Showing posts with label Mimpi Itu. Show all posts
Showing posts with label Mimpi Itu. Show all posts

Wednesday, October 18, 2017

Mimpi Itu... [part 13]

Siang itu merupakan hari terpanas yang pernah kami bertiga lalui. Kami; aku, Amel, dan Umire duduk di bawah pohon rindang di taman kampus. Berharap oksigen yang dikeluarkan sang pohon bisa menurunkan suhu panas siang itu.

"Gue mau ke mini market di depan (kampus) nih. Mau ikut gak?" celetuk Umire.

"Ikut!" jawabku dan Amel bersamaan.

Sebenarnya mini market di depan kampus tak terlalu jauh, tetapi panasnya siang itu dan luasnya taman rindang di kampus membuat kami berjalan sedikit lambat karena harus berteduh di bawah pohon satu ke pohon lainnya.

Beberapa menit kemudian, sampailah kami di dalam mini market yang super sejuk. AC mini market seperti oase di tengah gurun, dan kami bersyukur kepada manusia-manusia yang menciptakan produk teknologi seperti AC dan kipas angin.

Aku langsung berlari ke arah lemari pendingin dan mengambil minuman kopi kaleng kesukaanku. Amel dan Umire masih melihat-lihat minuman dalam lemari pendingin lainnya.

"Gue duluan ya (ke kasirnya)," kataku sembari mengambil satu batang cokelat dari rak dekat lemari pendingin.

Aku mengantri di depan kasir. Ternyata banyak mahasiswa yang sedang membeli minuman dingin di siang hari yang panas ini.

Tiba-tiba dari belakang aku ditubruk oleh seorang pria berbadan besar seperti Ivan Gunawan. Aku menengok dan hanya bisa melihat bagian dada dan lengannya. Aku tak melihat wajahnya karena sepertinya pria ini terlalu tinggi, dan aku perlu mendongak untuk melihatnya.

"Maaf," kata pria itu pelan.

Aku sebenarnya paling tak suka dengan kejadian seperti ini. Dia seperti melewati personal space aku. Aku memasang wajah tak suka setelah ia meminta maaf.

Lagi-lagi dia menubrukku. Aku langsung mendongak dengan wajah kesal, melihat wajah pria dengan rasa bersalah.

"Maaf," kata pria itu.

Masih dengan wajah kesal, aku hanya diam tak menjawab dan kembali mengantri. Amel dan Umire masih di depan lemari pendingin saat itu.

Tiba-tiba mati lampu dan seluruh ruangan gelap gulita. Semua orang berteriak kaget. Tiba-tiba pria yang tadi menubrukku malah memelukku dari belakang. Kedua lengannya mengitari bahuku. Dadanya menempel erat di punggungku. Nafasnya berat.

Tapi bodohnya aku tak ingin melepaskannya. Entah mengapa rasanya begitu hangat. Aku meraih kedua lengannya yang memelukku. Aku memejamkan mata, menikmati pelukan itu.

Pria tersebut bernafas di telingaku dan berbicara, "Aku..."

TEEEET!!! TEEEET!!! TEEEET!!!

Tiba-tiba alarm bunyi dan saya terbangun dengan panik, mengira ada telepon karena ringtone alarm dan telepon sama. Adegan di mini market setelah mati lampu dan langsung gelap gulita sebenarnya gak make sense karena latar dari awal itu siang hari. But yeah, it's a dream! Gak heran kalau aneh dan gak make sense hahaha

Tuesday, September 19, 2017

Mimpi Itu... [part 12]

Rasanya terlalu banyak film horror dan thriller yang saya tonton, sehingga mimpi macam ini hadir sebagai bunga tidur saya. Ini seperti sedang nonton film romantis dengan twist ending yang tidak kamu harapkan...

Seperti malam-malam biasa lainnya, kami bertiga; aku, kekasihku, dan sahabat priaku sedang berada di basecamp. Entah ada project apa yang akan kami kerjakan, tapi sepertinya kami sedang menunggu sesuatu untuk datang.

Setelah berbincang-bincang, kami memisahkan diri. Aku dan kekasihku berbincang  dan bercanda layaknya sepasang kekasih normal di sofa empuk yang cukup lebar, sedangkan sahabat priaku asyik bermain smartphone di lantai beralaskan karpet.

Beberapa waktu berlalu. Saat aku sedang bercanda sambil memeluk, tiba-tiba kekasihku langsung duduk tegap dan diam seribu bahasa. Wajahnya menjadi datar dan pucat. Aku memanggil sambil mengguncang bahunya.

"Bey, kenapa?" tanyaku heran.

Tiba-tiba badan kekasihku bergerak tak karuan, sepertinya kesurupan! (Disini saya panik karena saya yang paling dekat dengannya)

Bergerak tak karuan seperti salah satu scene di film Annabelle: Creation di atas ini.

"LARI!!!" teriak sahabat priaku dengan wajah panik. Ia langsung keluar dari ruangan, meninggalkanku yang masih panik.

Ketakukan mengalahkan kasih sayang, aku lari dari ruangan 30 detik setelah sahabat priaku. Kami lari ke jalanan beraspal tanpa alas kaki.

