Friday, December 27, 2019

Is this love?

Siang itu, saya dan beberapa kolega perempuan berniat turun ke bawah untuk makan di kantin. Kami masuk ke dalam lift setengah penuh. Saat itu saya tidak memiliki ekspektasi apa-apa.

Saat itu pintu lift terbuka di lantai 3, saya langsung terperajat tatkala melihat dia, salah satu kolega pria yang menarik, berdiri di depan pintu lift.

Mata kami bertemu, namun beberapa detik kemudian saya langsung menunduk sambil mundur sedikit untuk memberikan ruang agar dia bisa masuk ke dalam lift.

Saya melihatnya kembali, dan ia menggerakan alisnya tanda menyapa saya. Namun dengan bodohnya, saya malah kembali menunduk karena malu.

Kalau kami hanya berdua di lift, mungkin keadaanya akan seperti ini πŸ€ͺ

Kala itu lift jadi lumayan penuh, namun tidak desak-desakan. Ia terlihat agak repot karena membawa tripod dan kamera video. Salah satu kolega saya menyolek dia, bertanya "Mau kemana?"

Kurang lebih dia jawab, sambil tersenyum manis, "Biasa lah Mbak, liputan."

Sejak saat itu, hati saya deg-degan tidak karuan. Rasanya panas. Semenit, dua menit, hingga sejam kemudian hati saya masih deg-degan, seakan enggan berhenti. Rasanya saya mau menangis karena hati ini tiba-tiba enggak karuan.

Bekal yang saya bawa pun tidak habis, saya benar-benar tidak nafsu untuk makan, ataupun bekerja. Salah satu kolega saya sampai heran kenapa saya tidak menghabiskan bekal tersebut, tidak seperti biasanya.

Ini ada apa sih? Akhirnya saya mencari tahu mengenai hal ini. Kalau menurut sebuah artikel, ini tandanya saya sedang jatuh cinta. MASA IYA?!?! 😭

Kok saya jadi jatuh cinta beneran sih??? Saya kan niatnya cuma suka gitu-gitu aja karena orangnya manis, bukan buat beneran jatuh cinta! Haduuuh!

Guna meyakinkan diri sendiri, saya langsung kirim pesan WhatsApp ke salah satu kawan saya yang super gesrek aka Umire.

"Ya beneran suka hahaha," ujar Umire.

No no no! Gak mau! Saya enggak mau jatuh cinta lagi! 😭😭😭

Umire menyarankan saya untuk berdiskusi dengan kawan saya lainnya bernama Putri, yang katanya udah profesional dalam hal receh begini. Saya langsung kirim pesan WA, meminta Putri untuk datang ke tempat nongkrong lebih cepat dari biasanya setelah jam pulang kantor.

Ketika bertemu dengan Putri di tempat nongkrong, saya mengambil nafas dalam-dalam dan langsung menceritakan duduk perkaranya. Selain Putri, ada kawan saya yang lain di sana, Dhani yang juga mendengarkan kisah picisan ini.

Dengan cepat Putri langsung menyimpulkan kalau saya memang benar-benar jatuh cinta dengan kolega saya tersebut. Mereka tertawa dengar kisah ini, kapan lagi lihat perempuan berusia 25 tahun bilang jatuh cinta beneran macam ABG. πŸ˜“

Alasan saya tidak mau jatuh cinta lagi karena jatuh cinta beneran seperti ini sama saja 'membunuh' saya. Roman picisan yang endingnya sudah jelas kalau rasa suka saya tidak akan diterima dengan baik.

Kok bisa yakin? Ya karena dulu kan juga sempat kejadian seperti ini, waktu saya suka dengan cinta pertama selama 9 tahun. Takut deh saya, sumpah.

Putri bilang, memang saya enggak bisa mengatur perasaan saya, tapi setidaknya saya bisa mengurangi rasa suka saya dengannya.

Ia memberi saya saran untuk tidak menghiraukannya. Saya cukup bersyukur, walaupun berada di satu perusahaan yang sama, kami berbeda divisi, juga berbeda ruang dan laintai. Jadi setidaknya saya tidak akan bertemu dengannya setiap hari.

