Showing posts with label Short Story. Show all posts
Showing posts with label Short Story. Show all posts

Wednesday, April 5, 2017

Half the World Away

Aku duduk di kursi di belakangnya tanpa suara.

Dia masih sibuk dengan pekerjaannya, sehingga tak sadar aku berada di ruangan yang sama dengannya, menghirup udara yang sama dengannya.

Punggungnya membelakangiku. Kami diselimuti keheningan yang fana selama beberapa saat. Keheningan itu membawaku pada suara yang (sebetulnya) tak ingin aku ucapkan.

"Sedang apa?"

Pertanyaan bodoh itu terlontar begitu saja. Seharusnya aku tak perlu bertanya, karena apa yang sedang ia lakukan terlihat jelas di depanku.

Tanpa berhenti mengerjakan pekerjaanya ataupun menengok ke arahku, ia menjawab pertanyaanku. Pertanyaan bodoh dariku itu kemudian merembet ke percakapan lainnya. Ya, kami berbincang dengan intim, seperti biasanya.

Kemudian keheningan itu datang kembali. Sesungguhnya aku tak perduli dengan keheningan ini. Kami tak perlu berbincang. Aku cukup melihatnya saja sudah bahagia.

Saat aku sedang asyik memperhatikannya dari belakang, ia beranjak berdiri dan mulai bersiap-siap pergi.

"Mau kemana?"

Tanyaku penasaran. Dia menatapku dengan senyuman, dan kembali bersiap-siap.

I would like to leave this city
This old town don't smell too pretty
And I can feel the warning signs running around my mind

Tiba-tiba dia bersenandung dengan lirik dari lagu favoritku.

Aku menatapnya dengan terkejut, tetapi ia membalas tatapanku dengan senyuman.

Sungguh, rasanya ingin kucium bibir yang selalu tersenyum kepadaku itu. Tapi hal itu tak bisa kulakukan mengingat kami bukanlah pasangan kekasih. Kami hanya teman dekat yang tak bisa merubah status tersebut. Dan ya, aku menyukainya.

Aku memperhatiakan setiap gerakannya saat sedang bersiap untuk pergi dari ruangan tersebut. Setelah ia siap, ia menatapku seperti sedang memberikan instruksi. Seperti paham apa yang ia katakan lewat tatapan matanya, aku berdiri dan berjalan mengikutinya keluar dari ruangan itu.


OASIS - Half the World Away

AURORA - Half the World Away

Saturday, December 12, 2015

Rain on Cold Winter Days

Waktu menunjukkan pukul 01.00 dini hari.

Perempuan itu masih terbangun. Ia menatap lekat-lekat layar komputernya, lalu mengernyitkan dahinya karena merasa bingung dengan apa yang terlihat di layar komputer tersebut.

"Hampa..."

Kata perempuan itu, pelan.

Tak lama ia bangun dari kursinya yang nyaman. Pergi ke sudut kamar untuk mengambil dan menyalakan iPod warna merah kesayangannya. Ia menshuffle seluruh koleksi lagunya.

Perempuan itu duduk kembali di kursi nyamannya. Menatap layar komputer kembali. Jari-jarinya menari di atas keyboard dengan lincah.

Tiba-tiba terdengar lantunan lagu berjudul Sing For You milik EXO, boyband favorit perempuan tersebut.

I love you a lot but my awkward pride in
Those words “I love you” doesn’t allow me to tell you
Today I will gather all my courage and tell you
So listen to it calmly, I’ll sing for you.

The way you cry, the way you smile, how much it means to me?
The words I wanted to say, the words I missed the chance to say
I will confess
It may be a little awkward, but just listen I’Il sing for you.

So just listen, I’ll sing for you.

Tiba-tiba sekelebat memori mengenai seseorang terulang kembali diingatan perempuan itu.

Bagaimana mereka bertemu.

Bagaimana mereka berinteraksi.

Bagaimana mereka jatuh cinta.

Bagaimana mereka tertawa bersama karena suatu hal sederhana.

Bagaimana mereka bertengkar.

Bagaimana mereka berbaikan.

Bagaimana mereka menghabiskan suatu malam yang dingin.

Bagaimana mereka berpisah.