Sahabat priaku sudah berlari jauh. Aku mencoba mengejarnya, nafasku sesak, kakiku sakit karena terlalu lama berlari di atas aspal tanpa alas kaki.

Entah mengapa jalanan aspal itu begitu panjang dan sunyi, seperti tak ada akhirnya. Hanya ada aku dan sahabat priaku yang terus berlari dengan jarak yang cukup jauh.

Aku tetap berusaha mengejar dan memanggil sabahat priaku, tetapi pelarian itu tak bisa aku lanjutkan karena salah satu tangan kekasihku berhasil menahan bahuku.

Aku panik dan berteriak sekencang-kencangnya karena kekasihku memelukku dengan kencang hingga aku tak bisa bernafas dengan benar, kemudian ia menggigit leherku hingga mengeluarkan darah segar.

DONE! I'M DONE WITH THIS!

Jadi seperti inilah rasanya bangun dari mimpi buruk: keringat mengucur dengan deras dan jantung berdetak kencang tak karuan. Rasanya lebih deg-degan mimpi ini ketimbang mimpi dikejar Tyrannosaurus beberapa bulan lalu. ðŸ˜¢

Monday, December 5, 2016

Mimpi Itu... [part 11]

For the God sake, this dream is really embarrassing af...

Pada sore yang gerimis, aku datang sendirian ke konser White Shoes & The Couples Company (WSATCC). Tadinya mau pergi sama teman, tapi tiba-tiba dia bilang gak bisa datang karena ada keperluan penting mendadak.

Well, tapi itu gak masalah sih karena aku biasa jalan sendiri.

Aku mengantri masuk ke dalam venue. Di dalam banyak sekali booth, dari makanan, kosmetik, hingga pakaian (ini konser apa pasar tumpah sih?!). Saat melewati booth Laneige, aku diberikan banyak sample BB cushion dengan package berbeda yang super cute. Aku sempat kesulitan dengan sample BB cushion tersebut, sehingga beberapa sample jatuh ke lantai.

Seseorang di belakangku langsung menolongku mengambil sample yang jatuh di lantai. Saat aku menengok untuk berterima kasih, terlihat pria tinggi gagah berkacamata dengan kepala gundul yang tak asing lagi (tapi saya lupa namanya siapa).

"Gue bantu ya," ujarnya.

Aku hanya mengangguk, karena memang sedikit kewalahan dengan banyaknya sample BB cushion di tangan. Tas yang aku kenakan pun terlalu kecil untuk memuat sample tersebut.

Kami jalan berdua. Sepertinya pria tersebut sengaja memisahkan diri dengan kawannya, dan jalan bersamaku. Suasana ramai, tapi kami berdua cukup hening.

"Dari dulu gue pengen ngobrol sama elo. Jadian sama lo," ujarnya tiba-tiba.

Aku menengok ke arahnya dengan wajah kaget. Kemudian aku memandanginya dengan tatapan heran.

"Iya benar. Gue pengen banget pacaran sama elo,"

Tiba-tiba saya terbangun.

WTF! Pria itu adalah salah satu personil band favorit saya. Asli... rasanya mau ketawa ngakak. Ini ngefans sampai kebawa mimpi gini, gimana ceritanya sih? Aduh! ðŸ˜‚

Tuesday, September 27, 2016

Mimpi Itu... [part 10]

Ini bukan pertama kalinya saya bermimpi sedang memadu kasih dengan kekasih saya. Tapi mimpi kali ini is getting too real! Seakan peristiwa itu baru terjadi beberapa jam yang lalu. Hangat genggaman tangannya pun masih terasa di telapak tangan saya.

Sekelompok anak muda; aku, sang kekasih, dan beberapa temanku bersama pasangannya datang ke toko buku yang malam harinya berubah menjadi bioskop mini. Kami ke sana untuk observasi tugas kuliah.

Di dalam bioskop, aku dan sang kekasih duduk bersebelahan, menggenggam tangan bersama. Aku menyandarkan kepala saya di bahunya. Kami menonton film zaman dulu dengan tenang dan nyaman.

Setelah filmnya selesai, aku meninggalkan sang kekasih dan langsung keluar mencari pemilik bioskop itu untuk diwawancara. Setelah selesai bertemu dengan pemiliknya dan mewawancarainya, aku berdiskusi dengan teman-teman sekelompok di sebuah cafe yang tak jauh dari lokasi bioskop mini tersebut.

Pada saat aku sedang serius berdiskusi, sang kekasih langsung menggenggam tanganku dengan lembut. Jantungku berpacu dengan cepat. Dilihat dari situasi ini, sepertinya aku dan sang kekasih belum lama memadu kasih.

Setelah menutup diskusi, karena semuanya berpasangan, kami semua mulai berpacaran. Aku dan sang kekasih ngobrol dengan santai. Sesekali dia menggenggam tanganku dengan lembut. Genggaman tangannya sungguh menghangatkan jiwa.

Dia memiliki senyuman termanis yang pernah aku lihat. Wajahnya lembut dan rambutnya yang pretty messy, tinggi badannya... I like them all so much!

Tiba-tiba mimpi dipercepat. Saya tidak tahu kenapa tiba-tiba jumping ke scene yang super aneh.

Aku berada di parkiran depan cafe dan meluncur pergi sendirian. Jalanan begitu sepi dan gelap, tapi aku tetap meluncur pergi.