Jujur, ini pengalaman yang cukup lucu sih karena tahu-tahu suka bisa suka sama orang yang bahkan jarang berkomunikasi hahaha πŸ˜…

Sunday, December 22, 2019

The Truth

"Kamu jadi pengangguran lagi ya?"

Saya tersedak saat mengunyah gorengan bakwan ketika Mamak bertanya hal tersebut.

"Iya. Kenapa?" tanya saya sambil tetap menguyah sisa bakwan.

"Kenapa lagi sih?"

"Dipaksa resign." jawab saya singkat.

"Heh?" tanya Mamak lagi, kali ini penasaran.


"Iya dipaksa resign. Abis leadernya toxic, lingkungannya jadi ikutan toxic," jawab saya sambil mengambil bakwan lain di piring.


Mamak hanya mengangguk paham dengan jawaban tersebut. Saya terdiam beberapa saat, sampai terlintas satu pertanyaan yang jawabannya akan selalu sama; "Sebenernya Mamak ikhlas gak sih anaknya jadi jurnalis?"

"Enggak." jawab Mamak dengan mantap.

TUH KAN! 

"Ya terserah sih, udah tau anaknya batu, masih juga dilarang," kata saya sambil ngenye ke arah Mamak yang langsung pasang wajah mesem.

***

First of all, I'm not trying to burn the bridge. I'm just sharing what happens a couple months ago, and I'm sick of this person. 

Jadi tanggal 27 Juni lalu, saya resmi menyerahkan surat resign paksaan ke kantor. Ingat ya, saya bukan resign atas kemauan sendiri, tetapi dipaksa. Sekali lagi, saya dipaksa menyerahkan surat resign pada bulan keempat bekerjapadahal kontak kerja masih ada dua bulan lagi.

Ada berbagai alasan mengapa akhirnya surat resign paksaan itu sampai ke HRD. Salah satunya karena so-called-leader yang toxic parah. Saya dipimpin oleh seseorang yang cukup toxic, menganggap dirinya seorang pemimpin, padahal hanya sampah masyarakat yang tidak paham apapun.

You can call me harsh, but really, he's the worst team leader I ever hadPadahal dia hanya seorang koordinator lapangan (korlip) di perusahaan tersebut. Rumornya, dia diangkat dari penulis jadi korlip karena ia pintar 'menjilat' dan 'cari muka' dengan atasan. Haduh.

No. Ini tidak bisa dibilang gosip, tapi memang benar fakta dia orangnya seperti itu. Orang-orang macam dia memang harusnya tidak diberikan kekuasaan untuk memimpin banyak orang, karena memang tidak capable.

Beberapa waktu sebelum surat resign paksaan itu dilayangkan ke HRD, saya sempat dipanggil HRD tanpa adanya pemberitahuan terlebih dahulu. Jujur, saya kaget. 
Ada apa?

Ternyata si korlip tersebut sudah mengadu ke HRD bahwa pekerjaan saya tidak benar, dan ia meminta HRD untuk memecat saya.

Sebelum kepala HRD meminta surat resign paksaan saya, dia bilang untuk saya mencoba berbicara dengan korlip tersebut. Menurut kepala HRD, takutnya ini hanya kesalah-pahaman.

And I was like... What?

Jadi saya disuruh memohon-mohon, gitu? Oke kalau mau kamu begitu, saya ladeni. Saya membuang semua ego saya karena masih pengin mempertahankan pekerjaan tersebut, sebab saat itu saya belum mendapatkan pekerjaan lain.

Sekali lagi, saya belum mau mencoba burning the bridge, jadi saya mencoba berbicara dengan leader toxic dan salah satu kacungnya.

Tapi... selama berbicara dengan mereka, saya rasanya mau meledak!

Ingin rasanya menyemprotkan kata-kata kasar ke mereka, karena mereka sebodoh itu. Banyak sekali alasan-alasan tak masuk akan yang mereka lontarkan. Bahkan mereka menjelek-jelekan reporter lain yang tidak sepaham dengan mereka. AMPUN GAK PAHAM LAGI DEH JAHATNYA MULUT DAN PEMIKIRAN MEREKA.

Tapi semua itu saya tahan. Sekali lagi, saya masih ingin mempertahankan.

