Netflix dan Spotify, menabung untuk masa depan dan daftar panjang pembayaran lainnya.

Jika finansial stabil dan ada pemasukan teratur setiap bulan, saya jadi bisa merencanakan hal lainnya kan. Mungkin saat itu, saya sudah siap membicarakan (kembali) soal pernikahan. Hehehe...

*Lalu sekarang saya malah jadi stres karena belum dapat kerja. Mana sisa tabungan  di rekening sudah menipis pula. Ya Tuhan... 🀦‍♀️

***

PS: pada hari ulang tahun, saya malah beres-beres kamar dari siang sampai malam. Saya memvacuum debu-debu yang ada di atas lemari, jendela, pintu dan pada sudut-sudut kamar. Saya merasa lebih tentram setelah melakukan kegiatan tersebut. Beneran!

Makan siang hanya dengan ramyun instan dengan taburan keju. Sungguh, ulang tahun kali ini benar-benar menyadarkan saya bahwa semakin tua usia, semakin sederhana hal-hal yang membuatmu senang dan tentram. πŸ˜…πŸ€·πŸ»‍♀️

Saturday, December 30, 2017

23

Alhamdulillah.

SETELAH MENEMPUH 5 TAHUN ATAU SETARA DENGAN 10 SEMESTER KULIAH, AKHIRNYA SAYA LULUS JUGA!!! πŸ’ƒ

Walaupun IPK dan nilai skripsi tidak memuaskan alias B aja, saya cukup bahagia bisa lulus dari Kampus Tercinta. Super bersyukur pokoknya! πŸ€˜


Swipe πŸ‘‰πŸΌπŸ‘‰πŸΌπŸ‘‰πŸΌ • Gue ini anaknya kelewat santai pakai banget saat kuliah, makanya taking 10 semesters or 5 years to graduate. Jika tidak ada ancaman dari Mamak untuk bayar uang kuliah sendiri kalau gue enggak skripsian di semester 10, mungkin sekarang gue masih betah kuliah. πŸ˜… • Tapi saat wisuda kemarin, gue punya perasaan lega tersendiri karena akhirnya Mamak sudah tidak punya tanggungan pendidikan lagi. Beliau berhasil membuat ketiga anaknya punya gelar dibelakang nama masing-masing. Honestly, di sisi lain gue masih punya perasaan menggantung karena belum bisa kasih lihat Mamak wisuda yang pakai toga beneran, yang talinya dipindahin itu. Nanti ya, Mak. Kalau ada jalan, rejeki, dan umur, ku akan lanjut S2. InshaAllah πŸ™πŸΌ • Jujur, kemarin gue gak mau unggah foto-foto wisuda karena belum terpuaskan dengan pencapaian tersebut. Nah, karena tahun depan sudah pasti akan bekerja, gue unggah fotonya hari ini. Ternyata foto wisuda gue gak banyak. Gue pun gak banyak motret karena sibuk ketemu teman-teman seperjuangan lainnya. Fyi, gue datang wisuda terlambat. Masuk ke barisan jurusan HI, pas di dalam auditorium, langsung ngacir ke barisan jurusan Jurnalistik dan pasang poker face πŸ˜ŽπŸ€£πŸ˜‹ • Dipotret oleh: @mickyurisa MUA: @khansamanda #superlatepost #longcaption #multipleposts #wisuda #wisudaiisip #wishudah #alhamdulillah #gpp #walaupun #kurang #pasangan #nasib #yaudahgituaja
A post shared by Thea Fathanah Arbar (@theaarbar) on

Thea Fathanah Arbar, S.Ikom aka official unemployment. πŸ‘©πŸ»‍πŸŽ“ • Kalau ada yang tanya gimana sidang skripsinya, yah gitu lah. Salah banget deh gue menatap kedua bola mata Bang Omar dan Pak Nur Ichwan, jadi grogi sendiri terus kena cecar deh. Kalau jawab kebanyakan ao ao karena ngeblank. Padahal mah gue tau jawabannya, hampir mau terucap eh tiba-tiba lupa mau jawab apa. Untung boleh nanya penonton sidang yang duduk di belakang. Efek terlalu nervous yet excited dengan sidang skripsi kemarin sih ini πŸ˜‚πŸ‘ŒπŸΌ Sekarang cuma bisa berdoa nilai skripsi yang sudah 3 kali ganti judul dan 3 kali ganti media ini bisa memuaskan. Amin! πŸ™πŸΌ • Thesis Defense Week at IISIP Jakarta: Wednesday update (part I). #thesisdefense #sidangskripsi #sarjana #sikom #sarjanailmukomunikasi #jurnalistik #journalism #journalismstudent #finalyearstudent #collegelife #campuslife #pengangguran #papipursquad #wednesday #excitedyetnervous #latepost
A post shared by Thea Fathanah Arbar (@theaarbar) on