Karena aku membawa motor pelan-pelan, tiba-tiba sesuatu menyentuh pinggangku dan sontak aku kaget dan teriak panik. Aku terjatuh dari motor dan tak sadarkan diri.

Saat terbangun aku masih berada di pinggir jalan, tetapi aku terbangun dalam pelukan kekasihku. Setengah sadar aku melihat teman-temanku yang lain berkelahi dengan orang yang tak aku kenal. Sirine mobil polisi berbunyi tak jauh dari tempat kami.

"Kamu gak apa-apa kan?! Hampir aja kamu kena begal!"

Wajah kekasihku terlihat panik, dan dia memelukku dengan kencang. Ku dengar suara jantungnya berpacu dengan cepat.

Tiba-tiba saya terbangun dan masih bisa merasakan pelukan dan genggaman tangan pria itu. Oh God, why? :(

Tuesday, July 26, 2016

Mimpi Itu... [part 9]

Aku terbangun dari tidurku yang melelahkan dipelukan seorang pria berkulit sawo matang yang tingginya sekitar 175cm.

Aku melihat sekeliling. Tampak pemandangan yang selalu kulihat setiap hari; kamarku yang berantakan dan penuh dengan bau buku-buku lama serta debu-debu tipisnya.

Lalu mengapa ada pria yang tidur disampingku, memelukku dengan wajahnya yang tenang dan nyaman? Setahuku, aku tidak memiliki kekasih ataupun crush yang sedang aku perhatikan. Setahuku, beberapa jam yang lalu aku sendiri. Literally sendiri.

Apakah aku melakukan one night stand?

Tapi kalaupun ternyata pria ini adalah pasangan one night stand, kenapa harus melakukannya di kamarku, melakukannya di kamarku di rumah orang tuaku?!

Ah tapi melihat lengkapnya pakaian yang aku dan pria itu kenakan, kemungkinan besar kami tidak melakukan apa-apa. Aku menghela nafas. Syukurlah.

Aku terbangun, perlahan melepaskan pelukan hangat pria itu, lalu berjalan ke luar kamar. Aku melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 8 pagi, kemudian melihat pintu kamar orang tuaku yang tertutup rapat, terkunci. Aku menghela nafas kembali, lega mengetahui kedua orang tuaku sudah berangkat kerja.

Aku kembali masuk ke dalam kamar dan berbaring di samping pria itu, memperhatikan baik-baik wajahnya yang bisa dibilang sempurna; alis tebal, bulu mata lentik, hidung mancung, dan bibir merona merah natural.

Aku bertanya dalam hati, bagaimana bisa pria dengan fisik sempurna sepertinya tidur di sampingku?

Sejujurnya aku bukanlah tipe wanita bagi pria sepertinya. Aku tahu karena aku sering ditolak oleh pria sepertinya.

Terlalu banyak berpikir, aku tertidur kembali di samping pria ini.

Aku terbangun. Pria itu tidak ada. Ah, benar kan! Tadi hanya mimpi belaka.

Aku keluar dari kamar, menuju lemari es. Saat akan menenggak susu stoberi kesukaanku, dua lengan memelukku dari belakang. Nafas indah terdengar di telingaku.

"Sarapannya sudah siap," kata pria itu.

Aku hanya mengangguk pelan dan mengikuti pria itu ke halaman belakang. Di halaman belakang terdapat ibu, ayah, kakak, abang, serta kedua kakak ipar dan keponakanku. Mereka menyambutku dan pria ini dengan suka cita.

Ada apa ini?

Siapa pria ini?

Saat itu saya terbangun dari mimpi absurd ini -tanpa mengetahui dengan jelas siapa pria yang ada di mimpi saya barusan. Ah...

Monday, March 28, 2016

Mimpi Itu... [part 8]

Siang itu terik dan aku sedang berada di luar, pergi sendirian ke sebuah restoran yang aku tak tahu letaknya dimana. Sesampainya di sana, aku terdiam. Restoran itu sepi, tidak ada seorangpun, kecuali seorang pria yang sedang tertidur di sebuah sofa panjang dan lebar yang sekiranya muat ditiduri oleh dua orang dewasa.

Aku duduk di sofa itu. Aku sadar bahwa ada seorang pria yang sedang tertidur di sofa itu. Dengan sadar aku berbaring di sofa tersebut, berbaring di samping pria tersebut.

Aku lihat wajah pria tersebut. Pria tersebut tampan. Aku tersenyum sendiri dan mulai merasa kantuk.

Kami tidur berhadapan.

Tiba-tiba pria itu memegang tanganku dengan perlahan-lahan, lembut tapi pasti. Nafas pria itu menjadi berat.

Tangan kami bertaut, sulit lepas. Aku meresponnya, tetapi kedua mataku tetap tertutup.

Tiba-tiba tangan pria yang satunya lagi, memegang pipiku dan bibirnya mendarat di bibirku dengan cepat.

Aku meresponnya, tetapi kedua mataku tetap tertutup.

Ciuman itu lembut dan intens. Aku menyukainya.

Kemudian aku tak sadarkan diri.

