Monday, December 5, 2016

Mimpi Itu... [part 11]

For the God sake, this dream is really embarrassing af...

Pada sore yang gerimis, aku datang sendirian ke konser White Shoes & The Couples Company (WSATCC). Tadinya mau pergi sama teman, tapi tiba-tiba dia bilang gak bisa datang karena ada keperluan penting mendadak.

Well, tapi itu gak masalah sih karena aku biasa jalan sendiri.

Aku mengantri masuk ke dalam venue. Di dalam banyak sekali booth, dari makanan, kosmetik, hingga pakaian (ini konser apa pasar tumpah sih?!). Saat melewati booth Laneige, aku diberikan banyak sample BB cushion dengan package berbeda yang super cute. Aku sempat kesulitan dengan sample BB cushion tersebut, sehingga beberapa sample jatuh ke lantai.

Seseorang di belakangku langsung menolongku mengambil sample yang jatuh di lantai. Saat aku menengok untuk berterima kasih, terlihat pria tinggi gagah berkacamata dengan kepala gundul yang tak asing lagi (tapi saya lupa namanya siapa).

"Gue bantu ya," ujarnya.

Aku hanya mengangguk, karena memang sedikit kewalahan dengan banyaknya sample BB cushion di tangan. Tas yang aku kenakan pun terlalu kecil untuk memuat sample tersebut.

Kami jalan berdua. Sepertinya pria tersebut sengaja memisahkan diri dengan kawannya, dan jalan bersamaku. Suasana ramai, tapi kami berdua cukup hening.

"Dari dulu gue pengen ngobrol sama elo. Jadian sama lo," ujarnya tiba-tiba.

Aku menengok ke arahnya dengan wajah kaget. Kemudian aku memandanginya dengan tatapan heran.

"Iya benar. Gue pengen banget pacaran sama elo,"

Tiba-tiba saya terbangun.

WTF! Pria itu adalah salah satu personil band favorit saya. Asli... rasanya mau ketawa ngakak. Ini ngefans sampai kebawa mimpi gini, gimana ceritanya sih? Aduh! ๐Ÿ˜‚

Wednesday, November 30, 2016

[Live] The Sounds Project Vol. 2

Musik Gunadarma: The Sounds Project Vol. 2 at Gudang Sarinah Ekosistem, Jakarta Selatan (November 25, 2016). Recording with Apple iPhone SE and editing with Adobe Premiere Pro CS6.

Line-up on playlist: Maliq & D'essentials, The Adams, The Trees and The Wild, White Shoes and The Couples Company, and Barasuara.

Enjoy!

Saturday, November 19, 2016

The Trees & The Wild: I'll Believe In Anything Tour Jakarta

The Trees and The Wild: I'll Believe In Anything Tour
(ki-ka) Andra, Innu, Tyo, Remedy, dan Tamy.
Pic from here.

Ada kabar gembira! 
Band favorit asal Bekasi yang belum lama ini mengeluarkan album kedua setelah 7 tahun hiatus akan mengadakan konser tunggal!

The Trees and The Wild (atau Trees & Wild, disingkat TTATW) akan mengadakan konser tunggal bertajuk I'll Believe In Anything Tour bekerjasama dengan Institut Franรงais d'Indonรฉsie (IFI) di Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. Tour ini diadakan dalam rangka rilisnya album Zaman, Zaman pada September lalu.

Harga tiket tournya pun bisa dibilang 'memuaskan' kok. Dengan HTM 120 ribu rupiah, kalian akan dapat satu album Zaman, Zaman dalam bentuk kaset. Iya, kaset! Kabarnya kaset ini hanya diproduksi untuk acara I'll Believe In Anything Tour aja. Super eksklusif!

Awalnya pihak SRM Band Management hanya mengadakan satu kali show di IFI Jakarta. Waktu show bertambah seiring dengan meningkatnya antusias penikmat musik The Trees and The Wild. Ada early show mulai pukul 14.00 - 16.00 WIB dan late show mulai pukul 16.00 - 18.00 WIB. Saya tetap menonton mereka saat late show. Maklum suka bangun siang, jadi tak akan sempat untuk nonton early show.


