Showing posts with label Review. Show all posts
Showing posts with label Review. Show all posts

Friday, November 17, 2017

List of K-Drama I've Watched in 2017 [part 2]

Hi!

Mungkin banyak orang yang penasaran, mengapa saya senang sekali nonton K-drama dibandingkan sinetron Indonesia, dorama Jepang atau serial barat. Menurut pandangan saya, K-drama lebih unggul dalam kualitas gambar dan suara, plot cerita, dan akting para pemainnya dibandingkan sinetron Indonesia atau dorama Jepang. Sedangkan dalam serial barat, walaupun sinematografinya sama-sama bagus, tapi kadang saya tidak suka dengan plot cerita beserta endingnya. Alasan kenapa K-drama lebih menarik, because we all love happy ending! Ya gak sih? πŸ˜‚

Alasan mengapa saya tidak menonton sinetron Indonesia bisa dibaca di sini. Saya nonton beberapa dorama dan serial barat, tetapi tidak seintens K-drama. Alasan mengapa saya senang sekali menonton K-drama bisa kamu baca di sini dan ini ya.

===============================================================
 K-dramas airing in April 2017 
===============================================================


Queen of Mystery μΆ”λ¦¬μ˜ μ—¬μ™• poster from here.

Queen of Mystery μΆ”λ¦¬μ˜ μ—¬μ™•
Romanisasi: Chooriui Yeowang
Broadcast network: KBS2
Klasifikasi: 15 (15μ„Έ 이상 κ΄€λžŒκ°€)
Periode siaran: 5 April - 25 Mei 2017
Waktu tayang: Rabu dan Kamis pukul 22:00 KST
Jumlah episode: 16 episode
Genre: mystery/comedy
Produksi: AStory Co., Ltd.
Sutradara: Kim Jin-Woo, Yoo Young-Eun
Penulis: Lee Sung-Min
Casts: Choi Gang-Hee (Yoo Seol-Ok), Kwon Sang-Woo (Ha Wan-Seung), etc.



Sinopsis: Yoo Seol-Ok (Choi Gang-Hee) liked mystery novels and wanted to become a detective, but she gave up her dream after marrying. Now, she is a housewife with a husband who works as a prosecutor. She meets Ha Wan-Seung (Kwon Sang-Woo). He is a passionate detective and they decide to collaborate to solve cases.

Komentar: Pertemuan antara akting Choi Gang-Hee yang terlihat agak mbloon dengan akting Kwon Sang-Woo yang keras kepala dan bodoh itu sungguh membuat saya jatuh cinta dengan drama ini. Semua masalah yang ada dalam penyidikan bisa dipecahkan dengan mudah oleh Seol-Ok. Untuk action scene, urusannya bisa ditangani dengan mudah oleh Wan-Seung.

Pasangan ini (gak bisa disebut pasangan juga sih karena Seol-Ok sudah bersuami) membuat semua masalah terlihat mudah untuk diatasi. Drama ini akan mbikin kamu ingin terus melihat mereka memecahkan kasus demi kasus.

And, hey! Jangan lupa, Queen of Mystery season 2 akan tayang pada Februari 2018~ πŸŽ‰

Lesson learned from this K-drama: Umur bukan halangan untuk menggapai cita-cita~

Tuesday, October 17, 2017

List of K-Drama I've Watched in 2017 [part 1]

Hi!

Sebelumnya, postingan mengenai daftar K-drama yang saya tonton sepanjang tahun 2017 akan dibagi menjadi 4 bagian (Januari - Maret, April - Juni, Juli - September, Oktober - Desember). Perlu diingat kalau saya tidak menonton semua drama yang tayang. Saya nonton K-drama berdasarkan sinopsis, trailer, daftar pemeran dan mood. Kalau gak mood,  mau sebagus apapun reviewnya, saya gak bakal nonton K-drama tersebut. Oh! Please beware, this will be a super long post. πŸ˜†

Nah, mari kita memulai postingan ini dengan curhatan dan keluh kesah terlebih dahulu~

Menonton drama dari Korea Selatan (K-drama) merupakan makanan sehari-hari saya saat ini. Yah, namanya juga pengangguran yang sedang saving money mode on, pilihannya hanya bisa berdiam diri di rumah, tidur, atau menonton K-drama untuk mengejar ketertinggalan selama 4 bulan akibat skripsian. Pokoknya keluar rumah kalau ada hal penting saja.

Ini efek skripsi juga sih. Serius, tabungan saya habis buat skripsian doang. Ngeprint, fotokopi, scan data, dan tetek bengek lainnya. Kalau dihitung, dari awal skripsi sampai penggandaan skripsi untuk sidang, tabungan saya habis ± Rp 900.000. Biaya tersebut belum termasuk biaya sidang dan wisuda, beli kemeja putih, celana hitam, dan sepatu untuk sidang skripsi.