Mimpi seperti ini terjadi lagi. Gara-gara mendapat mimpi ini, saya bangun kesiangan dan telat masuk kelas. Oh God... please... :))

Monday, January 4, 2016

Mimpi Itu... [part 7]

Di postingan kali ini, saya akan melanjutkan serial yang sudah saya tulis dari bulan Januari 2014 berjudul 'Mimpi Itu'. Postingan berjudul 'Mimpi Itu' menceritakan mimpi-mimpi absurd yang hadir sebagai bunga tidur saya. Mimpi-mimpi tersebut memang absurd tetapi sesungguhnya terkadang mimpi tersebut mencerminkan apa yang terjadi dengan saya dalam kehidupan nyata.

Kemarin, pukul 4 pagi, saya tertidur setelah puas mendownload drama Korea dan terbangun pukul 6 pagi. Karena pagi begitu indah untuk dijalani dan rasa malas yang menyerang, maka saya kembali tertidur.

Inilah hal yang kemudian saya sesalkan.

Aku menangis. Tangisan dan raunganku sungguh menyesakkan dada dan orang-orang yang melihat kejadian itu.

Tubuhku dipeluk dari belakang oleh Kakek dari keluarga ibuku. Beliau juga hampir menangis, tetapi entah mengapa sepertinya beliau enggan mengikutiku menangis meraung-raung.


Di sisi jalan, terlihat seseorang pria tua yang sepertinya seumuran dengan kakekku. Dialah Papi, kakek dari keluarga ayahku. Beliau tergeletak di jalan dengan banyak darah kental yang segar mengalir dari tubuhnya.


"Papi! Papi! PAPI!!!" raungku. Ini begitu memilukan.


"Kakek, kenapa Papi bisa seperti itu? Kakek, jawab aku!"


Namun Kakek hanya diam sambil tetap memelukku. Wajahnya juga terlihat terluka.


Kemudian banyak orang asing yang datang entah darimana, langsung sibuk mengelilingi jasad Papi sambil berbicara berbisik. Ada beberapa orang yang langsung sibuk memfoto dan beberapa sibuk menelepon, entah menelepon siapa.

Aku masih menangis. Menangis seperti ini sangat melelahkan hingga membuatku tak sadarkan diri dipelukan Kakekku.

Tiba-tiba saya terbangun. Sekujur tubuh saya kaku. Mata saya basah karena air mata. Sungguh, ini merupakan mimpi yang benar-benar menakutkan karena Kakek dan Papi saya sudah meninggal sebelum saya lahir. Jelas saya tidak mengenal mereka tetapi hari ini mereka hadir dan membuat saya menangis di mimpi saya. Mungkin mereka rindu dengan saya karena saya jarang mengunjungi makam mereka. Mungkin saja.

Ya Allah, tolong berikan tempat terbaik untuk mereka di surga. Amin.

Thursday, April 10, 2014

Mimpi itu... [part 6]

Di dalam kamar itu cuma ada kami berdua. Dia bertelanjang dada karena baru selesai mandi.  Aku sebenarnya tak enak hati melihat bos-ku berpenampilan seperti itu. Namun tanpa sadar, posisi kami sudah diatas sofa empuk dan kami sedang berciuman.

Halo pembaca yang suka datang ke blog saya! Maaf banget baru bisa ngeposting sekarang. Saya lagi sibuuuk sekali sama urusan kuliah, kerjaan, dan project film pendek. Liputan lah, ngekoordinasiin peserta lah, meeting lah, syuting lah, retake lah, dsb. Yaa cuma bisa bersyukur aja deh. Semoga berkah. Hehehe.

By the way, maaf ya saya ngeposting beginian setelah sebulan tidak ngeposting. Yaa ini mimpinya baru aja terjadi tadi soalnya. Hehehe.

Kami sedang melakukan perjalanan beberapa hari ke kantor lain. Kami hanya berempat; Roy (bos), aku (sekretaris), dan dua staff lainnya; Ryan dan Anita.

Sebetulnya aku menyukai Ryan. Namun entah mengapa, didalam perjalanan ini, Roy, bos-ku itu selalu 'nempel' sama aku. Di bis lah, di meja makan waktu sarapan atau waktu makan malam lah. Sumpah... Aku risih. Tapi bagaimanapun dia bos-ku, jadi aku tetap harus jaga sikap.

Hingga suatu malam, Roy memanggilku untuk datang ke kamarnya. Katanya untuk pekerjaan. Aku langsung datang ke kamarnya dengan hanya menggunakan piyama.

Sesampainya aku di kamarnya, Roy malah menyuruh menunggu karena dia mau mandi. Lah... kampret amat. Padahal aku udah buru-buru datang ke sini. Akhirnya aku menunggu Roy mandi. Roy mandi hanya 10 menit. Syukur deh aku jadi gak lama-lama nungguinnya.

Namun aku baru sadar, di dalam kamar itu cuma ada kami berdua. Dia bertelanjang dada karena baru selesai mandi.  Aku sebenarnya tak enak hati melihat bos-ku berpenampilan seperti itu. Namun tanpa sadar, posisi kami sudah diatas sofa empuk dan kami sedang berciuman.

IYA! KAMI BERCIUMAN! Ciumannya lama sekali. Aku pun gak mengerti sama diriku, kenapa gak bisa 'menolak' ajakan itu?! Kenapa aku malah 'menerimanya'?! DIA ITU BOS LHO! AAAAK!

