Wednesday, August 31, 2016

[Live] Road To Soundrenaline - Beer Brother Kemang

The Trees and The Wild live at Road to Soundrenaline - Beer Brother, Kemang (August 31, 2016). Recording with Apple iPhone SE and editing with VideoShow app. Enjoy!




Tuesday, July 26, 2016

Mimpi Itu... [part 9]

Aku terbangun dari tidurku yang melelahkan dipelukan seorang pria berkulit sawo matang yang tingginya sekitar 175cm.

Aku melihat sekeliling. Tampak pemandangan yang selalu kulihat setiap hari; kamarku yang berantakan dan penuh dengan bau buku-buku lama serta debu-debu tipisnya.

Lalu mengapa ada pria yang tidur disampingku, memelukku dengan wajahnya yang tenang dan nyaman? Setahuku, aku tidak memiliki kekasih ataupun crush yang sedang aku perhatikan. Setahuku, beberapa jam yang lalu aku sendiri. Literally sendiri.

Apakah aku melakukan one night stand?

Tapi kalaupun ternyata pria ini adalah pasangan one night stand, kenapa harus melakukannya di kamarku, melakukannya di kamarku di rumah orang tuaku?!

Ah tapi melihat lengkapnya pakaian yang aku dan pria itu kenakan, kemungkinan besar kami tidak melakukan apa-apa. Aku menghela nafas. Syukurlah.

Aku terbangun, perlahan melepaskan pelukan hangat pria itu, lalu berjalan ke luar kamar. Aku melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 8 pagi, kemudian melihat pintu kamar orang tuaku yang tertutup rapat, terkunci. Aku menghela nafas kembali, lega mengetahui kedua orang tuaku sudah berangkat kerja.

Aku kembali masuk ke dalam kamar dan berbaring di samping pria itu, memperhatikan baik-baik wajahnya yang bisa dibilang sempurna; alis tebal, bulu mata lentik, hidung mancung, dan bibir merona merah natural.

Aku bertanya dalam hati, bagaimana bisa pria dengan fisik sempurna sepertinya tidur di sampingku?

Sejujurnya aku bukanlah tipe wanita bagi pria sepertinya. Aku tahu karena aku sering ditolak oleh pria sepertinya.

Terlalu banyak berpikir, aku tertidur kembali di samping pria ini.

Aku terbangun. Pria itu tidak ada. Ah, benar kan! Tadi hanya mimpi belaka.

Aku keluar dari kamar, menuju lemari es. Saat akan menenggak susu stoberi kesukaanku, dua lengan memelukku dari belakang. Nafas indah terdengar di telingaku.

"Sarapannya sudah siap," kata pria itu.

Aku hanya mengangguk pelan dan mengikuti pria itu ke halaman belakang. Di halaman belakang terdapat ibu, ayah, kakak, abang, serta kedua kakak ipar dan keponakanku. Mereka menyambutku dan pria ini dengan suka cita.

Ada apa ini?

Siapa pria ini?

Saat itu saya terbangun dari mimpi absurd ini -tanpa mengetahui dengan jelas siapa pria yang ada di mimpi saya barusan. Ah...

Thursday, June 30, 2016

[Review] Cetaphil Gentle Skin Cleanser

Halo!

Jadi, seminggu yang lalu saya dikirimi produk Cetaphil Gentle Skin Cleanser dan saya benar-benar tidak sabar untuk mereview produk ini, karena ternyata produk ini tidak seperti yang saya duga selama ini. Cetaphil Gentle Skin Cleanser benar-benar bekerja dengan baik di tipe wajah berminyak, berjerawat sekaligus sensitif seperti wajah saya ini.


Cetaphil Gentle Skin Cleanser

Sebelumnya saya sudah sering baca dan menonton review para beauty blogger dan vlogger mengenai produk Cetaphil Gentle Skin Cleanser ini, tapi saya belum berminat membeli dan mencoba produk ini karena harganya yang lumayan mahal bagi mahasiswi kere yang sehari-harinya hanya bisa makan di warteg samping kampus seperti saya ini.


Cetaphil Gentle Skin Cleanser

Tapi memang benar mengenai peribahasa ada uang, ada barang. Walaupun (menurut dompet saya) produk cleanser ini lumayan mahal (Rp 112.000 - isi 125 ml), tapi Cetaphil Gentle Skin Cleanser bekerja dengan sangat baik dalam membersihkan wajah.