Foto bersama teman-teman baik dan seperjuangan di Kampus Tercinta. Untuk Yaumil, tiba-tiba dia nongol gitu aja di kampus terus ngasih gue bunga. Padahal beberapa hari lalu dia masih update main sepeda di kampung halamannya, Aceh. Sok sweet banget cowok tampan satu ini πŸ‘ŒπŸΌ Kalau cewek lain mungkin udah klepak-klepek sama Yaumil dan cara dia tebar pesona. Tapi kalau gue udah tau nih anak kayak gimana, jadi no thanks dah wakakakakak! πŸ˜‚ Terus itu gue bukan merem ya, tapi senyum bahagia. Emang kalau lagi senyum bahagia mah pasti mata gue jadi segaris doang... πŸ˜ŠπŸ˜‘ • Thesis Defense Week at IISIP Jakarta: Wednesday update (part II). #thesisdefense #sidangskripsi #sarjana #sikom #sarjanailmukomunikasi #jurnalistik #journalism #journalismstudent #finalyearstudent #collegelife #campuslife #pengangguran #papipursquad #wednesday #excitedyetnervous #latepost
A post shared by Thea Fathanah Arbar (@theaarbar) on

Tidak banyak postingan yang saya buat setelah wisuda, karena saya sibuk liburan ala pengangguran (baca: tidur, nonton drama, makan dan siklusnya begitu terus hingga akhir tahun). πŸ˜‹

Pada ulang tahun ke-23 ini, akhirnya saya bisa marathon nonton film di bioskop lagi. Setelah gak bisa nonton film apa-apa di bioskop karena uangnya kehalang skripsian. πŸ˜

Saya juga mendapat late birthday gifts dari Kak Lian, Kak Giar dan Kak Apit, serta Mamak. Terima kasih atas hadiahnya! πŸ’žπŸ’žπŸ’ž

Ditambah (akhirnya) saya dapat kerjaan sebagai reporter di Tempo.co. Gilak! Pokoknya tahun ini cuma bisa bersyukur! Alhamdulillah. πŸ™

Wednesday, December 21, 2016

22

Alhamdulillah.

Terima kasih ya Allah. KarenaMu, saya masih bisa mengucap syukur untuk apa yang saya terima selama saya hidup di dunia ini. Saya tahu saya bukanlah umat yang baik karena terkadang saya melupakan hal-hal wajib yang harus dilakukan, tetapi saya tahu Allah SWT tidak akan membenci umatNya, jadi terima kasih untuk segalanya.

Yeah! Paragraf di atas ini dicopy dari postingan saya yang berjudul 21. Memang tidak kreatif. Tapi biarlah. Mbaknya lagi tidak punya inspirasi. Harap dimaklumi.

Tahun ini merupakan tahun yang... errr... gimana ya menjelaskannya... yah tahun ini sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Yang berbeda hanya rejeki yang saya terima. Untuk status hubungan (baca: single af) dan lainnya masih sama seperti tahun sebelumnya.

Saya mensyukuri semua yang telah Allah berikan, salah satunya Apple iPhone SE 64GB Gold yang saya beli hanya seharga IDR 99.000 pada Maret 2016 lalu, serta hadiah jalan-jalan ke Kuala Lumpur, Malaysia tahun depan karena menang lomba Coca-Cola.


Sebenarnya ada banyak rejeki yang saya dapatkan di tahun ini, cuma yang paling wah ya cuma kedua rejeki itu aja. Tapi ya kalau mau dijabarin sih begini:

- Saya berhasil mewawancarai The Trees and The Wild (TTATW) setelah aksi mereka di konser pertama mereka, I'll Believe In Anything Tour, serta menjadi LO mereka di Freedom Fest 2016 (lihat di sini) dan dapat tanda tangan TTATW dan Barasuara di album mereka.

- Keluar-masuk backstage Artwarding Night 2016 padahal bukan panitia atau tamu karena menang lomba kurasi mural di Instagram dari RURU Radio dan Oomleo, dan sempat wawancarai Elda Stars and Rabbit.

- Meet Taejoon Park, author of Webtoon Lookism.