The Trees and The Wild's I'll Believe In Anything Tour.
Foto oleh Thea Arbar.

Antrian penonton late show sudah mengular dari pukul 15.20 WIB. Tetapi penonton early show baru keluar pukul 16.20 WIB, dan penonton late show baru bisa masuk ke auditorium pukul 16.30 WIB. Beruntung saya dapat tempat duduk dengan view yang ciamik, sehingga kelima personelnya terlihat dengan jelas dari atas panggung.

Opening act dibuka oleh Rangkai, duo yang baru berdiri selama 4 bulan. Saya lupa kedua nama personelnya karena terlalu fokus dengan 4 buah lagu yang mereka bawakan. Musik mereka enak didengar karena ada berbagai macam alat musik yang digunakan oleh mereka, salah satunya pianika dan harmonika. Mereka juga sangat interaktif dengan para penonton.


Rangkai membuka I'll Believe In Anything Tour.
Foto oleh Thea Arbar.

Setelah itu masuklah kelima personel The Trees and The Wild. Kali ini tanpa membawa botol/kaleng beer, dan hari ini Remedy (vocal) tampil rapi dengan mengenakan kemeja warna hitam. Saya kaget karena biasanya Remedy selalu mengenakan kaos seperti ketiga personel pria lainnya.

Ya, inilah yang saya tunggu-tunggu. Untuk memanaskan penjuru auditorium, tanpa basa-basi, band yang terbentuk tahun 2005 ini langsung membawakan Monumen disusul dengan Zaman, Zaman.

Saat auditorium mulai memanas oleh dua lagu tersebut, band yang beranggotakan lima orang ini membawakan lagu yang bertempo sedikit pelan, Srangan dan memanas kembali saat Tuah/Sebak dilantunkan.

Tiba-tiba kejutan dilancarkan setelah mereka membawakan Tuah/Sebak, REMEDY BERBICARA KEPADA PENONTON setelah roadman TTATW, Mas David membisikan sesuatu ke telinganya. Remedy berkata bahwa mixer mereka ngehang. Mereka perlu waktu 15 menit untuk mereset ulang mixer tersebut.

Ada alasan mengapa saya kaget mendengar Remedy berbicara kepada penonton ditengah-tengah show. Percaya atau tidak, selama ini mereka selalu membabat habis setlist sampai akhir TANPA PERNAH SEKALIPUN berbicara dengan penonton. Ini merupakan peristiwa yang langka!


The Trees and The Wild's I'll Believe In Anything Tour.
(ki-ka) Remedy, Andra, Tamy, Tyo, dan Innu.
Foto oleh Thea Arbar.

Dalam kurun waktu tersebut, Remedy mengajak keempat personel lainnya untuk membawakan Our Roots, salah satu lagu dalam album pertama mereka, Rasuk. Koor kegirangan penonton pecah. Saya merinding sendiri.

Selesai Our Roots dilantunkan, naik kembali Mas David ke atas panggung, membisikan sesuatu ke telinga Remedy. Setelah itu Remedy berinteraksi kembali ke penonton menanyakan lagu apa yang mau dibawakan selanjutnya. Saya berteriak "Irish Girl!" beberapa kali, tetapi kebanyakan penonton berteriak "Kata!" atau "Malino!".

Melodi Kata terdengar. Ah pupus harapan saya melihat mereka membawakan track favorit saya dari album Rasuk, Irish GirlTanpa jeda, band asal Bekasi ini langsung membawakan Saija. Sepertinya mixer mereka sudah berfungsi sebagaimana seharusnya.

Saija remuk, dan dia kan sadar yang tak diam dengannya hanya waktu.