Dari yang tertera, Cetaphil Gentle Skin Cleanser merupakan cleanser untuk semua jenis kulit yang bebas sabun dan wewangian. Menurut saya, bau Cetaphil Gentle Skin Cleanser lebih seperti bebauan salep tapi tidak menyengat, dan yang paling saya suka cleanser ini tidak membuat perih wajah berjerawat.


Cetaphil Gentle Skin Cleanser

First impression saya terhadap produk ini adalah saya kurang suka hasilnya yang tidak kesat di wajah. Mungkin karena bertahun-tahun saya terbiasa menggunakan cleanser yang meninggalkan kesan kesat ya, jadi ketika ganti cleanser yang tidak meninggalkan kesan kesat, saya jadi gak suka. Walaupun begitu, saya tetap lanjut menggunakan cleanser ini karena Cetaphil Gentle Skin Cleanser tidak membuat wajah saya breakout (ini poin plus banget!).



Tekstur Cetaphil Gentle Skin Cleanser.

Cetaphil Gentle Skin Cleanser menyarankan dua cara pemakaian, yaitu dengan air dan tanpa air. Cara pemakaiannya sama, yaitu pertama-tama usapkan Cetaphil Gentle Skin Cleanser dan gosok dengan lembut pada kulit wajah yang masih kering, kemudian bilas dengan air atau  tanpa air, bersihkan dengan handuk/kapas. Sejujurnya, saya menyukai pemakaian tanpa air, rasanya lebih bersih di wajah.



Tampak produk Cetaphil Gentle Skin Cleanser pada kulit.

Karena saya wanita yang lumayan malas mandi kalau sudah pulang malam, beginilah pemakaian Cetaphil Gentle Skin Cleanser ala saya: bersihkan semua debu dari wajah dengan produk micellar water favorit kamu, setelahnya usapkan dan pijat sebentar Cetaphil Gentle Skin Cleanser di wajah dan bersihkan dengan kapas, kemudian usap wajah dengan produk toner favorit kamu. Selesai! :))

Setelah pemakaian Cetaphil Gentle Skin Cleanser hari ketiga, jerawat kecil yang hinggap di wajah saya perlahan mengempis dan beberapa diantaranya menghilang tanpa bekas!


Woah!


Jujur, saya akan melanjutkan pemakaian produk ini hingga habis, dan mungkin akan mencoba produk Cetaphil lainnya (buru-buru kasih tau Mamak soal Cetaphil biar bisa beli produk Cetaphil lainnya :p).




Oiya, informasi lebih lanjut mengenai produk Cetaphil bisa dilihat di sini.


PS: This is a sponsored post, but all opinions are my own.

Sunday, May 15, 2016

Barasuara: Taifun Tour 2016 di Jakarta

Barasuara: Taifun Tour 2016
(atas) Marco, TJ, Iga
(bawah) Asteriska, Gerald, Puti
Pic from here.

Saya lupa kapan pertama kalinya saya menonton live performance Barasuara. Yang saya ingat, saat itu Barasuara belum mengeluarkan album Taifun, tetapi musik mereka dengan hebatnya terngiang-ngiang di kepala saya.

Semenjak itu, saya selalu mencari tahu jadwal manggung mereka, menyaksikan video-video mereka di YouTube, dan menonton live performance mereka bersama sahabat-sahabat (yang juga menyukai musik mereka) bila sedang tidak sibuk dengan tugas-tugas kampus.

Selama dua minggu (2-15 Mei 2016), Barasuara menggelar tour pertama bertajuk Taifun Tour 2016 yang dipersembahkan oleh UrbanGiGs dan Juni Concert. Taifun Tour 2016 ini menyambangi enam kota di Pulau Jawa, yaitu Yogyakarta, Malang, Surabaya, Solo, Bandung, dan berpuncak di Jakarta.

Saya dan sahabat saya, Amalia, bisa dibilang cukup beruntung dapat menyaksikan live performance Barasuara di Taifun Tour 2016. Kami sempat khawatir akan kehabisan tiket karena saat pertama kali Taifun Tour 2016 diumumkan, kami tidak punya uang sepeserpun untuk membeli tiket. Tetapi Tuhan berkata lain, saya dan Amalia dapat rejeki seminggu sebelum Taifun Tour 2016 di Jakarta digelar.

Pukul lima sore, setelah bermacet-ria dari Depok, saya dan Amalia mendarat dengan mulus di Gudang Sarinah, Pancoran Timur II, Jakarta Selatan. Sesampainya, kami langsung menukarkan nota dengan tiket dan menunggu open gate. Fyi, ini kedua kalinya saya dan Amalia datang ke Gudang Sarinah untuk menyaksikan gigs band-band indie Indonesia.