Perempuan itu mengingatnya. Ia hampir terhanyut dengan memori tersebut hingga perempuan itu lupa bahwa apa yang ia pikirkan sekarang tak bisa ia ulang kembali.

Perempuan itu mengambil smartphonenya dan mengetikkan sebuah kata dan mengirimnya ke seseorang.

Maaf.

Perempuan itu menghela nafas. Ia berpikir ulang tentang rasa yang ada dan berpikir ulang untuk tidak memikirkannya lagi. Ia beranjak dari kursi nyamannya dan berjalan ke arah tempat tidurnya.

Ia berusaha untuk menidurkan raganya, tetapi jiwanya tetap terbangun. Jiwanya menunggu balasan dari permintaan maaf yang dibuatnya beberapa waktu lalu.

Namun jawaban tersebut tak kunjung datang.

Yes, now she's know this heavy rain on cold winter days has come.

EXO - Sing For You (2015)

Friday, December 4, 2015

Remembered

Ruangan itu sunyi.

Terlihat perempuan muda sedang duduk bersandar di kursinya yang nyaman. Kepalanya menghadap ke atas dan wajahnya tertutup oleh telapak tangannya. Dihadapan perempuan itu ada komputer yang menyala, memperlihatkan pekerjaannya yang belum selesai.

Tak lama perempuan itu bangun sambil menggerutu kesal. Ia menyalakan radio yang tak jauh dari tempatnya berada.

Terdengar suara khas penyiar radio yang perempuan itu sukai.

Kemudian terdengar suara ketikan keyboard. Perempuan itu melanjutkan pekerjaannya kembali. Ia mengetik dengan cepat. Terkadang ekspresi wajahnya berubah-ubah seiring dengan kata-kata yang perempuan itu ketikan di komputernya.

Tiba-tiba perempuan itu berhenti mengetik, bersamaan dengan terdengarnya lagu berjudul Growing milik salah satu penyanyi Korea, K.Will.

Sometimes, I forget you and a day passes
Sometimes, I dream about someone who’s not you
But in my heart, your flower keeps growing.

I thought I could bury you in my heart
I thought I’d forget you after a few seasons
But on this street, a flower that resembles you is growing
Once again, a cold spring is coming.

Setetes air mata jatuh di atas keyboard.

Perempuan itu menangis sejadinya saat K.Will menaikan suaranya beberapa oktaf. 

Muncul sekelebat ingatan manis yang perempuan itu rasakan bersama kekasihnya. Pipinya basah. Perempuan itu tak bisa menahan tangisannya. Lalu kemudian muncul kembali ingatan memilukan yang perempuan itu alami bersama kekasihnya.

Perempuan itu berhenti menangis sesaat sebelum lagu itu selesai diputar. Ia mengelap air matanya.

Lalu perempuan itu meneruskan pekerjaannya.

Tak lama ia menangis kembali. Tak tahan dengan apa yang ia rasakan.

Kini ia menangis sejadinya.

She's remembered.


K.Will - Growing (2015)

Saturday, July 18, 2015

Early Days

Waktu menunjukan pukul satu dini hari, namun aku tetap sibuk dengan smartphoneku; membaca manhwa online.

Tiba-tiba smartphoneku berdering. Aku menggerutu kesal karena telepon masuk tersebut mengganggu kenikmatanku saat membaca manhwa.

Terlihat ID caller yang tidak asing lagi di kehidupanku. Tak lama aku menswipe ikon 'menerima panggilan'.

"Halo?"

"Halo?"

"Iya, kenapa?"

"Cuma mau menelpon saja. Sudah makan?"

Aku kaget. Langsung kujauhkan smartphoneku dari telinga dan memandang aneh ID caller tersebut. Namun sedetik kemudian kudekatkan kembali smartphone tersebut ke telingku.

"Jadi menelpon tengah malam cuma untuk menanyakan hal ini?"

"Enggak juga sih. Jadi sudah makan atau belum?"

"Sudah makan beberapa jam yang lalu. Seharusnya kamu menelpon saya beberapa jam yang lalu, bukan sekarang."

"Kamu sehat kan?

Aku mengernyitkan dahi. Terheran-heran dengan pertanyaannya.

"Sebentar, harusnya saya yang tanya, kamu sehatkah? Kamu gak kenapa-napa kan?"