Beruntung rumah saya cukup nyaman, ditambah akses wi-fi yang kencang dan unlimited foods! Kalaupun tidak ada makanan, saya bisa pesan lewat Go-Food atau masak sendiri. Saya introverthomeperson dan heavy sleeper, jadi tak keluar rumah sebulan penuh dan tidur 20 jam non-stop pun tak masalah.

Saya mulai menonton K-drama sejak SMP, sambil menemani Mami Eyang (ibu dari ayah) yang sedang sakit kala itu. Indosiar merupakan salah satu saluran televisi nasional yang mendubbing dan menayangkan drama sageuk yaitu drama berlatar dinasti dan kerajaan di Korea zaman dahulu. Pada saat SMA, saya getol beli DVD K-drama bajakan, kadang pinjam punya kakak. Memasuki dunia perkuliahan, saya getol download ilegal HD K-drama yang satu episodenya bisa berukuran 900 MB - 1 GB lebih (kini semua drama sudah saya hapus karena terlalu memenuhi memori).

Pada akhir tahun 2016 hingga kini, saya lebih suka nonton streaming di VIU Indonesia, yaitu aplikasi streaming berbayar dengan subtitle English, Bahasa Indonesia, Bahasa Malaysia, dan Bahasa Mandarin; KissAsian atau My Asian TV yang paling cepat update dengan hardsub English; atau 123Drakor atau IndoXXI atau Ns21.me dengan hardsub Bahasa Indonesia. Sayang, Drama Fever tidak available di Indonesia. Saya juga sempat coba streaming di Viki, tetapi kemudian menyerah karena satu episode saja banyak banget iklannya. ☹️

Sejauh ini saya sudah menonton 33 judul drama di 2017. Jujur, saya lupa urutan K-drama yang saya tonton, jadi daftar ini akan berurutan sesuai dengan jadwal tayang perdana ya!~

===============================================================
 K-dramas airing in January 2017 
===============================================================

Thursday, September 21, 2017

Pengabdi Setan: Ibu Datang Kembali

Poster Instagram Pengabdi Setan (dok. Rafi Films)

Setelah mengidap penyakit aneh selama 3 tahun, Ibu (Ayu Laksmi) akhirnya meninggal dunia. Karena tekanan ekonomi, Bapak (Bront Palarae) lalu memutuskan untuk mencari nafkah di luar kota, meninggalkan keempat anak; Rini (Tara Basro), Toni (Endy Arfian), Boni (Nasar Anuz), dan Ian (M. Adhiyat) serta Ibundanya (Elly D. Luthan) yang duduk di kursi roda.

Tak lama setelah Bapak pergi, keempat anak tersebut merasa bahwa Ibu kembali berada di rumah. Situasi semakin menyeramkan ketika mereka mengetahui bahwa Ibu datang lagi tidak sekedar untuk menjenguk, tetapi juga untuk menjemput mereka.


Pengabdi Setan (Satan’s Slave) merupakan film produksi Rafi Films tahun 1980 yang ditulis dan disutradarai oleh Sisworo Gautama Putra. Kali ini Rafi Films bekerjasama dengan sutradara Joko Anwar untuk meremake film Pengabdi Setan.

Saat mendengar film Pengabdi Setan akan diremake oleh Joko Anwar, saya pikir akan melihat karakter ikonik nan jahat Bibi Darminah (diperankan oleh Ruth Pelupessy), karakter Pak Karto (diperankan oleh I.M. Damsyik) yang taat agama tetapi sering sakit-sakitan, atau karakter Rita (diperankan oleh Siska Karabety) anak muda yang tak percaya tahayul dan senang hura-hura padahal Ibunya belum lama meninggal dunia, ternyata saya tidak mendapatinya.


Banyak perbedaan mencolok antara film Pengabdi Setan original dan versi remakenya. Mulai dari plot cerita, karakter dan latar belakang mereka yang berbeda tetapi esensinya tetap sama. Remake Pengabdi Setan lebih vivid dari segi cerita dan karakter. Bisa dikatakan bahwa plot cerita remake ini sedikit lebih rumit dari versi originalnya, tetapi untungnya digambarkan dengan baik oleh sang sutradara. Menurut saya, Pengabdi Setan remake ini seperti jawaban atas pertanyaan yang muncul tetapi tak terjawab dengan baik pada Pengabdi Setan original.

Dalam gelaran konferensi pers di Epicentrum XXI, Rabu (20/9/2017), Joko Anwar selaku sutradara sempat memberikan statement mengenai perbedaan plot cerita versi original dan remake, “Ketika kita mau remake sebuah film, tidak bisa mengulang kembali adegan yang sudah dibuat film sebelumnya. Sensibilitas penontonnya pasti berbeda, apa yang menakutkan di zaman dulu belum tentu dianggap menakutkan sekarang.”