Besok paginya aku terbangun diatas sofa empuk di kamar bos-ku. Oh my God! Aku ketiduran di kamar bos! Ya Tuhan!

"Selamat pagi, honey."

Hah?! Apa?! Roy manggil aku dengan honey?! BOS AKU MANGGIL AKU DENGAN SEBUTAN 'HONEY'?!

Dan saya langsung terbangun dari tidur saya. Akh! Kenapa?! Kenapa?! Padahal saya mau tahu lanjutannya seperti apa. Hiks :'(

Yaudahlah ya... Namanya juga mimpi. :')

Sunday, March 2, 2014

Mimpi itu... [part 5]

Aku kaget dengan kedatangan beberapa seniorku ke rumah. Mau ngapain mereka main ke rumahku magrib-magrib begini?!

Baru aja memasuki bulan Maret, saya sudah disuguhi mimpi seperti ini (lagi). Mana mimpiin senior di kampus lagi. Mana mimpinya di siang bolong tadi lagi. Duh.

Oiya, tadinya setelah bangun dari mimpi, saya mau langsung nulis di blog, tapi karena wifi di rumah sedikit bermasalah, akhirnya saya tulis di memo handphone saya. Hahaha... Niat banget ya.

Saya yakin, nanti pasti saya akan bermimpi seperti ini lagi (namun dengan cerita yang berbeda). Habisnya setiap bulan saya dikasih jatah mimpi beginian dua kali. Udah kayak dosis obat aja 2 kali sebulan. :(

Sore hari. Aku baru pulang dari kampus. Badanku pegal sekali. Tapi hati dan jari-jariku senang karena perjalanan pulang dari kampus hingga ke rumah, senior yang aku sukai mengajakku chatting di BBM.

Kita ngobrolin banyak hal. Dari hal yang sepele sampai hal yang penting, seperti politik. Tapi akhirnya kita ngobrolin tentang manga. Ternyata kita berdua suka manga. Duh... Rasanya senang banget mengetahui seniorku senang sama manga, sama sepertiku.

Hampir magrib, aku berniat untuk mandi. Kubilang pada seniorku kalau aku ingin mandi dan beribadah dulu. Seniorku mengiyakan dan katanya ia akan mengirim sesuatu ke rumahku. Aku agak bingung. Mau ngirim apa? Kirim makanan delivery? Tapi aku gak ambil pusing, aku buru-buru ke kamar mandi karena badanku sudah 'lengket'.

Setelah aku selesai mandi, tiba-tiba aku melihat bungkusan diatas meja. Aku bertanya-tanya, tadi kayaknya gak ada bungkusan kayak gini deh diatas meja. Akhirnya aku buka bungkusan itu dan ternyata isinya adalah komik yang aku suka!

Aku langsung membuka halaman per halamannya. Ternyata banyak tulisan-tulisan untuk komik itu. Tak lama handphone aku berbunyi. Ada BBM dari senior. Dia bilang aku harus menulis sesuatu di situ. Tulis apa saja.

Awalnya aku bingung, akhirnya aku menulis juga di komik itu. Kira-kira aku menulis hampir beberapa lembar dan tulisan ku kecil-kecil sekali.

Tiba-tiba ada suara geberan motor di depan rumah. Berisik sekali. Setelah aku lihat ternyata itu adalah suara geberan motor senior-senior saya di kampus! Aku kaget dengan kedatangan beberapa seniorku ke rumah. Mau ngapain mereka main ke rumahku magrib-magrib begini?!

Ternyata mereka mau jemput aku untuk datang ke pertandingan futsal senior yang aku sukai!

Dan sebelum saya mengetahui lanjutannya, saya keburu kebangun karena keingat jadwal kuliah saya yang masih berantakan padahal besok saya udah mulai kuliah. Huah!

Sunday, February 16, 2014

Mimpi itu... [part 4]

Tanteku mengatakan bahwa ada tetangga baru kita yang kenal dengan aku. Namanya Irvani. Umurnya lebih tua 6 tahun dari aku. Aku kaget.

Untuk keempat kalinya saya mimpi seperti ini. Ya Tuhan. Berhentilah membuat mimpi seperti ini. Sekali lagi, saya capek.

Hari ini saya mimpiin seseorang yang dulu pernah dekat sama saya. Kalau kamu follow akun twitter saya, kamu pasti tau siapa orangnya. Ya kalau follow dan perhatiin ya, kalau enggak sih, yaudah.

Aku baru lulus SMA. Hari ini aku dan tanteku akan pindah ke kontrakan di daerah Jakarta Barat. Semua ini dilakukan agar aku gak perlu capek-capek pulang pergi Depok - Jakarta Barat - Jakarta Barat - Depok saat kuliah nanti. Yap! Aku kuliah di sebuah universitas di Jakarta Barat (tapi saya gak tau universitas mana).

Aku senang bisa tinggal di daerah yang baru. Aku orang yang polos, belum pernah keluar dari daerah Depok (padahal mah aslinya enggak). Walaupun kontrakan aku tidak terlalu bagus dan terletak di perkampungan, aku gak perduli. Aku senang karena bisa tinggal dengan tanteku (ceritanya disini saya anak yatim-piatu yang tinggal dengan tante - adik kandung Mamak saya).