"Saya sehat kok. Jadi kamu sehat?"

"Alhamdulillah sehat."

"Kamu jangan sakit ya. Jaga kesehatan. Jangan lupa minum vitamin. Jangan lupa makan dan istirahat. Pokoknya jaga kesehatan!"

"Hahaha... Oke oke. Terima kasih atas perhatiannya. Kamu juga jaga kesehatan yah."

"Ya sudah, saya tidur ya. Nite."

Belum aku membalas, dia langsung menutup teleponnya. Aku hanya mengernyitkan dahi kemudian menarik selimut dan berusaha untuk tidak memperdulikan kejadian yang baru saja terjadi.

Ah sungguh, percakapan dengan durasi satu menit delapan detik yang sangat random dan aneh. Sekarang aku cuma harus meyakinkan diri bahwa bukan hanya aku saja yang mempunyai kawan seperti itu.

Saturday, February 4, 2012

Baby, I Love You.

Aku mengendarai motor dengan kecepatan 60 km/jam. Tiba-tiba kecepatan itu berkurang kala aku melihat sesosok laki-laki yang sedang menaiki angkutan umum. Itu adalah sosok laki-laki yang selama ini aku cintai.

***

Sengaja aku datang telat. Malas dengan pelajaran sastra asing pagi ini. Menunggu di luar sendirian dan tiba-tiba sosok yang tadi aku lihat kini muncul kembali. Duduk di sebelahku dengan tampang lesu.

"Kenapa tampang lo lesu gitu?" tanyaku penasaran.

"Kecapekan gue. Ngantuk banget..." jawabnya sambil duduk lemas.

"Tidur lagi aja sana. Kalau enggak pesen kopi susu tuh di kantin." saranku kemudian.

Tiba-tiba mimik wajahnya berubah centil. Tersenyum manis kepadaku. Tak tahan dengan kebiasaannya itu aku memukul bahunya pelan.

"Enggak! Gue gak mau beliin. Jalan sendiri sana ke kantin." omelku.

Mimik wajahnya berubah lesu kembali. Aku jadi tak tega melihatnya.

"Iya deh gue yang jalan ke kantinnya. Kasihan gue liat lo. Sini mana uangnya?"

Akhirnya aku menyerah. Laki-laki itu kemudian memberikan selembaran uang pecahan lima ribu rupiah. Aku dengan segera bangkit dari tempat duduk dan berjalan menuju kantin yang jaraknya hari 6 meter dari kelasku.

"Rajin banget neng beli kopi tiap pagi. Perempuan teh jangan banyak-banyak minum kopi atuh. Gak baik." kata Mang Usman ketika aku sampai di tempat jualannya.

"Aduh mang Usman, ini kopinya bukan buat aku. Buat temen..."

"Ahahaha... mang mah tau ini. Buat gebetan neng ya?"

"Ah, mang bisa aja. Iya nih... Aku sayang banget sama dia, mang. Tapi dia gak pernah 'ngeliat' aku. Gimana ya mang? Eh ini kenapa jadi curhat? Hehehe..."

"Yah neng, susah kalau cowoknya gak peka mah. Kalau menurut mang mah jangan sering-sering mau disuruh dia buat beliin kopi. Kalau begitu dia bukan menganggap neng temen lagi. Tapi lebih ke pesuruh, neng."

"Iya juga ya mang. Tapi kan hanya hal yang kayak gini yang bisa aku lakuin. Kalau enggak, dia gak 'ngeliat' aku dong."

"Yaudahlah, neng. Mang mah hanya kasih nasihat aja. Ini kopi susunya."

"Iya mang makasih atas nasihatnya."

Aku menjauh dari kantin. Aku berpikir keras. Apa betul yang dikatakan mang Usman? Apa aku terlalu care sehingga terlihat seperti pesuruh? Apa aku bodoh karena terlalu care sama dia?

Mimik wajahnya menjadi centil kembali setelah aku memberikan segelas kopi susu kepadanya. Aku melihatnya dengan seksama. Wajahnya yang lembut bagaikan kulit bayi. Hidungnya yang mancung. Warna kulit sawo matang yang sangat menggoda. Bola matanya yang hitam kelam, memberikan rasa misterius yang membuatku jatuh cinta kepadanya.