First impression setelah menonton screening film ini: ADIK CAPEK NONTONNYA, BANG!

Pengabdi Setan remake ini mampu memberikan kengerian aneh yang membuat saya sulit tidur setelah menontonnya. Dengan durasi 105 menit, Joko Anwar tidak membiarkan saya dan para penonton lainnya bernafas lega. Banyak kejutan-kejutan menyeramkan (jump scare) tetapi tidak murahan yang membuat penonton berteriak kaget kemudian menutup mata atau telinganya (I do both! πŸ˜±).


Setan-setan yang bertebaran dalam film ini pun murni memakai special make-up effects tanpa efek digital komputer. Ditambah sound effect dan original soundtrack berjudul “Kelam Malam” yang dinyanyikan Aimee Saras menambah atmosfer gelap dan menyeramkan dalam film ini. Inilah yang membuat Pengabdi Setan remake lebih terasa ngeri dibanding film originalnya.

Sedikit bocoran, ada beberapa adegan (favorit saya) dalam Pengabdi Setan original yang didaur ulang dengan baik oleh Joko Anwar, yaitu adegan saat sedang ibadah dan adegan kecelakaan Herman yang diperankan oleh Simon Cader pada Pengabdi Setan original.


Cerita-cerita horor dibalik pembuatan film remake ini menambah kengerian tersendiri. Rumah tua di kawasan Pangalengan, Jawa Barat yang menjadi lokasi syuting ternyata memiliki kisah horor. Walaupun kondisinya sudah buruk sehingga harus direnovasi terlebih dahulu, Joko Anwar tetap memakai lokasi tersebut karena dari segi layout dan naskah sangatlah cocok. Cerita horor terjadi pada malam hari, suara misterius sempat terekam tak sengaja dari halaman oleh salah satu crew yang sedang break syuting. Cerita berhantu rumah tersebut sempat viral dan masuk ke dalam trending topic forum terbesar di Indonesia, Kaskus.

Akhir kata, sejujurnya elemen suara lonceng dalam film Pengabdi Setan remake tidak membuat saya ngeri sama sekali, tetapi malah membuat saya teringat tukang es dongdong atau es cincau keliling yang suka lewat di depan rumah. Aneh memang.

Oke, kalau kalian penasaran dengan sosok Ibu, saksikan film Pengabdi Setan yang akan tayang di seluruh jaringan bioskop di Indonesia mulai Kamis, 28 September 2017.

Sebelum nonton, ingat pesan Bibi Darminah, “Akan aku hancurkan manusia-manusia tak beriman seperti kalian. Kami akan selalu datang disetiap diri manusia, selagi agama cuma menjadi kedoknya.”

Dengan beberapa perubahan, tulisan ini juga dimuat pada situs komunitas gerakan nonton GudangFilm, klik di sini jika ingin membaca.

Monday, May 15, 2017

Individualist Ms. Ji-Young

Individualist Ms. Ji-Young.
Pic from here.

Baru beberapa waktu lalu saya menulis kegelisahan saya mengenai kesendirian (baca di sini), eh tanggal 8-9 Mei 2017 ada TV movie (atau short-drama) 2 episode berjudul Individualist Ms. Ji-Young (개인주의자 μ§€μ˜μ”¨) tayang di KBS2.

Channel KBS2 bisa kamu tonton streaming di YouTube atau TV berlangganan. Untuk drama, variety show, talk show, dan siaran tidak langsung sudah memiliki subtitle bahasa Inggris. Yasss! XD

Individualist Ms. Ji-Young bercerita mengenai Na Ji-Young (Min Hyo-Rin) yang menganut paham individualisme, introvert yang tidak bisa memiliki hubungan pertemanan maupun romantis dengan orang lain, bertemu dengan Park Byeok-Soo (Gong Myung), seorang extrovert yang tidak bisa tidak memiliki hubungan pertemanan maupun romantis dengan orang lain.

Hubungan mereka berdua berkembang setelah Ji-Young dan Byeok-Soo putus dengan masing-masing kekasihnya di koridor apartemen lantai 7 pada hari yang sama. Kejadian itu menimbulkan kegaduhan yang berakhir di kantor polisi. Ji-Young yang super keras kepala membuat Byeok-Soo menginap di penjara.

Setelah itu Byeok-Soo berusaha untuk tidak perduli dengan kelakuan Ji-Young walaupun mereka bertetangga. Hingga suatu hari mereka tak sengaja bertemu kembali di midnight cinema bernama Dream Cinema dan menonton film 12th Assistant Deacon (2013).

Pertemuan itu menimbulkan tanda tanya besar di kepala Byeok-Soo mengenai Ji-Young, dan keduanya menggunakan cara kekanakan agar tak berhubungan lagi satu sama lainnya (padahal mereka bertetangga -_-).