Suatu hari, saat aku baru pulang dari kampus, tanteku mengatakan bahwa ada tetangga baru kita yang kenal dengan aku. Namanya Irvani. Umurnya lebih tua 6 tahun dari aku. Aku kaget. Namanya familiar tapi aku gak kenal siapa dia.

Tanteku sempat tanya apakah dia pacarku. Kubilang bukan. Kenal juga enggak. Tanteku sempat menyayangkan karena fisiknya oke, wajahnya bersih dan terlihat seperti pria baik-baik (yang ini mungkin mengada-ada, soalnya saya gak tau aslinya kayak gimana, saya belum pernah ketemu langsung sama dia - ah namanya juga mimpi).

Beberapa hari setelahnya, saat aku sedang berada di warung untuk membeli beberapa snack, ada pria yang tiba-tiba mendekati aku. Suaranya berat.

"Halo, Thea. Kamu gak kangen sama saya?"

Aku cuma bingung dan ketakukan. Jangan-jangan aku mau diculik lagi! Kangen apa sih?! Kita aja baru ketemu!

Aku langsung cepat-cepat membayar belanjaan dan pergi dari warung itu secepatnya. Tapi ternyata pria itu mengikuti aku. Aku mulai ketakutan. Keringat dingin mengucur dari dahiku. Sumpah... Ini hal yang paling menakutkan yang pernah aku alami.

Saat sampai di gang kecil, pria itu menarik tanganku. Aku yang sudah mencapai batas limit ketakutan, berteriak minta tolong sambil menangis, namun dengan cepat pria itu membekap mulut aku. Ia akan melepaskannya kalau aku berhenti berteriak. Aku cuma mengangguk ketakutan.

"Kamu gak perlu kayak gitu. Saya bukan orang jahat. Kamu yang jahat karena melupakan saya."

Aku cuma bengong. Gak paham apa yang dia katakan. Setelah itu dia mengajakku ke taman kota untuk menceritakan semuanya.

Kami adalah reinkarnasi dari sepasang kekasih yang bunuh diri bersama karena tidak direstui oleh kedua orang tua kami. Kami berjanji akan bertemu di kehidupan selanjutnya. Namun aku lupa akan janji itu. Namun si pria ini tidak lupa akan janji kami.

Di kehidupan yang lalu dan di kehidupan sekarang, nama kami tidak berubah, makanya si pria ini tetap mengenali aku.

Dan sebelum saya tau endingnya kayak gimana, Mamak saya membangunkan saya. Katanya si Mamak mau pergi dan saya disuruh jaga rumah. Yailah, Mak. Jadi kepotong kan mimpinya.

Ini mimpi yang paling absurd menurut saya. Astaga. Semoga tuh orang gak baca postingan ini. Kalau dia baca, mungkin dia bakal ngakak se-ngakak-ngakaknya. Saya aja ngakak pas nginget-nginget mimpi tadi. Hahaha...

Friday, February 7, 2014

Mimpi itu... [part 3]

Mata kami bertatapan. Lama sekali. Tak lama ia menyentuh bibirku dengan lembut. Aku ingin meresponnya. Namun aku takut...

Hari ini saya mimpi beginian lagi. Ya Tuhan. Saya gak kuat dapat mimpi kayak gini. Saya capek. Next time, mending kasih saya mimpi jadi orang kaya gitu. Hiks...

Jadi tadi saya tidur sekitar pukul 3 pagi dan kebangun (gegara kepanasan dan suara bising di teras rumah) pukul 15.20 tadi.

Kami berempat. Ada aku, si A, si B, dan si C (saya gak tau nama asli mereka). Kami adalah sahabat dari kecil dan hari ini kami sedang jalan-jalan di taman bermain (macam Dufan).

Hari ini aku senang sekali bisa bermain bersama mereka. Rasanya gak mau pulang. Tapi apa daya, hari sudah mulai gelap. Si A yang lebih tua beberapa tahun dari kami, mengajak kami pulang. Si B (yang sedikit bandel dan seumuran dengan saya) enggan pulang. Lalu ia berlari ke arah game bersama si C (yang sedikit geek namun wajahnya sedikit lebih tampan daripada si A dan si B. Si C juga seumuran sama saya dan si B).

Game itu berbentuk ruangan kecil. Aku dan Si A menunggu di depan ruangan game itu. Suara berisik si B membuat kami tertawa kecil. Tak lama si B dan si C keluar dari ruangan itu. Mereka memamerkan skor mereka. Aku tertarik memainkannya.

Si C langsung menarik tangan aku. Kami masuk ke dalam kotak game itu. Ternyata game itu seru banget (padahal sih saya gak tau itu game apaan). Kami main lama banget. Lebih lama daripada si B dan si C main tadi.

Karena kami masih lama mainnya, si A dan si B mau membeli minum dulu. Kami hanya mengangguk tanpa melihat si A.

Tak lama setelah itu, pundakku dan pundak si C bersentuhan. Aku langsung menengok ke arah si C. Si C menatapku dengan tatapan yang belum pernah aku lihat.