"Jangan ngeliat gue dengan tatapan yang kayak gitu. Muka lo jadi aneh banget..." kata dia tiba-tiba. Aku kaget setengah mati.

"Hah? Sialan. Muka cantik dunia dan akhirat kayak gini dibilang aneh. Lo yang aneh... Hahaha..."

"Lo suka ya sama gue?"

"Hah?"

Aku terbengong-bengong mendengar kalimat yang ia lontarkan. Kenapa dia bisa tau?

"Jujur aja ya, gue bingung sama kelakuan lo ke gue. Kadang-kadang baik banget. Kadang-kadang jutek..."

"Ah perasaan lo aja kali. Gue kan kayak biasanya. Ceriaaaa... Hahaha..."

"Tapi mimik muka lo gak menunjukan wajah ceria. Malah menunjukan rasa capek tapi tetep dipaksain buat ceria."

Aku diam seribu bahasa. Dia menatapku lekat-lekat.

"Jangan diam aja. Jawab kenapa! Gue mau lo jujur sama gue, lo suka sama gue apa enggak?"

"Apaan sih lo pagi-pagi... Aneh banget..."

Tiba-tiba tanganku dipegangnya dengan lembut.

"Jujurlah... Gue gak marah kalau lo jujur sama gue."

Bola mata hitam kelam itu terasa seperti tahu persis apa yang ada dihatiku. Aku menunduk malu.

"Kalau gue suka sama lo, lo bakal ngapain? Gak akan ngapa-ngapain juga kan. Gue tau kok lo cuma sekedar menganggap gue teman. Jadi jujur, gue suka sama lo. Tapi gue tau lo gak suka sama gue."

Kali ini giliran laki-laki itu diam seribu bahasa. Dia melepaskan genggamannya. 

"Gue udah jujur ya. Kenapa selama ini gue gak pernah bilang suka, karena gue gak mau lo ngejauhin gue. Tapi percuma, toh nantinya lo juga ngejauhin gue."

"Enggak... Gue gak akan ngejauhin lo... Karena gue juga suka sama lo..." katanya pelan.

Giliran aku kembali diam. Kaget dengan pernyataan dia. Kemudian ia memelukku dengan lembut.

"Aku sayang sama kamu. Mau yah jadi pacarku..."

"Iya."

Kemudian kami tertawa bersama.

@theaarbar

Tuesday, January 31, 2012

Wish You Were Here

Aku duduk di dalam angkutan umum sambil bersenandung kecil. Tak sabar rasanya menunggu lelaki itu datang dan duduk di depanku lagi. Tak sabar rasanya berbincang dengan lelaki itu lagi. Tak sabar rasanya ingin aku berikan novel yang kemarin aku janjikan kepada lelaki itu. Tak sabar rasanya.

"Ah! Jangan duduk di situ, De!" Cegahku kepada anak SMP yang ingin duduk di depanku ini. Aku tak mau tempat istimewa lelaki itu diduduki oleh orang lain.

Anak SMP itu melihatku dengan tatapan heran dan aneh, "Itu nanti ada teman yang mau duduk di situ... Maaf ya..." Jelasku sambil tersenyum kepada anak SMP itu. Kemudian anak SMP itu mengangguk kecil tanda mengerti. Aku kembali ke dalam duniaku kembali.

Terlihat lelaki itu berlari-lari kecil. Aku melambaikan tanganku lewat jendela angkutan umum itu agar lelaki itu melihatku. 

Tiba-tiba angkutan umum itu melaju, "AH! Stop dulu bang! ada yang mau naik!" Aku berteriak dengan paniknya. Supir angkutan umum itu dengan segera memberhentikan angkutan umum ini. Penumpang yang berada di dalam angkutan umum itu melihatku dengan tatapan yang aneh. Aku langsung menunduk malu.

Tak lama lelaki itu naik ke dalam angkutan umum dan untuk ketiga kalinya lelaki itu duduk di depanku.

"Hah! Sorry telat ya? Gue naro buku di ruang guru dulu tadi."

Aku tersenyum kecil kemudian memberikan novel yang aku janjikan kemarin kepada lelaki itu.

"Wah ini novelnya? Wah bikin penasaran nih. Keren! Gue baca ya?"