Tapi... yah bisa ditebak akan seperti apa endingnya ya~

Drama ini sepertinya lebih fokus ke sebab-akibat dalam membangun karakter Ji-Young dan Byeok-Soo, which is good dalam membangun plot cerita karena keduanya unik tetapi disisi lain mereka cukup menyedihkan.

Yes, I'll recommend this short drama for you who always feel lonely af (like me).

Oiya, jika kalian suka short drama, saya juga rekomendasi TV movie berjudul Splash Splash Love (퐁당퐁당 LOVE) yang dibintangi oleh Kim Seul-gi (my favorite actress) dan Yoon Doo-joon. ;)

Happy watching!

Tuesday, May 9, 2017

Banana Actually

Kegiatan yang paling saya lakukan di smartphone, selain posting hal-hal tidak penting di Instagram Story adalah nonton video di Facebook. Beberapa diantaranya merupakan video yang (sedikit) berfaedah, sisanya hanya hiburan untuk membunuh waktu.

Suatu hari saya menemukan video berdurasi 2 menit dari akun Facebook On Demand Korea. Isi konten video tersebut begitu sederhana, mengenai cara pandang perempuan mengenai laki-laki yang sedang duduk di depannya di restoran sushi, dan berakhir di ranjang. One night stand yang berlanjut dengan indah, sepertinya.

Selain ide ceritanya yang begitu sederhana namun sarat makna, pengambilan gambarnya pun cantik sekali. Ini alasan mengapa drama dan film dari Korea Selatan memiliki banyak sekali penggemar di seluruh dunia. Dari segi cerita dan gambar, mereka memiliki kualitas yang oke.

Banana Actually season 1 ini merupakan mini drama romantis 8 episode dengan durasi 72 detik (2 menit) setiap episodenya. Bercerita mengenai hubungan percintaan empat pasangan kekasih. Diproduksi oleh 72초TV. Walaupun tidak ada peringatannya, serial Banana Actually memiliki rating 19+ karena mengandung beberapa adegan dewasa. Mini drama ini memiliki 2 season, tapi sejauh ini saya baru menonton season pertama.

I never had a romantic relationship before, dan menonton serial ini menyadarkan saya bahwa untuk membangun chemistry antara perempuan dan laki-laki, fondasi utamanya adalah melakukan hal-hal sederhana (namun sarat makna) dalam hubungan tersebut. Seperti mengetahui kesukaan masing-masing, atau makanan apa yang tidak disukai. Yah hal-hal yang (cukup) remeh tapi (cukup) krusial.

Well, semoga mini drama ini bisa menjadi referensi jika nanti saya memiliki hubungan romantis tersebut. Cukup ambil bagian yang positifnya saja ya, mengingat kultur di Indonesia dan Korea Selatan cukup jauh berbeda. Hahaha.

Banana Actually S1 bisa kalian tonton di bawah ini.

Saturday, November 19, 2016

The Trees & The Wild: I'll Believe In Anything Tour Jakarta

The Trees and The Wild: I'll Believe In Anything Tour
(ki-ka) Andra, Innu, Tyo, Remedy, dan Tamy.
Pic from here.

Ada kabar gembira! 
Band favorit asal Bekasi yang belum lama ini mengeluarkan album kedua setelah 7 tahun hiatus akan mengadakan konser tunggal!

The Trees and The Wild (atau Trees & Wild, disingkat TTATW) akan mengadakan konser tunggal bertajuk I'll Believe In Anything Tour bekerjasama dengan Institut FranΓ§ais d'IndonΓ©sie (IFI) di Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. Tour ini diadakan dalam rangka rilisnya album Zaman, Zaman pada September lalu.

Harga tiket tournya pun bisa dibilang 'memuaskan' kok. Dengan HTM 120 ribu rupiah, kalian akan dapat satu album Zaman, Zaman dalam bentuk kaset. Iya, kaset! Kabarnya kaset ini hanya diproduksi untuk acara I'll Believe In Anything Tour aja. Super eksklusif!

Awalnya pihak SRM Band Management hanya mengadakan satu kali show di IFI Jakarta. Waktu show bertambah seiring dengan meningkatnya antusias penikmat musik The Trees and The Wild. Ada early show mulai pukul 14.00 - 16.00 WIB dan late show mulai pukul 16.00 - 18.00 WIB. Saya tetap menonton mereka saat late show. Maklum suka bangun siang, jadi tak akan sempat untuk nonton early show.


The Trees and The Wild's I'll Believe In Anything Tour.
Foto oleh Thea Arbar.

Antrian penonton late show sudah mengular dari pukul 15.20 WIB. Tetapi penonton early show baru keluar pukul 16.20 WIB, dan penonton late show baru bisa masuk ke auditorium pukul 16.30 WIB. Beruntung saya dapat tempat duduk dengan view yang ciamik, sehingga kelima personelnya terlihat dengan jelas dari atas panggung.