Kemudian mata kami bertatapan. Lama sekali. Tak lama ia menyentuh bibirku dengan lembut. Aku ingin meresponnya. Namun aku takut ketahuan oleh si A dan si B. Aku takut persahabatan kami tiba-tiba renggang karena hal ini.

Aku memang gak ada rasa dengan mereka bertiga. Tapi aku merasa kalau mereka bertiga ada rasa denganku. Makanya aku bingung harus bagaimana disituasi ini.

Sentuhan bibir dari si C makin 'menjadi'. Aku gak sanggup melawannya. Akhirnya aku menyerah dan membiarkan si C 'menguasai' bibirku.

Dan gak lama saya langsung terbangun. Terima kasih telah memberikan mimpi seperti ini.

Ya Tuhan... Tolong jangan kasih saya mimpi kayak gini lagi. Gak kuaaat! :'(

Sunday, January 19, 2014

Mimpi itu... [part 2]

Saya histeris. Tak menyangka cupcake yang sudah dibuat setengah mati itu jatuh ke lantai. Iya, jatuh ke lantai...

Sudah berapa kali saya mimpi kayak gini? Saya udah gak ngitungin. Beberapa hari yang lalu saya juga mimpi seperti ini. Mimpi punya pacar. Tapi saya agak kaget dengan mimpi kali ini. Entah itu artinya saya masih ada perasaan atau tidak (tapi kalau saya pribadi sih sudah tidak punya perasaan lagi dengan pria yang satu ini).

Jadi sekitar jam 01.00 WIB dini hari tadi saya terbangun. Kali ini saya terbangun karena Mamak saya menyuruh saya untuk mengangkat barang-barang ke tempat yang lebih tinggi. Beliau takut rumah kami kebanjiran lagi karena air di anakan sungai Ciliwung di belakang rumah kami sudah sangat tinggi.

Dan alhamdulillah ternyata rumah saya tidak kebanjiran. Hehehe...

Balik lagi ke mimpi saya, awalnya saya enggan menuliskannya di blog ini. Karena pria yang menjadi kekasih saya dimimpi itu adalah Ivan, cinta pertama saya yang bertepuk sebelah tangan selama 9 tahun.

Saya masih kuliah. Sudah hampir mau masuk semester terakhir. Saya juga (sudah) punya pacar, yaitu Ivan. Kami sudah pacaran bertahun-tahun dan sekarang sedang memasuki masa-masa bosan-banget-pacaran-sama-elo.

Kami berdua sangat egois dan kekanakan.

Hingga pada suatu hari saya melihat Ivan bersama perempuan lain. Wajahnya begitu terlihat senang. Ia terus tersenyum dan tertawa dengan perempuan itu. Saya sangat kesal melihatnya!

Heh? Apaan tuh? Jadi dia mau selingkuh dari saya? Oke. Kalau memang dia mau selingkuh, saya juga bisa selingkuh!

Akhirnya saya 'selingkuh' dengan pria lain. Pria lain itu adalah sahabat saya (yang saya gak kenal. Jadi pokoknya saya 'selingkuh' sama sahabat saya). Sahabat saya ini mau membantu saya untuk manas-manasin Ivan.

Saya, Ivan dan sahabat saya itu sekampus. Jadi ketika saya sedang bersama sahabat saya dan Ivan lewat, saya langsung menggenggam tangan sahabat saya ini. Pokoknya saya selalu berpegangan tangan dengan sahabat saya bila ada si Ivan.

Hingga akhirnya saya sedang sendirian di depan sekretariat UKM dan Ivan menghampiri saya.

"Jadi elo sekarang selingkuh sama sahabat lo itu?! Hah?!"

"Gak usah marah-marah! Elo duluan yang mulai! Elo duluan yang mulai selingkuh dari gue! Jadi gak salah dong kalo gue selingkuh juga!"

"Gue? Selingkuh? Gue gak pernah selingkuh!"

"Halah! Buktinya malam itu gue lihat elo berduaan sama cewek cantik! Kelihatan seneng banget!"

"Cewek?"

Tiba-tiba wajah Ivan langsung berubah. Kali ini terlihat marah sekali.

"Bodoh! Itu kakak gue yang baru pulang dari luar negeri! Dangkal banget sih pikiran lo! Udahlah! Kita putus aja!"

Dan akhirnya Ivan pergi begitu saja. Saya langsung menangis dan menelpon sahabat saya. Tidak lama kemudian sahabat saya datang dan saya langsung menceritakan semuanya. Sahabat saya hanya manggut-manggut tanda mengerti dan pada akhirnya sahabat saya cuma bilang, "Yaudah buruan elo minta maaf deh daripada jadi putus beneran. Si Ivan itu kayaknya cuma ngegretak elo aja. Sana gih minta maaf".

Tiba-tiba saya sudah di dapur rumah saya dan sedang menghias cupcake. Saya membuat cupcake karena Ivan suka cupcake dan sekaligus untuk permintaan maaf saya ke Ivan.

Setelah saya selesai membuat cupcake, saya segera berdandan dan siap-siap ke rumah Ivan. Namun saat saya sedang membawa cupcake itu, saya tersandung kaki kursi. Cupcake saya jatuh ke lantai.

Saya histeris. Tak menyangka cupcake yang sudah dibuat setengah mati itu jatuh ke lantai. Iya, jatuh ke lantai...