Lelaki itu dengan semangatnya membaca novel pinjaman dariku. Aku merasa senang sekaligus malu. Aku banyak berharap dari situasi ini. Semoga saja aku dan lelaki ini bisa menjalin hubungan yang 'lebih'. Aku sangat berharap.

Lelaki itu dengan asyiknya membaca novel pinjamanku sampai tempat pemberhentianku terlihat.

"Gue turun duluan ya?" kataku sedikit canggung.

"Oh, iya. Nanti gue balikin ya bukunya."

Lelaki itu kembali tenggelam di dalam dunianya. Aku dengan segera turun dari angkutan umum itu. Kemudian angkutan umum itu hilang dari pandanganku. Membawa lelaki itu dengan novel pinjaman dariku.

Heboh, Berbincang Kembali, Kamu, Dicuekin, Pulang Sekolah.

@theaarbar

Sunday, April 3, 2011

I Don't Remember

Mengalun pelan. Sambil mendengarkan lagu ini, aku mengambil novel Marmut Merah Jambu-nya Raditya Dika. Aku iseng-iseng membaca karena jenuh. Jenuh karena angkutan umum ini masih saja 'ngetem'. Padahal sudah ada beberapa orang, termasuk aku, di dalam angkutan umum ini.

Tak lama kemudian, naiklah seseorang lelaki. Dan dia adalah lelaki yang aku sukai itu! Ini kedua kalinya kami menaiki angkutan umum yang sama. Ini bukan kebetulan! Ini keajaiban!

Lelaki itu duduk berhadapan denganku lagi! Lelaki itu duduk di depanku! Aku grogi. Aku... Aku... Aku senang bukan main! Aku berteriak-teriak dalam hati, "INI TIDAK MUNGKIN!!! IA DUDUK DI DEPANKU LAGI! BERHADAPAN DENGANKU LAGI!"

Lelaki itu mengeluarkan novelnya. Novel fiksi setebal 800 halaman itu dibacanya sambil mendengarkan mp3. Aku dan lelaki itu sama-sama mendengarkan mp3 dan kami sama-sama membaca novel. Oiya, kami sama-sama memakai kacamata juga.

Aku menahan tawa sampai sedikit mengeluarkan air mata saat membaca chapter 'Panduan Menghadapi Cewek Sehari-hari'. Tak lama kemudian, ada selembar tissue yang melayang kearahku. Sampai menutupi pandanganku. Aku langsung mengambilnya dan yang memberikan tissue itu adalah... adalah lelaki itu! Kenapa!?

"Kok nangis baca novel? Emang sedih ya?" Tanya lelaki itu. Aku langsung tertawa terbahak-bahak. Orang-orang langsung melihatku heran. Aku langsung diam, malu.

"Haha... Enggak sedih kok. Ini malah lucu. Gue tadi nahan ketawa. Hehe..." Jawabku santai tapi dalam hati grogi dan malu.

"Oh, kirain. Jadi malu nih gue gara-gara salah sangka. Hehe..." Wajah lelaki itu langsung memerah malu.

"Haha... Gak apa kali. Mau baca gak? Lucu banget novelnya. Hehe..." Aku langsung menyodorkan novel Marmut Merah Jambu-ku. Lelaki itu langsung mengambilnya dan membacanya sebentar. Lalu dia tertawa terbahak-bahak. Aku ikut tertawa.

"Lucu! Gue gak pernah baca buku kayak gini." Aku lelaki itu.

"Emang lo suka baca buku apa?" Tanyaku ingin tahu

"Gue? Gue sukanya buku-buku fiksi-fantasi kayak gini." Lelaki itu menyodorkan novel setebal 800 halaman itu kepadaku. Aku langsung membaca sinopsisnya.

"Eh, ngomong-ngomong soal novel fiksi-fantasi, gue punya karyanya Michael Scott. Bagus banget tentang sihir-sihir." Kataku (yang mulai sok asyik)

"Eh, yang baru terbit judulnya The Necromancer, kan? Gue liat tuh di toko buku kemarin. Cuma gue gak terlalu yakin sama ceritanya." Kata lelaki itu. Aku kanget dan senang karena obrolan kami nyambung.

"Iya itu! Ih, jangan lihat dari covernya aja dong. Seru banget ceritanya. Lo mau gue pinjemin gak yang The Alchemyst?"