Lalu yang bikin kaget, alasan mengapa saya dipaksa resign karena... karena saya enggak asik. Bahkan salah satu kacung korlip tersebut bilang kalau saya terlalu sering nulis berita lifestyle dan entertainment.

Hah? Gimana? πŸ€”πŸ€”πŸ€”

Saya pikir ada yang salah dengan tulisan atau lainnya. Misalnya tulisan saya banyak typo dan lain-lain, tapi ternyata bukan. Saya dicut karena tidak asik dan terlalu sering menulis berita lifestyle dan entertainment.

Sungguh alasan pemecatan yang tidak profesional.

Padahal dulu, waktu awal-awal saya masuk, pemimpin redaksi (pemred) meminta saya untuk banyak menulis artikel soal lifestyle dan entertainment karena tidak ada bisa menulis hal tersebut.

Saya juga awalnya kaget, soalnya media ini kan kental banget dengan citra politiknya, masa mau masukin tulisan lifestyle dan entertainment yang receh sih? Tapi waktu itu pemrednya sendiri yang nyuruh saya. Ngomongnya di depan para editor juga, jadi saya manggut-manggut aja, walaupun sedikit bingung.

Anyway, akhirnya saya ikhlas dipaksa resign. Sekitar 1 minggu setelahnya, saya resmi keluar dari perusahaan tersebut.

Tapi entah kenapa rasanya kok hati ini lega sekali, plong gitu. OMG. I was wrong. Tidak seharusnya saya mempertahankan hal yang beracun seperti ini. Memang lebih baik keluar dari lingkungan dan manusia-manusia toxic, biar enggak ketularan sakit.

Beberapa saat setelah saya dan salah satu kawan saya keluar dari lingkungan toxic tersebut, banyak kawan-kawan seperjuangan di sana yang juga bernasib sama seperti saya. Tapi yang mengherankan... mereka semua merasa lega keluar dari perusahaan tersebut.

Beberapa di antara mereka bahkan sudah mendapatkan pekerjaan lain yang jauh lebih baik. Syukurlah!

***

Note: Tulisan saya ini sudah berada di draft beberapa hari setelah setelah saya resmi keluar dari perusahaan tersebut. Awalnya saya enggan mempublikasikannya karena masih menghargai mereka. Tapi rasanya kok gak guna ya kalau peristiwa beracun ini disimpan sendiri. Jadi saya publikasikan saja sekalian. Bye toxic!

Saya juga menuliskan hal ini lewat postingan saya sebelumnyaKamu juga bisa membaca postingan kawan saya yang sama-sama dipaksa resign di sini. 

Saturday, December 21, 2019

25

Saya baru sadar jadi perempuan berusia 25 tahun itu melelahkan.

Ada banyak ekspektasi yang orang inginkan dari saya, seperti punya kekasih dan menikah. I MEAN, WHO THE F*CK ARE Y'ALL??? Kok berani banget kasih saya ultimatum, padahal kalian bukan siapa-siapa saya.

Punya kekasih atau menikah itu bukan perlombaan ya, jadi enggak perlu diburu-buru! πŸ€¦πŸ½‍♀️

Saya pernah posting sebuah Instagram Story mengenai hal ini. Saya tekankan lagi, punya kekasih atau menikah bukanlah sebuah lomba atau persaingan. PUNYA KEKASIH DAN MENIKAH BUKAN PERLOMBAAN. Tolong jalani saja masing-masing or better shut the f*ck up.

Buat saya, menikah bukan hanya soal cinta dan jadi halal kalau mau bersanggama. It's beyond that. Ini soal komunikasi dan komitmen untuk hidup bersama, dan juga soal keterbukaan atau transparansi antara pasangan dalam segala hal. 

Jujur, saya paling malas mendengar ocehan pasangan yang baru menikah atau orang tua yang gembar-gembor mengenai indahnya hidup bersama, dan mengajak para lajang untuk segera menikah.

Hhh... Saya mau galak sedikit. Kedua orang tua saya, khususnya Mamak, hanya pernah bertanya sekali mengenai kisah percintaan saya, dan itu pun sudah lama sekali. She's never ask about that shit again, karena saya yakin beliau tahu saya sedang menikmati hidup.