Tiba-tiba saya tidak tau lagi kelanjutan dari mimpi itu. Saya keburu dibangunin sama Mamak saya.

Ya Tuhan... Ini adalah mimpi yang absurd banget. Mimpinya di malam minggu pula. Huft.

Monday, January 13, 2014

Mimpi itu...

Saya berlari kecil menuju parkiran mobil. Sahabat saya, Annisa sudah berjalan dua meter di depan saya. Sesaat saya menengok kebelakang untuk melihat pria yang sekilas mirip Michael Cera itu untuk terakhir kalinya...

Jadi tadi siang, sekitar pukul 12.00 WIB, saya terbangun dari tidur saya untuk kedua kalinya (sebelumnya saya terbangun sekitar pukul 04.00 WIB). Saya mengucek mata, kesal.

Untuk kesekian kalinya saya bermimpi mendapatkan pacar. Saya stres kalau sudah mendapat mimpi seperti ini. Saya capek mengetahui kalau semua itu hanya mimpi. Karena ketika kamu bangun dari tidur, mimpi itu akan musnah.

Sudahlah.

Oke... Saya akan menceritakan menceritakan mimpi saya tadi siang.

Pekerjaan saya didalam mimpi itu adalah pemilik dari sebuah event organizer. Saat itu saya sudah berumur 25 tahun dan masih lajang. Fisik saya terlihat oke didalam mimpi itu. Saya memakai kemeja berwarna krem dan rok hitam. Saya juga memakai heels setinggi 8cm dan membawa buku catatan dan tas kulit berwarna hitam.

Pagi itu saya harus mengurus keperluan untuk pernikahan tante saya (yang saya bingung, tante saya menikah dengan suaminya lagi untuk kedua kalinya. Hahaha... Namanya juga mimpi).

Annisa, sahabat saya dari SD sekaligus asisten saya, menemani saya berbelanja di sebuah supermarket (yang benar-benar super lengkap banget). Saya dan Annisa mengelilingi supermarket (yang luasnya minta ampun) tersebut.

Dan sampailah kami di wilayah buah-buahan. Saya teringat bahwa tante saya meminta saya untuk membeli buah kesukaannya (saya lupa buah apa yang dia minta).

Saat saya dan Annisa mencari-cari buah itu, tak sengaja mata saya beradu pandang dengan salah satu pria yang bekerja di daerah buah-buahan itu. Ia sekilas mirip Michael Cera. Potongan rambutnya mirip dengan potongan rambut Michael Cera di film Magic Magic. Ia tersenyum ketika mata kami beradu.

Saya membalas senyumannya.

Namun tiba-tiba Annisa berlari ke arah saya dengan panik. Ia menerima telpon kalau tante saya mau buah yang ia mau harus ia terima sejam sebelum akad nikahnya dilaksanakan (jadi didalam mimpi ini, tante saya mempunyai sifat manja, padahal aslinya sih enggak).

Saya panik. Saya langsung mencari buah tersebut dan langsung mengambilnya dan memasukannya ke kantong plastik. Saya sempat melewati pria yang mirip Michael Cera itu sebelum membayar buah tersebut di kasir. Kemudian setelah saya dan Annisa membayarnya, kami langsung menuju parkiran mobil.

Saya berlari kecil menuju parkiran mobil. Sahabat saya, Annisa sudah berjalan dua meter di depan saya. Sesaat saya menengok kebelakang untuk melihat pria yang sekilas mirip Michael Cera itu untuk terakhir kalinya.

Saya pikir sih begitu.

Setelah ngebut dari supermarket itu, sampailah kami di tempat akad nikah. Tante saya senang bukan main dengan apa yang kami bawa. Namun saya baru sadar bahwa BUKU CATATAN SAYA JATUH.

Saya ingin mencarinya namun saya masih punya pekerjaan di pesta pernikahan itu. Jadi saya menundanya untuk mencarinya.

Sore pun tiba. Pesta pernikahan itu masih berlangsung (karena pestanya sampai malam). Saya izin pulang ke tante saya dan pekerjaan saya di pesta itu akan digantikan oleh Annisa. Saya ingin cepat-cepat pulang karena sudah benar-benar gatal ingin mencari buku catatan saya. Itu buku benar-benar penting. Saya gak mau kehilangan buku itu.

Dengan mengemudikan mobil hingga 80km/jam, sampailah saya di supermarket itu (entah kenapa tiba-tiba kepikiran kalau jatuhnya di dalam supermarket itu). Saya langsung menuju ke pusat informasi namun pusat informasi itu tidak tau apa-apa karena belum ada yang melapor tentang buku catatan saya itu.

Akhirnya saya masuk ke dalam supermarket itu dan langsung berjalan menuju wilayah buah-buahan. Saat saya sedang mencari-cari, tiba-tiba ada suara yang mengagetkan saya.

"Mencari buku ini?"

AKH! Pria yang mirip Michael Cera itu! Ia tersenyum manis sekali.

Dan tiba-tiba saya terbangun dari tidur saya karena ingin buang air kecil. Damn! Mimpi indah saya hancur! 

Ya begitulah. Saya selalu mimpi hampir-dapat-pacar tapi pada akhirnya saya gak tau endingnya kayak gimana karena saya keburu kebangun. Hiks :')