Barasuara: Taifun Tour 2016 tickets.

Barasuara: Taifun Tour 2016 gate.

Amalia and I, in front of Barasuara: Taifun Tour 2016 gate.

Saya tidak tahu apakah ini acara molor atau memang sengaja diplanning seperti itu, karena dikatakan open gate pukul 6, tapi kami terpaksa berbaris sambil berdiri selama sejam di depan gate dan baru bisa memasuki venue pukul 7 malam. Di dalam venue pun kami harus menunggu kembali selama 30 menit. Tapi, walaupun begitu, kami cukup beruntung bisa berdiri di barisan paling depan!

Barasuara: Taifun Tour 2016 stage.

Taifun Tour 2016 di Jakarta dimulai dengan naiknya dua drummer kakak-beradik Marco Steffiano dan Enrico Octaviano. Mereka memainkan drum dengan tempo yang hampir sama. Saya terpukau. Bisa dibilang ini family goal banget ya! Gila!

Kemudian naiklah Iga Massardi (vokal/gitar), Gerald Situmorang (bass/gitar), TJ Kusuma (gitar), Asteriska (vokal), dan Puti Chitara (vokal) ke atas panggung. Mereka berdiri di posisi masing-masing dan bersiap-siap. Kembang api air mancur yang menyala di panggung tanpa aba-aba menjadi pembuka lagu Hagia. 

Sempurna yang kau puja dan ayat-ayat yang kau baca, tak kurasa berbeda
Kita bebas untuk percaya
“Seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami”

Setelah Hagia selesai, dengan cepat mereka membawakan Nyala Suara yang membuat para penonton bernyanyi dan berjoget bersama. Gudang Sarinah memanas perlahan tapi pasti.

Baramu padam, baramu padam
Lara menyala tanpa suara
Bara dalam sekam
Kala merdeka ada suara
Riak melebur, peluh membaur
Karam dalam diam
Karam dalam bara dalam sekam

Barasuara: Taifun Tour 2016.

Selesai membawakan Nyala Suara, Iga Massardi, selaku ketua geng Barasuara, memberikan speech yang saya rasa sedikit agak ngaco. Setelah sadar speech yang dia bicarakan tadi agak ngaco, Iga langsung berkata, "Lagu selanjutnya..." yang kemudian dibalas dengan koor dari penonton. Tarintih dibawakan dengan enerjik oleh band ini. Saya dan seluruh penonton kembali bernyanyi dan berjoget bersama.

Keras serapah dari semua yang kau tahu
“Apapun yang kan kamu cari adalah bisikanku”
Tak engkau ingat tajam hujam aksaramu
“Tak kau tahu kau mau sandarkan di bahuku?”
Bertabur buih air mata yang terluka
Belati itu belati tebar pedih tebar perih
Berbunga bunga ketika lihatmu ada
Menari nari merintih redam sedih redam sedih
Terlambatkah sudah, surga di telapak kakimu?

Iga dan kawan-kawan Barasuara kembali membawakan speechnya dan mulai mengganti alat musik mereka dengan yang lain. Saya lupa mereka berbicara apa, karena saya fokus melihat Marco (yes! he's my favorite personil in Barasuara). Kemudian terdengar petikan gitar dari Gerald. Mereka membawakan Taifun yang (lagi-lagi) membuat penonton kompak bernyanyi bersama.

Di dalam hidup ada saat untuk berhati-hati atau berhenti berlari
Tawamu lepas dan tangis kau redam di dalam mimpi yang kau simpan sendiri
Sumpah serapah yang kau ucap tak kembali
Tak kembali
Semua harap yang terucap akan kembali
Akan kembali
Saat kau menerima dirimu dan berdamai dengan itu
Kau menari dengan waktu tanpa ragu yang membelenggu

Barasuara: Taifun Tour 2016.

Tanpa istirahat, mereka membawakan Mengunci Ingatan yang membuat saya dan (mungkin) beberapa penonton baper, karena liriknya yang agak menye-menye.