Lalu tiba-tiba, kalian-kalian ini, yang tidak kasih saya makan atau pun menghidupi saya, kasih ultimatum seperti; "Nikah dong biar gak sendirian kemana-mana", "Kamu kapan nikah? Itu kakak-kakak kamu udah pada nikah dan punya anak", "Umur sudah segini kok gak punya pacar juga?", "Lo normal gak sih?" atau "Elu gendut sih, makanya gak laku".

F*CK Y'ALL. πŸ–•πŸ½

Gini, saya banyak melihat masalah-masalah yang dihadapi para pasutri. Tidak usah jauh-jauh, saya melihatnya dari orang tua, dan kedua kakak saya yang sudah menikah. Saya juga melihatnya dari teman-teman saya yang menikah muda dan beberapa diantaranya harus gugur karena ego masing-masing.

Kalau mau jujur, saya belum siap berkomitmen soal menikah. Bukannya saya takut, tapi menikah tanpa persiapan mental yang matang adalah 'bunuh diri'. Maka dari itu, saya masih ingin bebas menggali dan mengenal lebih jauh diri sendiri.

Di sisi lain, sebagai salah satu Sagitarius, saya ini cinta kebebasan dan tidak ingin dikekang oleh hubungan apapun saat ini. Saya masih ingin bebas bekerja, nongkrong bersama teman-teman, menonton bioskop sendirian, dan lain-lain.

Menurut saya, ini bentuk saya dalam mencintai diri sendiri. Dengan begini juga saya bisa jauh lebih mengenal baik dan buruknya diri sendiri. Maka ketika saya siap, artinya saya sudah mengenal diri sendiri. Jadi kalau pun ada masalah, setidaknya saya bisa menanganinya dengan baik.

Oh ya, menjawab normal atau tidak, saya normal dan saya masih tertarik dengan pria. Ada salah satu kolega yang saat ini sedang saya suka karena wajahnya manis. Tapi hanya sebatas suka gitu aja sih, enggak ada keinginan buat petrus jakador.

Karena balik lagi, sekarang saya lagi enggak mau terikat oleh hubungan apapun. 

Jadi intinya, ada saatnya nanti saya siap untuk menikah kok, tapi tidak sekarang. Begitulah. Clear ya, enggak perlu kalian begini lagi ke saya. Terima kasih! πŸ’…πŸΌ

***

Hadeuh, niat hati mau menulis yang menyenangkan soal ulang tahun ke-25 kali ini, tapi yang terlintas malah hal-hal yang menyebalkan dan malah bikin saya misuh-misuh. Maaf deh ya, habis kalau dipendam malah akan jadi bom waktu, jadi lebih baik saya utarakan.

Terus, kalau dipikir-pikir, jadi orang dewasa itu memang sulit sekali ya. Saya jadi paham,  sekarang makin banyak orang yang berusia tua, bukannya lebih bijaksana malah makin jadi sok tahu. Padahal itu bukan urusan mereka, tapi banyak yang ikut campur. Capek deh.

Semoga saya nanti tidak seperti itu ke orang lain. Noted! 

***

Anyway, saya mau cerita mengenai apa yang terjadi kepada saya selama satu tahun terakhir ini. Lagi-lagi, sama seperti tahun lalu, hidup saya terombang-ambing layaknya sedang naik wahana roller coaster. It's fun, tapi di sisi lain bikin pusing juga, tapi pada akhirnya I enjoyed it.

Cerita setahun terakhir ini lebih ke soal pekerjaan dan karir sih. Jika tahun lalu saya dua kali pindah perusaahan, tahun ini pun sama. Ini bukan mau saya juga sih, tapi yah memang lagi kurang beruntung saja dapat atasan yang (lagi-lagi) toxic. πŸ˜‚

TL;DR pada perusahaan ketiga, saya dipaksa resign oleh ketiga koordinator lapangan (korlip) saya. Saya ingat betul apa kata kepala HRD mengenai alasan saya dipaksa resign.

"Kata mereka, kamu enggak asik"

Saya gak kaget sih, karena orang-orang di kantor tersebut memakai sistem like and dislike.  Kalau kamu sudah enggak mereka suka, ya kamu ditendang.