"Boleh!"

Dan kami berbincang-bincang hingga tempat memberhentianku terlihat.

"Duluan ya." Kataku sembari turun dari angkutan umum itu. Lelaki langsung melambaikan tanganya.

Sungguh... Hari ini adalah hari yang tidak akan kulupakan seumur hidup. Aku berbincang-bincang bersama lelaki yang aku suka itu.

Tengah Hari, Panas, Angkutan umum, Pertama kali, Berbincang bersamamu.

@theaarbar

Saturday, April 2, 2011

When You Love Someone

Lagu ini mengalun pelan di telingaku. Aku benar-benar tidak bisa fokus mendengarkan lagu ini. Semua panca indraku menjadi tumpul, kecuali indra penglihatanku. Lelaki yang sedang duduk di depanku ini adalah orang yang selama ini aku sukai dan hari ini kami tidak sengaja menaiki angkutan umum yang sama.

Antara senang, bahagia, galau dan malu. Aku benar-benar butuh oksigen untuk bernafas. Lelaki itu sungguh mempesona hatiku ini. Aku tak kuat harus berada lama-lama di dekat lelaki yang aku sukai ini.

"Cepat pergi! Aku malu harus duduk berhadapan dengan dirimu!" Batinku.

Ah! Pada akhirnya tujuan pemberhentianku terlihat. "Kiri, Bang!" dengan cepat, supir angkutan umum itu berhenti. Aku langsung berdiri untuk turun. Aku menoleh sebentar kearah lelaki yang aku sukai itu dan dia tetap diam, berkutat dengan novel fiksinya. Dengan hati-hati aku turun dari angkutan umum itu.

Setelah aku membayar ongkos, angkutan umum tersebut dengan cepat melaju kembali. Membawa lelaki yang aku sukai itu beserta novel fiksinya. Angkutan umum itu semakin menjauh. Dan pada akhirnya hilang dari pandanganku.

Angkutan umum, Pulang sekolah, Bersamamu dan novel fiksimu.

@theaarbar

Monday, July 26, 2010

BAGUS

Mencari dress untuk Pesta Ulangtahun Kirarin lumayan susah ya, Ry. Aku udah cari ke butik-butik di Mall di seluruh Jakarta tetap aja gak dapet-dapet yang pas sama aku. Mana pestanya tinggal 2 hari lagi! Duh, pasti si Kirarin marah kalo aku gak datang ke pestanya. Aku harus minta tolong ke siapa nih? Kakak Yuli? Atau Mama? Duuh!!! Sebel kalo udah kayak gini. Yaudah, aku minta tolong sama Mama dan Kak Yuli aja deh. Selamat Malam ya, Diary Marie. Met bobok.

Arista Getamidi

***

Aku langsung menuju tempat tidur. Sudah tidak bisa lagi berpikir otakku ini. Ini gara-gara dress code yang dibuat oleh Kirarin. Dress code yang dia buat adalah 'Tuan Putri dan Pangeran' yang artinya adalah dress ala putri dan tuxedo ala pangeran.

Aku perempuan yang ditakdirkan berbadan besar. Susah untuk cari dress ala putri. Hei, Kirarin, kamu sahabatku atau bukan sih?!

***

“Selamat liburan dan jangan lupa kerjain PR kalian”.

“Iya, Pak!”

Suara riuh menggema di dalam kelas itu. Semua anak di kelas itu langsung mengerubungi tempat duduk Kirarin dan aku.

“Nanti malam jangan lupa ya!” Kata Kirarin pada semua anak-anak di kelas.

“Tenang aja! Pasti kita-kita datang kok. Makanannya yang banyak ya?” Kata Rudi mewakili anak-anak.

“Tenang aja. Gue udah siapin semua buat kalian. Jangan lupa kadonya. Jangan mahal-mahal, mobil juga boleh. Hahaha..”

“Mobil-mobilan ntar gue kasih. Hahaha…” suara tertawa menggema di dalam kelas itu.

“Rin, lo bakal nyuruh kita pake dress code ala Pangeran dan Putri dan juga membawa pasangan, kan? Tapi kayaknya bakal ada satu tamu lo yang gak bakal punya pasangan dan juga punya baju ala Putri, deh.” Kata Bagus tiba-tiba.