Sembuhkan lukamu yang membiru
Serpihan hatimu yang berdebu
Pagimu yang terluka
Malammu yang menyiksa
Hal yang ingin kau lupa
Justru semakin nyata
Mengunci ingatanmu
Menahan masa lalu
Memori yang membisu
Harapan yang berdebu

Setelah menye-menye dengan Mengunci Ingatan, Iga membuka speech lagi dan mereka akan membawakan lagu baru mereka yang berjudul Samara. Iga menyarankan para penonton untuk merekam Samara, agar fans Barasuara di kota lain (yang tidak termasuk dalam rangkaian Taifun Tour 2016) juga bisa menikmati lagu baru ini.

Senjamu yang kian temaram
Surya tenggelam kau tak padam
Senyummu dalam kegelapan
Tawanya larut dalam diam
Gelapmu jadi kediaman
Yang benderang yang kau harapkan
Di dalammu, di dalammu
Ada dendam melagu
Sinar terang yang kau harapkan
Senjamu yang kian temaram
Surya tenggelam kau tak padam
Gelapmu jadi kediaman
Di dalammu dendam melagu
Samara, Ani, Jiyana
Senjamu yang kian temaram
Surya tenggelam kau tak padam
Samara, Ani, Jiyana
Kita bisa tenggelam dan bisa padam
Atau bangkit berjalan lalu melawan


Menunggang Badai menjadi lagu selanjutnya yang dibawakan oleh Barasuara. Di lagu ini, penonton benar-benar diajak bernyanyi dan berjoget bersama di level yang lebih tinggi dari sebelumnya (tetapi untungnya tidak berakhir ricuh). Beberapa additional player dinaikan di panggung yang tingginya hanya sepinggang orang dewasa itu.

Di dalam mu dendam parah bersarang
Perih mencekam, perih mencekam
Pedih bersulang, pedih bersulang
Lara bersarang, lara bersarang
Dalam peraduan dendam mu meragu
Dalam perasaan diam mu memburu
Dalam kesunyian geram mu bertalu
Dalam keraguan lantas kau berseru

Istirahat sejenak, Iga dan kawan-kawan membacakan sticky notes yang sudah ditulis dan ditempel di papan dekat gate oleh para penonton sebelum acara mulai tadi. Sayang, saya dan Amalia tidak menulis apa-apa karena kami langsung masuk ke venue untuk mengincar barisan paling depan.

Gerald, Puti, dan Marco di Barasuara: Taifun Tour 2016.

"Gerald, ditunggu di kostan nanti!" kata Asteriska, membaca salah satu sticky notes. Asteriska sempat membacakan penulisnya, tetapi saya lupa namanya siapa.

"Buat [yang nulis di sticky notes tadi]. Nih!" kata Gerald sambil mengangkat kaos lincahnya, sehingga memperlihatkan perutnya. Penonton langsung memberikan koor kesenangan.

Marco telanjang dada sambil ngerekam video di Barasuara: Taifun Tour 2016! :'))

Sendu Melagu langsung dimainkan. Penonton berjoget dan bernyanyi bersama kembali. By the way, saya suka sekali permainan drum Marco di lagu ini. Top banget!

Semua yang kau rindu
Semua menjadi abu
Langkahmu tak berkawan
Kau telah sia siakan
Waktu yang kau tahu
Waktu yang berlalu
Ingatmu kau merayu
Ingatnya kau berlalu
Sendu melagu

Api & Lentera menjadi lagu selanjutnya yang dibawakan dengan enerjik oleh Barasuara. Kita, para penonton, lagi-lagi diajak bernyanyi dan berjoget bersama di level yang lebih tinggi dari sebelumnya, dan lagi-lagi permainan drum Marco di lagu ini membuat saya terpesona. Duh, Marco!

Lepaskan rantai yang membelenggu
Nyalakan api dan lenteramu
Sampaikan mereka bara dan suara
Berlalu, lalu kini kau menunggu
Serap seram di pundakmu
Lambat laun kan menari, kan berlari
Memori yang dulu kau hapuskan akan berlari
Saranku kau berhenti menyiksa diri
Waktu yang akan mengobatimu
Yang kau perlu kau mendewasakan itu
Kita kan pulang dengan waktu yang terbuang
Dan kenangan yang berjalan bersama

Bahas Bahasa menjadi lagu penutup yang benar-benar membuat kami, para penonton, puas dengan Taifun Tour 2016 di Jakarta ini. Apalagi ditambah dengan permainan drum kakak-beradik Marco dan Enrico yang super sekali.