Lingkungan kantor juga sudah tidak sehat alias toxic abis. Di sana kalian bakal menemukan  orang-orang dengan jabatan atas yang toxix. Mereka bersikap bossy dan tentu semena-mena kepada para reporter.

Bahkan kalian juga akan menemukan sekelompok korlip yang tidak punya pengalaman di media berbasis online tetapi malah diangkat dan diberikan posisi tersebut. INI. MIND-BLOWING. SEKALI. πŸ€¦πŸ½‍♀️🀦🏽‍♀️🀦🏽‍♀️

Mereka bahkan tidak up to date atau berusaha mempelajari isu terkini. At least, Googling lah kalau enggak tahu! Kalah jauh dengan para reporter yang mereka dzolimi. Giliran dikasih tahu soal isu terkini yang seharusnya diangkat, mereka malah marah karena merasa digurui. πŸ€£πŸ€£πŸ€£

Ini merupakan hal yang fatal untuk sebuah media berbasis online sih, sebab reporter dipimpin oleh orang-orang tak berpengalaman di online sebelumnya.

Padahal ya, kita bisa belajar bersama, sama-sama belajar, bukan saling menjatuhkan. Tapi kayaknya hal-hal baik kayak gini enggak berlaku buat mereka.

Oh ya, misal ada orang-orang dari kantor lama, terutama yang manusia-manusia toxic membaca ini, tolong wawas diri, introspeksi, atau refleksi diri kalian. Kalau kata Muslim dan Coki, MUHASABAH DIRI ANDA dan bersikaplah profesional.

Kembali ke topik awal. Alasan saya enggak disukai karena terlalu vokal dalam menyuarakan pendapat. Apalagi saya suka mempertahankan opini dan hak saya. Karena hal ini, bahkan salah satu korlip itu pernah mengancam saya secara personal.

Saya tidak berbohong soal ancaman. Saya masih ada bukti chatnya~

Mereka, khususnya sekelompok korlip tersebut, memang tidak suka dengan reporter yang terlalu vokal, makanya saya dicut dan disemena-menakan.

Tapi fenomena ini enggak hanya terjadi kepada saya. Sebulan sebelumnya, dua reporter juga dipaksa resign karena terlalu vokal. Bulan berikutnya, saya dan kawan saya juga dipaksa resign. Bulan selanjutnya juga ada dua teman saya yang dipaksa resign.

Hingga kini, dari 28 reporter yang tergabung, hanya sisa belasan. Ada yang memang resign karena memang kantor sudah setoxic itu, namun lebih banyak yang dipaksa resign. Bahkan beberapa hari yang lalu, kedua kawan saya yang masih bertahan di sana juga dipaksa resign dengan alasan yang tidak masuk akal.

Oh ya, dipaksa resign itu sebenarnya kita dicut kantor, tapi kita pula yang kasih surat resign. Iya, mereka memang licik sekali, biar enggak kelihatan main kotor.


Saya baru berani menuliskan hal ini sekarang karena sudah tidak ada beban. Kemarin-kemarin saya tahan karena saya masih menghargai mereka, tapi rasanya udah gak guna juga. Jadi sekalian saja lah saya burn the bridge. Bye toxic! πŸ‘‹πŸΌπŸ‘‹πŸΌ


***

Tapi selalu ada hikmah dibalik hal buruk. Selalu ada pelangi setelah badai.

Pasca dipaksa resign, saya gencar kirim lamaran ke berbagai media dan perusahaan startup ternama. Ada 8 lamaran yang dikirim lewat email, dan puluhan lamaran via situs pencari kerja (i.e JobStreet, Kalibrr, UrbanHire, Jobs.ID, dan Glints) ataupun langsung ke situs perusahaan.

Setiap minggu saya bisa bolak-balik ke percetakan untuk mencetak CV dan portofolio saya sebagus mungkin, agar menarik dibaca oleh para recruiter. Tidak perlu bertanya sudah habis berapa uang saya untuk hal ini, karena saya sendiri enggak berani menghitungnya.

Akhirnya... penantian berakhir.

Setelah mengikuti beberapa kali proses interview di berbagai perusahaan dalam waktu sebulan lebih, akhirnya saya diterima di sebuah perusahaan media ekonomi waralaba.