“Masa? Siapa?” Tanya Kirarin bingung. Bagus langsung menunjuk diriku.

“Ini orangnya. Masa lo gak tahu, gak ada dress ala Putri yang muat dipake dia. Dan apakah si Arista ini juga udah punya pacar? Jawabannya pasti tidak. Hahaha…”

Kelas kembali penuh dengan lautan tawa.

“Parah lo, Gus! Dia sahabat gue! Jangan menghina dong!” kata Kirarin membelaku.

“Udah lah, Rin. Bagus bener. Kayaknya gue gak bakal datang ke pesta ulangtahun lo. Bener juga kata Bagus, gue gak punya dress ala putri dan gue juga gak punya pasangan untuk dibawa ke pesta ulangtahun lo. Gue pulang duluan ya.” Aku langsung keluar meninggalkan kelas.

Benar kata Bagus, aku gak akan datang ke pesta ulangtahun Kirarin. Kalaupun aku datang, aku akan cuma mempermalukan diri sendiri.

***

“Arista, ini udah jam setengah 7, lho! Kamu kok gak siap-siap ke pesta ulangtahun Kirarin? Kasihan kan Kirarin...” tanya Mama padaku saat aku sedang membaca komik.

“Arista sakit perut, Ma.” Kataku berbohong, “Udah, Mama keluar dari kamar Arista. Arista mau tidur.”

“Mau Mama ambilin obat?” Tanya Mama, khawatir.

“Gak usah! Udah Mama keluar aja.” Aku langsung mendorong Mama untuk keluar dari kamarku dan aku langsung menutup pintu.

***

“Arista, bangun!”

“Ada apa sih, Kak? Gue baru mau tidur nih! Ganggu aja.”

“Ada cowok cakep di depan!” kata Kak Yuli antusias.

“Si anak tetangga itu? Iya emang cakep.” Kataku sambil memeluk guling dan kembali tidur.

“Bukan!! Jangan tidur dong! Cowok itu nyariin lo. Katanya lo di suruh pakai ini.” Aku langsung melek dan menerima kotak dari kakak.

“Apaan ini isinya? Bom?” tanyaku bingung.

“Gue gak tau, coba lo buka.” Aku langsung membuka kotak itu dan benar-benar takjub dengan isinya: little black dress yang sangat cantik. Kak Yuli langsung mengambil dress itu dari tanganku.

“Wow, cepat pakai, Ta! Nanti lo gue dandanin!” Kak Yuli makin antusias. 

Aku langsung mencoba dress tersebut dan… muat! Aku langsung melepas dress itu dan langsung pergi ke wastafel untuk cuci muka. Aku harus datang ke Pesta Ulangtahun Kirarin!

***

“Cantik sekali kamu, sayang.” Kata Mama takjub melihatku berdandan ala putri.

“Aku lho yang ngedandanin. Cantik kan?” kata Kak Yuli, jumawa. Tapi kali ini aku berterimakasih atas kebaikannya, “Udah sana keluar. Temuin pangeran lo. Dia nungguin lo di luar!"

Aku langsung bertanya-tanya siapa cowok yang berbaik hati yang mau beliin little black dress sebagus ini?

Klek!

Aku langsung kaget bukan main. Ternyata orang yang memberikan dress itu adalah Bagus. Bagus, orang yang tadi siang menghinaku. Bagus melongo melihatku. Terlihat senang. Tapi aku tidak terlihat senang sama-sekali. Aku malah benci! Benci!!!

“Arista... Cakep banget lo...” Kata Bagus lalu terdiam.

“Jangan menghina!” Mama dan Kak Yuli yang melihat kejadian ini langsung kaget.

“ARISTA! Apa-apaan sih lo?! Dia cowok yang ngasih lo dress itu tau!” omel Kak Yuli. Aku langsung masuk ke dalam rumah dan cepat-cepat mengganti dress itu dengan piyama.

“Arista! Cepat keluar! Kasihan nih si Bagus!” teriak Kak Yuli dari teras. Aku langsung turun dengan membawa dress itu ditangan.