O! Itu tak kau lihat tak kau ragu
Peluh dan peluru hujam memburu
Bahasamu bahas bahasanya
Lihat kau bicara dengan siapa
Lidah kian berlari tanpa henti
Tanpa disadari tak ada arti
Bahasamu bahas bahasanya
Lihat kau bicara dengan siapa
Makna – makna dalam aksara
Makna mana yang kita bela
Berlabuh lelahku
Di kelambu jiwamu

Para crew berfoto bersama di atas panggung Barasuara: Taifun Tour 2016.

Walaupun venuenya tidak terlalu besar, panas, dan penuh sesak, tapi kami puas. Terima kasih atas musik hebat kalian. Terima kasih atas joget-joget dan nyanyi bersama tadi. Terima kasih atas durasi satu setengah jam kurang yang sangat menghentak. Terima kasih Barasuara. Kalian hebat!

Sampai jumpa di gigs selanjutnya!

Thursday, April 28, 2016

[Review] Ada Apa Dengan Cinta 2

Salah satu adegan di film AADC 2. (dok. Miles Films/2016)

Jendela terbuka
dan masa lampau memasukiku sebagai angin.
Meriang. Meriang. Aku meriang.
Kau yang panas di kening.
Kau yang dingin dikenang.

Apa kabar hari ini? Lihat, tanda tanya itu,
jurang antara kebodohan dan keinginanku
memilikimu sekali lagi.

Perjalanan ini dimulai semenjak Rangga, yang memenangkan lomba puisi tahunan sewaktu SMA dulu, menolak untuk diwawancarai oleh Cinta, ketua klub mading saat itu. Tolakan Rangga membuat Cinta penasaran. Dengan nekat, Cinta mengirimkan surat menghina sehingga membuat Rangga geram.

Rasa geram itu meninggalkan sebuah buku berjudul AKU karya Sjuman Djaya di lantai lorong sekolah. Cinta tak langsung mengembalikan buku itu. Cinta membacanya dengan seksama, hingga memfotokopinya untuk koleksi pribadi.

Setelah Cinta puas membaca buku berjudul AKU karya Sjuman Djaya milik Rangga, ia mengembalikannya dengan sepucuk surat bertuliskan, "Rangga, bila emosi mengalahkan logika, terbuktikan banyakan ruginya. Benerkan?"

Rangga yang menerima itu hanya tersenyum. Dia bahagia karena buku langka yang berjudul AKU karya Sjuman Djaya miliknya kembali lagi, dan mungkin juga Rangga bahagia karena Cinta yang mengembalikan bukunya.

Kalau kata Limbong, perjalanan hubungan Rangga dan Cinta macam roman tahun tujuh-puluhan. Berawal dari buku, berlanjutlah ke malam minggu. Tapi Rangga membuat kesalahan yang lumayan fatal saat berjalan bersama Cinta di Kwitang. Ia berkata bahwa Cinta seperti perempuan yang tidak memiliki kepribadian karena selalu mengorbankan kebebasan pribadi demi sesuatu yang kurang prinsipil bersama teman-temannya.

Cinta marah, tetapi dia sempat menengok ke arah Rangga sebelum pergi. Yang artinya, kalau menurut Limbong, Cinta ingin dikejar oleh Rangga. Tapi Rangga enggan mengejar Cinta. Gengsinya terlalu tinggi.

Cinta dan Rangga menjalani perjalanan semasa SMA ini dengan penuh benci tapi rindu yang berujung gengsi. Sesekali Cinta menurunkan gengsinya dengan mendatangi rumah Rangga. Cinta bertemu dengan ayah Rangga, Yusrizal. Cinta memasak bersama Rangga untuk makan malam yang berakhir dengan tidak nyaman karena bom panas yang dilempar oleh para haters Yusrizal.

Dari sini Cinta mengetahui kehidupan keluarga Rangga yang sesungguhnya.

Perjalanan semasa SMA yang manis dan sedikit pahit ini dijalani oleh mereka berdua, hingga pada suatu ketika Rangga harus ikut Yusrizal pergi ke New York. Meninggalkan Cinta dengan keringatnya karena berlarian di bandara demi menghentikan Rangga, kecupan manis dibibirnya, dan dengan janji akan kembali ke pelukan Cinta dalam satu purnama.

Empatbelas tahun kemudian, pertemanan Cinta dengan Maura, Milly, dan Karmen masih sama seperti dulu. Cinta juga sudah bertunangan, tetapi bukan dengan Rangga. Cinta bertunangan dengan pria lain. Pria yang mapan, tipikal family guy dan suami idaman setiap perempuan di muka bumi.


Kenapa begitu?


Kemana Rangga?


Mana janjinya yang akan kembali dalam satu purnama?