Proses penerimaan saya sebagai reporter juga terbilang cukup singkat. Setelah beberapa hari mengirimkan lamaran lewat email, saya ditelepon untuk ikut psikotes dan interview. Interview dengan user, yakni korlip dan editor juga terbilang singkat.

Setelahnya saya sih enggak berharap banyak dan cuma bisa berserah kepada Allah soal hasilnya. Diterima atau enggak, yang penting saya sudah ikuti prosesnya. Nothing to lose kalau kata Umire, salah satu kawan saya yang gesrek itu.

Eh dua hari setelahnya, saya ditelepon HRD. Mereka bilang saya lolos dan langsung nego gaji. Saya udah enggak pakai nego, dan langsung menerima pekerjaan tersebut. Hari Senin berikutnya saya datang ke kantor untuk tanda tangan surat perjanjian kerja, dan foto untuk ID card press.

What a day to be alive.

Saat ini saya masih bekerja di media tersebut, dan saya harap saya bisa bekerja di sini hingga beberapa tahun mendatang. Saya betah bekerja dengan mereka yang memang profesional dalam bidangnya.

Tentu saya yang tadinya goblok banget soal ekonomi, jadi sedikit paham dunia ekonomi. Memang jadi reporter itu harus bisa belajar apapun, apalagi ekonomi yang jadi momok menakutkan sejak saya SMA dulu.

Hai, Mbak dan Mas, saya senang bekerja dengan kalian. Terima kasih sudah memberi saya kesempatan yang baik untuk selalu belajar. πŸ˜Š

***

Lalu apa yang saya lakukan di hari ulang tahun kali ini?

Berbeda dengan tahun lalu, dimana saya bebersihan kamar, saya bangun jam 9 pagi, abis itu gelegoran saja di kasur. Terus saya makan nasi kuning yang dibeli tadi pagi sama Mamak. Bikin kopi, dan melanjutkan beberapa pekerjaan yang belum kelar.

Di sela-sela waktu mumet kerjaan, saya menulis postingan ini.

KOK GAK FANCY BANGET YA? πŸ€£πŸ€£πŸ€£

Pengin deh sesekali ulang tahun fancy, kayak makan di restoran mewah sambil mengenakan pakaian cantik gitu. Atau solo traveling ke luar negeri. Mungkin tahun depan ya. Nabung dulu kita! Semoga tercapai! Amin! πŸ™πŸΌ

Tambahan: Mamak ngajak makan malam di luar. Tadinya mau makan di Shabu Hachi, tapi akhirnya melipir ke Abuba Steak. Acara birthday dinner dadakan tersebut bahkan sempat saya buat thread di Twitter. Enjoy! πŸ€£

Monday, November 25, 2019

Mixed feeling songs

Setidaknya ada enam lagu yang bikin perasaan nano-nano saat mendengarkannya. Here's the list!

Plastic Love - Mariya Takeuchi




Nobody - Mitski


Lucky Girl - Fazerdaze


Long Gone - Phum Viphurit


Berlayar - Dried Cassava


Your Dog Loves You - Colde ft. Crush


Why do I feel so happy and sad, young and old, nostalgic and present at the same time when listening to these songs? 🀷🏽‍♀️🀷🏽‍♀️🀷🏽‍♀️

Saturday, November 23, 2019

Bukan jatuh cinta

Saya pertama kali bertemu dengannya ketika sedang ditugaskan dalam satu liputan yang sama. Walaupun berada di satu perusahaan yang sama, kami berbeda divisi, juga berbeda ruang dan lantai.

Hari itu, Jumat, 23 Agustus 2019 pukul 09.48 WIB, masuk sebuah pesan lewat WhatsApp darinya.

πŸ‘¦πŸ½ : "Mbak, ini saya (menuliskan nama). Ini jadi jalan ke lokasi bareng kan dari kantor?"

πŸ‘©πŸ½ : "Jadi Mas. Mas udah di kantor?"

πŸ‘¦πŸ½ : "Iyaa. Saya di lantai 3 ya."

πŸ‘©πŸ½ : "Oke, langsung ke lantai 3."

πŸ‘©πŸ½ : "Mas, jam 10.25 aku ke bawah ya."

πŸ‘¦πŸ½ : "Bawah mana? Lobby?