Opening act dibuka oleh Rangkai, duo yang baru berdiri selama 4 bulan. Saya lupa kedua nama personelnya karena terlalu fokus dengan 4 buah lagu yang mereka bawakan. Musik mereka enak didengar karena ada berbagai macam alat musik yang digunakan oleh mereka, salah satunya pianika dan harmonika. Mereka juga sangat interaktif dengan para penonton.


Rangkai membuka I'll Believe In Anything Tour.
Foto oleh Thea Arbar.

Setelah itu masuklah kelima personel The Trees and The Wild. Kali ini tanpa membawa botol/kaleng beer, dan hari ini Remedy (vocal) tampil rapi dengan mengenakan kemeja warna hitam. Saya kaget karena biasanya Remedy selalu mengenakan kaos seperti ketiga personel pria lainnya.

Ya, inilah yang saya tunggu-tunggu. Untuk memanaskan penjuru auditorium, tanpa basa-basi, band yang terbentuk tahun 2005 ini langsung membawakan Monumen disusul dengan Zaman, Zaman.

Saat auditorium mulai memanas oleh dua lagu tersebut, band yang beranggotakan lima orang ini membawakan lagu yang bertempo sedikit pelan, Srangan dan memanas kembali saat Tuah/Sebak dilantunkan.

Tiba-tiba kejutan dilancarkan setelah mereka membawakan Tuah/Sebak, REMEDY BERBICARA KEPADA PENONTON setelah roadman TTATW, Mas David membisikan sesuatu ke telinganya. Remedy berkata bahwa mixer mereka ngehang. Mereka perlu waktu 15 menit untuk mereset ulang mixer tersebut.

Ada alasan mengapa saya kaget mendengar Remedy berbicara kepada penonton ditengah-tengah show. Percaya atau tidak, selama ini mereka selalu membabat habis setlist sampai akhir TANPA PERNAH SEKALIPUN berbicara dengan penonton. Ini merupakan peristiwa yang langka!


The Trees and The Wild's I'll Believe In Anything Tour.
(ki-ka) Remedy, Andra, Tamy, Tyo, dan Innu.
Foto oleh Thea Arbar.

Dalam kurun waktu tersebut, Remedy mengajak keempat personel lainnya untuk membawakan Our Roots, salah satu lagu dalam album pertama mereka, Rasuk. Koor kegirangan penonton pecah. Saya merinding sendiri.

Selesai Our Roots dilantunkan, naik kembali Mas David ke atas panggung, membisikan sesuatu ke telinga Remedy. Setelah itu Remedy berinteraksi kembali ke penonton menanyakan lagu apa yang mau dibawakan selanjutnya. Saya berteriak "Irish Girl!" beberapa kali, tetapi kebanyakan penonton berteriak "Kata!" atau "Malino!".

Melodi Kata terdengar. Ah pupus harapan saya melihat mereka membawakan track favorit saya dari album Rasuk, Irish GirlTanpa jeda, band asal Bekasi ini langsung membawakan Saija. Sepertinya mixer mereka sudah berfungsi sebagaimana seharusnya.

Saija remuk, dan dia kan sadar yang tak diam dengannya hanya waktu.

Dilanjutkan dengan track favorit saya, Empati Tamako

Mereka akan berkata, kesedihanmu akan pergi terhempas angin selatan yang penuh debu, terbawa sampai ufuk timur terjauh.
Dan kau akan terdiam. Bertanya dalam hati kapan ini ‘kan berakhir dan terbawa sampai ufuk timur terjauh.
Dan kau pernah melangkahkan kaki dan sejengkal sadar dan melantunkan, "Terang yang kau dambakan, hilanglah semua yang kau tanya".

Empati Tamako menjadi penutup I'll Believe In Anything Tour di IFI Jakarta. Saya sempat kecewa karena Nyiur tidak dibawakan. Tetapi semua kekecewaan itu hilang tatkala saya dapat mewawancarai Remedy, Andra, dan Tyo secara eksklusif!

Thursday, June 30, 2016

[Review] Cetaphil Gentle Skin Cleanser

Halo!

Jadi, seminggu yang lalu saya dikirimi produk Cetaphil Gentle Skin Cleanser dan saya benar-benar tidak sabar untuk mereview produk ini, karena ternyata produk ini tidak seperti yang saya duga selama ini. Cetaphil Gentle Skin Cleanser benar-benar bekerja dengan baik di tipe wajah berminyak, berjerawat sekaligus sensitif seperti wajah saya ini.


Cetaphil Gentle Skin Cleanser

Sebelumnya saya sudah sering baca dan menonton review para beauty blogger dan vlogger mengenai produk Cetaphil Gentle Skin Cleanser ini, tapi saya belum berminat membeli dan mencoba produk ini karena harganya yang lumayan mahal bagi mahasiswi kere yang sehari-harinya hanya bisa makan di warteg samping kampus seperti saya ini.