Yaelah, ini Taejoon oppa kenapa kurus cengkring gini sik? Kebanting kan lo sama gue. Hahaha! πŸ˜‚ By the way, Park Taejoon (atau Park Tae Jun atau Taejoon Park) merupakan author Webtoon "Lookism". "Lookism" merupakan salah satu Webtoon terkenal di Korea Selatan karena (ternyata) ceritanya diangkat dari kisah nyata kehidupan waktu kecil Taejoon oppa, ditambah desain karakter "Lookism" berdasarkan karakter teman-temannya (yang juga merupakan ulzzang). Taejoon oppa ini aslinya kecil cungkring putih bersih cakep pake banget, dan hidungnya super mancung. Maklum aja sih, doi ini kan mantan ulzzang. Oiya, foto ini diambil saat signing session di Popcon Asia 2016, Jumat (12 Agustus 2016). Thank you, Taejoon oppa! ❤️ #parktaejoon #parktaejun #taejoonpark #author #webtoon #linewebtoon #lookism #koreanwebtoonist #favoritewebtoonist #signingsession #popconasia2016 #popconasia2016day1 #jakarta #indonesia #blackwhite #longcaption #latepost
A post shared by Thea Fathanah Arbar (@theaarbar) on

- Film pendek keempat berjudul I Found You akhirnya rilis. Syuting bulan Mei, kelar Desember. Duh! :)

- I got early birthday present from Kak Li: a pair of Vans x Toy Story SK8-Hi Reissue Buzz Lightyear. YASSS!


Lalu yang terjadi kepada saya tahun ini ya (sebagian) seperti ini:
  • I cut my hair into short. Very short. And I enjoyed it!
  • I gotta say, I go to gigs too (much) often. Really! But I love it!
  • I DRINK TOO MUCH STARBUCKS! And now I'm broke. :))
  • My brother and his girlfriend got engaged and will married March 2017.
  • My first and favorite niece, Senandung Aruna Putri Hafidz born on friday!
  • Falling in love with someone but turn off ilfeel with him. :))
  • Drink beer too often that last year, because of all my unfinished assignment. :(
But, hey, walaupun life is never flat like Chitato said, saya benar-benar bersyukur dengan apa yang saya dapat dan saya capai tahun ini.

Terima kasih 21, dan selamat datang 22!

Monday, December 21, 2015

21

Alhamdulillah.

Terima kasih ya Allah. KarenaNya, saya masih bisa mengucap syukur untuk apa yang saya terima selama saya hidup di dunia ini. Saya tahu saya bukanlah umat yang baik karena terkadang saya melupakan hal-hal wajib yang harus dilakukan, tetapi saya tahu Allah SWT tidak akan membenci umatnya, jadi terima kasih untuk segalanya.

Hari ini saya genap berusia 21 tahun.

Usia 21 merupakan usia yang agak menyebalkan. Usia dimana cinta bukan lagi prioritas utama. Usia dimana uang merupakan perkara yang sulit diselesaikan. Usia dimana semua orang akan mempertanyakan kekasih yang bahkan kamu tidak punya. Usia dimana kamu harus bisa mandiri untuk menjalani kehidupan. Usia dimana orang tua mulai khawatir bila anak gadisnya tidak pernah terlihat berkencan dengan pria. Usia dimana Tugas Akhir atau Skripsi menjadi momok menakutkan. Usia dimana segala sesuatunya tidak semudah yang kita pikirkan dahulu. Usia dimana semua pikiran bersatu dan membuatmu gila.

Tapi dengan itu semua, kamu tumbuh menjadi dewasa yang lebih baik.

My 20 is gone and I haven’t done anything

My 20 is gone, I only looked around during my 20


My mom tries to restrict my nights like I’m some delinquent
My unattractive nerd sister only vents hysterically to me
The only person I get along with is my dad whom I barely see
My best friend who dropped out of college only complains

Am I the only one? Was everyone else happy? How about your 20, Girl?
Why is like this? Did everyone else feel electrified? How about your 20, Girl?

I thought a breathtaking love would come
As if a new world would open to me – stupid
Just petty days, just bubble days, goodbye 20

My 20 is gone – you, whom I loved, is gone
My 20 – I’m shocked because I have no breakup symptoms

The timing is just right and a few guys are hitting on me
But the person I want is so cynical towards me, I’m so upset
My only best guy friend says he doesn’t like girls
The girl I hated the most got really pretty, she changed

Am I the only one? Was everyone else happy? How about your 20, Girl?
Why is like this? Did everyone else feel electrified? How about your 20, Girl?

I thought a breathtaking love would come
As if a new world would open to me – stupid
Just petty days, just bubble days, goodbye 20

When you’re 20, you’re always the youngest adult
You’re always the youngest and they always say that I only have to listen to them
When you’re 20, they tell you to have a drink with greasy words – don’t touch me

I thought a breathtaking love would come
As if a new world would open to me – stupid
Just petty days, just bubble days, goodbye 20

I thought a breathtaking love would come
As if a new world would open to me – stupid
Just petty days, just bubble days, please 21

Lim Kim- Goodbye 20 (2013)

Selamat tinggal 20 dan selamat datang 21!