“Terima kasih atas kebaikan lo. Ini dress yang sangat bagus tapi gue gak mau memakainya karna gue gak mau lo hina lebih jauh!” aku langsung melempar dress tersebut ke wajah Bagus dan aku langsung menarik Mama dan Kak Yuli masuk kerumah. Mama sangat bingung. Kak Yuli kesal bukan main.

“Arista... maafin gue! Gue ngaku salah! Gue… Gue… GUE SUKA SAMA LO!!” Aku terdiam. Mama tersenyum. Kak Yuli terkaget-kaget.

“Sayang, kasihan lho dia. Tapi kalau memang tak suka tak usah dipaksakan.” Nasihat Mama. Aku masih terdiam. Kak Yuli masih gak percaya dengan kejadian tadi.

“Biarin. Aku gak suka dia. AKU BENCI DIA!!” teriakku keras supaya Bagus mendengar kata-kataku tadi.

“Walaupun lo benci gue, gue akan nunggu lo di sini sampai lo mau maafin gue dan nerima gue!”

Aku terdiam lagi, “Mama, Kakak, jangan ada yang keluar untuk nemuin Bagus. Kalau kalian nemuin Bagus, aku bakal benci banget sama kalian!”

“Kamu gak boleh begitu, sayang.” Mama menatapku lekat-lekat dan tersenyum lembut.

“Tau, lo gak boleh egois. Dia sayang sama lo tau!” Kak Yuli ikut-ikutan.

“Aku gak suka sama dia!” Aku langsung pergi ke kamar dan mengunci diri di sana.

“Arista! Maafin gue! Gue akan nunggu di sini sampai lo mau maafin gue!” Teriak Bagus dari teras.

Aku mengintip Bagus dari jendela kamarku. Aku bingung kenapa bisa benci sama Bagus. Sebenarnya dia gak salah apa-apa tapi kenapa… kenapa aku bisa benci dia? Apa aku menemui dia saja ya? Akh! Aku bingung…

***

Sejam telah berlalu. Mama dan Kak Yuli sepertinya sudah tidur. Aku mengintip dari jendela untuk melihat keadaan teras dan... Bagus masih ada di situ. Duduk di bangku sambil mengusap-ngusap tangannya. Aku merasa sangat kejam. Aku langsung saja keluar dan menemui Bagus…

“Kenapa lo ngelakuin kayak gini? Gak bener!” omelku. Bagus langsung memelukku, “Lepasin!”

“Maaf. Gue benar-benar minta maaf.” Kata Bagus tanpa melepas pelukannya padaku.

“Gue bingung… Kenapa gue bisa benci lo, kenapa gue bisa kayak gini sama lo. Gue bingung…”

Yang keluar dari mulut Bagus hanya, “Maaf… Gue minta maaf…”

“Gue memaafin lo. Gue juga minta maaf atas kelakuan gue ke lo.” Pelukan Bagus makin erat. Aku tak mau melepaskan pelukan ini.

“Gue suka sama lo.” Pelukan Bagus semakin erat lagi. Sampai membuatku sesak nafas.

***

“Kemarin pada kemana lo?” Tanya Kirarin kesal.

“Maaf ya, Rin. Maaf. Kami minta maaf.” Kata Bagus sambil nyengir. Aku hanya diam.

“Kami?” Tanya Kirarin bingung.

“Kami… Kami tadi malam pergi berdua. Kami sudah jadian.” kata Bagus santai. Aku langsung terbelalak mendengar pernyataan Bagus.

Kirarin dan seluruh anak-anak di kelas itu langsung menyoraki kami dan memberikan selamat kepada kami.

“Duh, bikin malu. Lagipula aku suka kamu belum tentu aku menerima kamu.” omelku malu
Bagus langsung memelukku, “Aku mau kamu menerima aku.”

“Haah… Aku menerimamu.”

Kelas menjadi penuh dengan anak-anak yang bersorak gembira dan senang karena kami jadian. Kelas semakin penuh sorak saat Bagus mencium keningku. Ah, ternyata Bagus menyukaiku dan ternyata dia juga sangat sayang padaku.

Aku menyesal telah memperlakukan dia seperti ‘anjing yang dibuang majikannya’ kemarin malam. Dan sekarang aku sangat senang atas apa yang telah terjadi sekarang. Aku sangat menyayangi Bagus lebih dari apapun. Aku menyukainya.