Cetaphil Gentle Skin Cleanser

Tapi memang benar mengenai peribahasa ada uang, ada barang. Walaupun (menurut dompet saya) produk cleanser ini lumayan mahal (Rp 112.000 - isi 125 ml), tapi Cetaphil Gentle Skin Cleanser bekerja dengan sangat baik dalam membersihkan wajah.

Dari yang tertera, Cetaphil Gentle Skin Cleanser merupakan cleanser untuk semua jenis kulit yang bebas sabun dan wewangian. Menurut saya, bau Cetaphil Gentle Skin Cleanser lebih seperti bebauan salep tapi tidak menyengat, dan yang paling saya suka cleanser ini tidak membuat perih wajah berjerawat.


Cetaphil Gentle Skin Cleanser

First impression saya terhadap produk ini adalah saya kurang suka hasilnya yang tidak kesat di wajah. Mungkin karena bertahun-tahun saya terbiasa menggunakan cleanser yang meninggalkan kesan kesat ya, jadi ketika ganti cleanser yang tidak meninggalkan kesan kesat, saya jadi gak suka. Walaupun begitu, saya tetap lanjut menggunakan cleanser ini karena Cetaphil Gentle Skin Cleanser tidak membuat wajah saya breakout (ini poin plus banget!).



Tekstur Cetaphil Gentle Skin Cleanser.

Cetaphil Gentle Skin Cleanser menyarankan dua cara pemakaian, yaitu dengan air dan tanpa air. Cara pemakaiannya sama, yaitu pertama-tama usapkan Cetaphil Gentle Skin Cleanser dan gosok dengan lembut pada kulit wajah yang masih kering, kemudian bilas dengan air atau  tanpa air, bersihkan dengan handuk/kapas. Sejujurnya, saya menyukai pemakaian tanpa air, rasanya lebih bersih di wajah.



Tampak produk Cetaphil Gentle Skin Cleanser pada kulit.

Karena saya wanita yang lumayan malas mandi kalau sudah pulang malam, beginilah pemakaian Cetaphil Gentle Skin Cleanser ala saya: bersihkan semua debu dari wajah dengan produk micellar water favorit kamu, setelahnya usapkan dan pijat sebentar Cetaphil Gentle Skin Cleanser di wajah dan bersihkan dengan kapas, kemudian usap wajah dengan produk toner favorit kamu. Selesai! :))

Setelah pemakaian Cetaphil Gentle Skin Cleanser hari ketiga, jerawat kecil yang hinggap di wajah saya perlahan mengempis dan beberapa diantaranya menghilang tanpa bekas!


Woah!


Jujur, saya akan melanjutkan pemakaian produk ini hingga habis, dan mungkin akan mencoba produk Cetaphil lainnya (buru-buru kasih tau Mamak soal Cetaphil biar bisa beli produk Cetaphil lainnya :p).




Oiya, informasi lebih lanjut mengenai produk Cetaphil bisa dilihat di sini.


PS: This is a sponsored post, but all opinions are my own.

Sunday, May 15, 2016

Barasuara: Taifun Tour 2016 di Jakarta

Barasuara: Taifun Tour 2016
(atas) Marco, TJ, Iga
(bawah) Asteriska, Gerald, Puti
Pic from here.

Saya lupa kapan pertama kalinya saya menonton live performance Barasuara. Yang saya ingat, saat itu Barasuara belum mengeluarkan album Taifun, tetapi musik mereka dengan hebatnya terngiang-ngiang di kepala saya.

Semenjak itu, saya selalu mencari tahu jadwal manggung mereka, menyaksikan video-video mereka di YouTube, dan menonton live performance mereka bersama sahabat-sahabat (yang juga menyukai musik mereka) bila sedang tidak sibuk dengan tugas-tugas kampus.

Selama dua minggu (2-15 Mei 2016), Barasuara menggelar tour pertama bertajuk Taifun Tour 2016 yang dipersembahkan oleh UrbanGiGs dan Juni Concert. Taifun Tour 2016 ini menyambangi enam kota di Pulau Jawa, yaitu Yogyakarta, Malang, Surabaya, Solo, Bandung, dan berpuncak di Jakarta.

Saya dan sahabat saya, Amalia, bisa dibilang cukup beruntung dapat menyaksikan live performance Barasuara di Taifun Tour 2016. Kami sempat khawatir akan kehabisan tiket karena saat pertama kali Taifun Tour 2016 diumumkan, kami tidak punya uang sepeserpun untuk membeli tiket. Tetapi Tuhan berkata lain, saya dan Amalia dapat rejeki seminggu sebelum Taifun Tour 2016 di Jakarta digelar.