Dilanjutkan dengan track favorit saya, Empati Tamako

Mereka akan berkata, kesedihanmu akan pergi terhempas angin selatan yang penuh debu, terbawa sampai ufuk timur terjauh.
Dan kau akan terdiam. Bertanya dalam hati kapan ini ‘kan berakhir dan terbawa sampai ufuk timur terjauh.
Dan kau pernah melangkahkan kaki dan sejengkal sadar dan melantunkan, "Terang yang kau dambakan, hilanglah semua yang kau tanya".

Empati Tamako menjadi penutup I'll Believe In Anything Tour di IFI Jakarta. Saya sempat kecewa karena Nyiur tidak dibawakan. Tetapi semua kekecewaan itu hilang tatkala saya dapat mewawancarai Remedy, Andra, dan Tyo secara eksklusif!

Tuesday, September 27, 2016

Mimpi Itu... [part 10]

Ini bukan pertama kalinya saya bermimpi sedang memadu kasih dengan kekasih saya. Tapi mimpi kali ini is getting too real! Seakan peristiwa itu baru terjadi beberapa jam yang lalu. Hangat genggaman tangannya pun masih terasa di telapak tangan saya.

Sekelompok anak muda; aku, sang kekasih, dan beberapa temanku bersama pasangannya datang ke toko buku yang malam harinya berubah menjadi bioskop mini. Kami ke sana untuk observasi tugas kuliah.

Di dalam bioskop, aku dan sang kekasih duduk bersebelahan, menggenggam tangan bersama. Aku menyandarkan kepala saya di bahunya. Kami menonton film zaman dulu dengan tenang dan nyaman.

Setelah filmnya selesai, aku meninggalkan sang kekasih dan langsung keluar mencari pemilik bioskop itu untuk diwawancara. Setelah selesai bertemu dengan pemiliknya dan mewawancarainya, aku berdiskusi dengan teman-teman sekelompok di sebuah cafe yang tak jauh dari lokasi bioskop mini tersebut.

Pada saat aku sedang serius berdiskusi, sang kekasih langsung menggenggam tanganku dengan lembut. Jantungku berpacu dengan cepat. Dilihat dari situasi ini, sepertinya aku dan sang kekasih belum lama memadu kasih.

Setelah menutup diskusi, karena semuanya berpasangan, kami semua mulai berpacaran. Aku dan sang kekasih ngobrol dengan santai. Sesekali dia menggenggam tanganku dengan lembut. Genggaman tangannya sungguh menghangatkan jiwa.

Dia memiliki senyuman termanis yang pernah aku lihat. Wajahnya lembut dan rambutnya yang pretty messy, tinggi badannya... I like them all so much!

Tiba-tiba mimpi dipercepat. Saya tidak tahu kenapa tiba-tiba jumping ke scene yang super aneh.

Aku berada di parkiran depan cafe dan meluncur pergi sendirian. Jalanan begitu sepi dan gelap, tapi aku tetap meluncur pergi.

Karena aku membawa motor pelan-pelan, tiba-tiba sesuatu menyentuh pinggangku dan sontak aku kaget dan teriak panik. Aku terjatuh dari motor dan tak sadarkan diri.

Saat terbangun aku masih berada di pinggir jalan, tetapi aku terbangun dalam pelukan kekasihku. Setengah sadar aku melihat teman-temanku yang lain berkelahi dengan orang yang tak aku kenal. Sirine mobil polisi berbunyi tak jauh dari tempat kami.

"Kamu gak apa-apa kan?! Hampir aja kamu kena begal!"

Wajah kekasihku terlihat panik, dan dia memelukku dengan kencang. Ku dengar suara jantungnya berpacu dengan cepat.

Tiba-tiba saya terbangun dan masih bisa merasakan pelukan dan genggaman tangan pria itu. Oh God, why? :(

Tuesday, September 6, 2016

[Live] Efek Rumah Kaca: Tiba Tiba Suddenly Konser

Efek Rumah Kaca live at Tiba Tiba Suddenly Konser - Ruru Radio, Gudang Sarinah Ekosistem, Jl. Pancoran Timur II No. 4, Jakarta Selatan (September 6, 2016). Recording with Apple iPhone SE and editing with VideoShow app. Enjoy!