πŸ‘©πŸ½ : "Di lobby aja kali ya biar langsung (jalan)"

πŸ‘©πŸ½ : "Mas, udah di lobby"

πŸ‘¦πŸ½ : "Oke ke bawah gue"

Kira-kira itu lah percakapan yang terjadi.

Dalam percakapan awal tersebut, saya menggunakan kata 'aku' dan memanggilnya dengan panggilan 'mas' karena saya pikir ia lebih tua dibandingkan saya. Kesopanan tetap harus tetap dijaga dong ah!

Pertemuan terjadi di lobi kantor. Entah mengapa saya langsung terperanjat ketika melihatnya. Jujur, dia benar-benar terlihat manis pada pandangan pertama!

Harusnya dia gak saya panggil 'mas', karena kayaknya dia seumuran dengan saya. Saya ingat betul dia berjalan ke arah saya, dengan menenteng tripod dan kamera video.

Saya juga ingat sempat fokus dengan rambutnya yang curly gondrong dan sedikit berantakan —yang sungguh malah menambah tingkat ke-manis-an dirinya. Gosh, he's really cute tbh! Saya memang enggak kuat dengan orang-orang yang terlihat manis.

Is this love at first sight? Yah, well, enggak seberat 'love' juga sih. Mungkin bisa disebut dengan ketertarikan pada pandangan pertama. πŸ€·πŸ½‍♀️

Dengan mengenakan kemeja lengan pendek kotak-kotak dan celana jeans, ia menyapa saya. Kami berjabat tangan. Kemudian kami menunggu salah satu orang untuk langsung berangkat ke lokasi liputan dengan jasa taksi online.

Beberapa jam setelahnya, liputan kami sukses dan selesai dengan baik. Kami kembali ke kantor dan berpisah ke ruangan masing-masing.

Setelah itu, sekitar sebulan kemudian, saya baru melihatnya lagi. Ia sedang ditugaskan dalam sebuah program berita di lantai tempat saya bekerja. Beberapa kali saya meliriknya, ia sedang sibuk mengoperasikan kamera, dan ketika kamera sedang roll, ia sibuk dengan smartphonenya.

Beberapa waktu kemudian, saya melihatnya kembali ketika sedang mendatangi meja sekretaris redaksi untuk melakukan reimbursement. Saya curi-curi pandang macam maling karena takut mata kami bertemu. Keki dong ah kalau sampai ketahuan tertarik! πŸ™„

Memang agak sulit jadi salah satu Sagitarius. Serius, kalau lagi tertarik sama orang bisa seaneh ini. Tapi juga gak mau kelihatan kalau tertarik dengan orang tersebut alias harus ditutupi!

Sagi tuh api, gak boleh lembek dan harga diri harus jadi prioritas utama, bahkan dalam hal receh suka-sukaan begini. Gengsi ah kalau ketahuan tertarik atau suka gitu~

Beberapa minggu kemudian, tepatnya pada 10 November lalu, kami bertemu lagi dalam liputan yang sama di Gelora Bung Karno. Ia mengenakan kaos warna toska, dengan belang di kedua lengan tangannya. Kayaknya abis panas-panasan dan dia enggak pakai sunblock atau lotion. πŸ˜…

Waktu itu, kami hanya berbincang sebentar, sekadar basa-basi. Saya memang agak tidak fokus, karena di luar liputan itu saya harus nyetor beberapa tulisan kepada editor yang sedang piket.

Terakhir saya melihatnya di depan kantor, itupun tidak sengaja. Kami berpapasan, dan saya baru menyadari itu adalah dia setelah beberapa detik berpapasan. Ya maklum deh, mata saya sudah minus hampir 4 dan kacamata yang sekarang saya gunakan memang sudah harus diganti.

Tapi memang selama ini, dari dia tidak pernah menyapa saya terlebih dahulu sih. Ya namanya juga belum lama kenal, jadi mungkin sungkan. Tapi saya juga sungkan nyapa duluan karena tidak mau terlihat cari perhatian. πŸ˜‚


***

Eh tapi kalau dibilang saya falling in love dengan dia, enggak juga ya. Jangan salah sangka  ya, karena saya cuma tertarik berkat parasnya yang manis. Dari awal juga tidak ada keinginan untuk pendekatan atau petrus jakandor. πŸ‘‡πŸ½πŸ‘‡πŸ½πŸ‘‡πŸ½



For your infomation, saya ini memang mudah tertarik dengan seseorang, namun juga mudah menghilangkan perasaan tertarik itu. Rasa tertarik saya akan langsung hilang apabila pria tersebut sudah memiliki pacar atau bahkan beristri dan beranakBeneran deh!