Pukul lima sore, setelah bermacet-ria dari Depok, saya dan Amalia mendarat dengan mulus di Gudang Sarinah, Pancoran Timur II, Jakarta Selatan. Sesampainya, kami langsung menukarkan nota dengan tiket dan menunggu open gate. Fyi, ini kedua kalinya saya dan Amalia datang ke Gudang Sarinah untuk menyaksikan gigs band-band indie Indonesia.

Barasuara: Taifun Tour 2016 tickets.

Barasuara: Taifun Tour 2016 gate.

Amalia and I, in front of Barasuara: Taifun Tour 2016 gate.

Saya tidak tahu apakah ini acara molor atau memang sengaja diplanning seperti itu, karena dikatakan open gate pukul 6, tapi kami terpaksa berbaris sambil berdiri selama sejam di depan gate dan baru bisa memasuki venue pukul 7 malam. Di dalam venue pun kami harus menunggu kembali selama 30 menit. Tapi, walaupun begitu, kami cukup beruntung bisa berdiri di barisan paling depan!

Barasuara: Taifun Tour 2016 stage.

Taifun Tour 2016 di Jakarta dimulai dengan naiknya dua drummer kakak-beradik Marco Steffiano dan Enrico Octaviano. Mereka memainkan drum dengan tempo yang hampir sama. Saya terpukau. Bisa dibilang ini family goal banget ya! Gila!

Kemudian naiklah Iga Massardi (vokal/gitar), Gerald Situmorang (bass/gitar), TJ Kusuma (gitar), Asteriska (vokal), dan Puti Chitara (vokal) ke atas panggung. Mereka berdiri di posisi masing-masing dan bersiap-siap. Kembang api air mancur yang menyala di panggung tanpa aba-aba menjadi pembuka lagu Hagia. 

Sempurna yang kau puja dan ayat-ayat yang kau baca, tak kurasa berbeda
Kita bebas untuk percaya
“Seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami”

Setelah Hagia selesai, dengan cepat mereka membawakan Nyala Suara yang membuat para penonton bernyanyi dan berjoget bersama. Gudang Sarinah memanas perlahan tapi pasti.

Baramu padam, baramu padam
Lara menyala tanpa suara
Bara dalam sekam
Kala merdeka ada suara
Riak melebur, peluh membaur
Karam dalam diam
Karam dalam bara dalam sekam

Barasuara: Taifun Tour 2016.

Selesai membawakan Nyala Suara, Iga Massardi, selaku ketua geng Barasuara, memberikan speech yang saya rasa sedikit agak ngaco. Setelah sadar speech yang dia bicarakan tadi agak ngaco, Iga langsung berkata, "Lagu selanjutnya..." yang kemudian dibalas dengan koor dari penonton. Tarintih dibawakan dengan enerjik oleh band ini. Saya dan seluruh penonton kembali bernyanyi dan berjoget bersama.

Keras serapah dari semua yang kau tahu
“Apapun yang kan kamu cari adalah bisikanku”
Tak engkau ingat tajam hujam aksaramu
“Tak kau tahu kau mau sandarkan di bahuku?”
Bertabur buih air mata yang terluka
Belati itu belati tebar pedih tebar perih
Berbunga bunga ketika lihatmu ada
Menari nari merintih redam sedih redam sedih
Terlambatkah sudah, surga di telapak kakimu?

Iga dan kawan-kawan Barasuara kembali membawakan speechnya dan mulai mengganti alat musik mereka dengan yang lain. Saya lupa mereka berbicara apa, karena saya fokus melihat Marco (yes! he's my favorite personil in Barasuara). Kemudian terdengar petikan gitar dari Gerald. Mereka membawakan Taifun yang (lagi-lagi) membuat penonton kompak bernyanyi bersama.

Di dalam hidup ada saat untuk berhati-hati atau berhenti berlari
Tawamu lepas dan tangis kau redam di dalam mimpi yang kau simpan sendiri
Sumpah serapah yang kau ucap tak kembali
Tak kembali
Semua harap yang terucap akan kembali
Akan kembali
Saat kau menerima dirimu dan berdamai dengan itu
Kau menari dengan waktu tanpa ragu yang membelenggu

Barasuara: Taifun Tour 2016.

Tanpa istirahat, mereka membawakan Mengunci Ingatan yang membuat saya dan (mungkin) beberapa penonton baper, karena liriknya yang agak menye-menye.

Sembuhkan lukamu yang membiru
Serpihan hatimu yang berdebu
Pagimu yang terluka
Malammu yang menyiksa
Hal yang ingin kau lupa
Justru semakin nyata
Mengunci ingatanmu
Menahan masa lalu
Memori yang membisu
Harapan yang berdebu

Setelah menye-menye dengan Mengunci Ingatan, Iga membuka speech lagi dan mereka akan membawakan lagu baru mereka yang berjudul Samara. Iga menyarankan para penonton untuk merekam Samara, agar fans Barasuara di kota lain (yang tidak termasuk dalam rangkaian Taifun Tour 2016) juga bisa menikmati lagu baru ini.

Senjamu yang kian temaram
Surya tenggelam kau tak padam
Senyummu dalam kegelapan
Tawanya larut dalam diam
Gelapmu jadi kediaman
Yang benderang yang kau harapkan
Di dalammu, di dalammu
Ada dendam melagu
Sinar terang yang kau harapkan
Senjamu yang kian temaram
Surya tenggelam kau tak padam
Gelapmu jadi kediaman
Di dalammu dendam melagu
Samara, Ani, Jiyana
Senjamu yang kian temaram
Surya tenggelam kau tak padam
Samara, Ani, Jiyana
Kita bisa tenggelam dan bisa padam
Atau bangkit berjalan lalu melawan


Menunggang Badai menjadi lagu selanjutnya yang dibawakan oleh Barasuara. Di lagu ini, penonton benar-benar diajak bernyanyi dan berjoget bersama di level yang lebih tinggi dari sebelumnya (tetapi untungnya tidak berakhir ricuh). Beberapa additional player dinaikan di panggung yang tingginya hanya sepinggang orang dewasa itu.

Di dalam mu dendam parah bersarang
Perih mencekam, perih mencekam
Pedih bersulang, pedih bersulang
Lara bersarang, lara bersarang
Dalam peraduan dendam mu meragu
Dalam perasaan diam mu memburu
Dalam kesunyian geram mu bertalu
Dalam keraguan lantas kau berseru

Istirahat sejenak, Iga dan kawan-kawan membacakan sticky notes yang sudah ditulis dan ditempel di papan dekat gate oleh para penonton sebelum acara mulai tadi. Sayang, saya dan Amalia tidak menulis apa-apa karena kami langsung masuk ke venue untuk mengincar barisan paling depan.

Gerald, Puti, dan Marco di Barasuara: Taifun Tour 2016.

"Gerald, ditunggu di kostan nanti!" kata Asteriska, membaca salah satu sticky notes. Asteriska sempat membacakan penulisnya, tetapi saya lupa namanya siapa.

"Buat [yang nulis di sticky notes tadi]. Nih!" kata Gerald sambil mengangkat kaos lincahnya, sehingga memperlihatkan perutnya. Penonton langsung memberikan koor kesenangan.

Marco telanjang dada sambil ngerekam video di Barasuara: Taifun Tour 2016! :'))

Sendu Melagu langsung dimainkan. Penonton berjoget dan bernyanyi bersama kembali. By the way, saya suka sekali permainan drum Marco di lagu ini. Top banget!

Semua yang kau rindu
Semua menjadi abu
Langkahmu tak berkawan
Kau telah sia siakan
Waktu yang kau tahu
Waktu yang berlalu
Ingatmu kau merayu
Ingatnya kau berlalu
Sendu melagu

Api & Lentera menjadi lagu selanjutnya yang dibawakan dengan enerjik oleh Barasuara. Kita, para penonton, lagi-lagi diajak bernyanyi dan berjoget bersama di level yang lebih tinggi dari sebelumnya, dan lagi-lagi permainan drum Marco di lagu ini membuat saya terpesona. Duh, Marco!

Lepaskan rantai yang membelenggu
Nyalakan api dan lenteramu
Sampaikan mereka bara dan suara
Berlalu, lalu kini kau menunggu
Serap seram di pundakmu
Lambat laun kan menari, kan berlari
Memori yang dulu kau hapuskan akan berlari
Saranku kau berhenti menyiksa diri
Waktu yang akan mengobatimu
Yang kau perlu kau mendewasakan itu
Kita kan pulang dengan waktu yang terbuang
Dan kenangan yang berjalan bersama

Bahas Bahasa menjadi lagu penutup yang benar-benar membuat kami, para penonton, puas dengan Taifun Tour 2016 di Jakarta ini. Apalagi ditambah dengan permainan drum kakak-beradik Marco dan Enrico yang super sekali.

O! Itu tak kau lihat tak kau ragu
Peluh dan peluru hujam memburu
Bahasamu bahas bahasanya
Lihat kau bicara dengan siapa
Lidah kian berlari tanpa henti
Tanpa disadari tak ada arti
Bahasamu bahas bahasanya
Lihat kau bicara dengan siapa
Makna – makna dalam aksara
Makna mana yang kita bela
Berlabuh lelahku
Di kelambu jiwamu

Para crew berfoto bersama di atas panggung Barasuara: Taifun Tour 2016.

Walaupun venuenya tidak terlalu besar, panas, dan penuh sesak, tapi kami puas. Terima kasih atas musik hebat kalian. Terima kasih atas joget-joget dan nyanyi bersama tadi. Terima kasih atas durasi satu setengah jam kurang yang sangat menghentak. Terima kasih Barasuara. Kalian hebat!

Sampai jumpa di gigs selanjutnya!