Percayalah, saya enggak ada bakat jadi pelakor kok. 🀣

Selain itu ada alasan kenapa saya berani menulis postingan (yang punya potensi dibaca oleh bersangkutan atau kolega lain, dan jadi bahan cengan) ini: karena akhirnya saya kembali tertarik dengan seorang pria setelah bertahun-tahun enggak tertarik.

Ini kayak sebuah pencapaian yang patut diapresiasi! πŸ˜‚

Gila juga sih ya. Ini saya, dalam beberapa tahun terakhir, memang belum lagi tertarik dengan pria-pria yang selama ini bersinggungan dengan hidup saya. Ya alasannya apalagi kalau bukan soal prioritas.

Masa-masa punya pacar atau pasangan adalah prioritas itu ketika saya SMA dan kuliah. Sayangnya, prioritas yang dulunya (kayak) penting ini, harus rela diganti dengan prioritas karir yang sedang saja jalani.

Lagian selama ini saya juga biasa saja hidup tanpa pacaran. Hidup di dunia hampir 25 tahun, dengan banyaknya populasi laki-laki, saya malah hanya pernah pacaran sekali dalam seumur hidup.

Lima tahun lalu, saya sempat pacaran dengan salah satu senior di Himpunan kejurusan, dan hanya bertahan tok dua minggu dengannya. Putus karena terjadinya peristiwa menjijikan yang langsung membuat saya ilfeel parah!

Setelah itu saya enggak pernah pernah pacaran lagi. Namun jika saya bosan dengan kesendirian, saya akan aktif main aplikasi pencari perjodohan macam Bumble dan Tinder. Tapi abis main, yaudah gitu aja. Saya mah anaknya memang mudah bosan.

Well, tapi saya akui kalau saya juga terkadang galau, namun hal itu hanya seasonal aja kok. Masih dalam batas manusiawi juga kok ke-galau-an yang saya alami.


***

Saya sebenarnya mau membuat pengakuan: saya jauh lebih nyaman jika orang yang saya suka tidak mengetahui perasaan suka saya. Macam jatuh cinta diam-diam atau secret admirer gitu lah.

Memang, memendam perasaan tidak baik untuk kesehatan jiwa dan mental. Namun saya baru paham mengapa jadi seperti ini: saya memiliki trauma dalam menyatakan perasaan ke orang lain, dan akibatnya, saya masih sulit untuk membuka hati kepada pria.

Kisah ini dimulai ketika cinta pertama yang begitu pure selama 9 tahun hanya dibalas  dengan kata "sorry"

Mungkin saya enggak bakal memiliki trauma dan pengalaman pahit dengan pria kalau saja waktu itu dia membalas pernyataan saya dengan, misal: "Maaf ya. Terima kasih sudah menyukai saya, tapi maaf saya tidak bisa membalasnya. Tapi kita masih bisa berteman kok" atau kalimat senada.

I think it'll be nice, ya gak sih? πŸ™‚

Masalahnya, waktu itu dia tidak membalas seperti itu. Dia menjauhi saya, dan saya merasa dia seperti jijik jika saya suka dengannya. Ditambah, jawabannya saat itu membuat saya merasa worthless.

Pertanyaannya, apakah saya bisa membuka hati lagi? Sejujurnya saya takut. Saya enggak mau merasakan sakit yang sama lagi. Call me coward, tapi itulah kenyataannya.

Makanya, saya lebih senang menyukai seseorang diam-diam, dan tidak mengumbar-umbar hal tersebut, apalagi dengan orang yang bersangkutan.

Well, kita juga memang enggak bisa memaksa orang untuk membalas perasaan kita kan. Yah kalau soal cinta pertama sih saya udah ikhlas lah membuang waktu berharga selama 9 tahun untuk suka sama orang yang jelas-jelas enggak suka sama saya. Bodoh memang.