Friday, June 16, 2017

The Meaning of the Name

This is my two paragraph essay for final exam of Public Speaking subject.

I like the topic, so I post them here.

Hi! My name is Thea Fathanah Arbar. I was born on December 21, 1994. In Greek, Thea means Goddess; godly, gift of God. In mythology, Thea is the Greek goddess of light. She’s the daughter of Ouranos (heaven) and Gaia (earth), the wife of Hyperion (Titan god of light), and mother of Helios (the sun), Eos (the dawn), and Selene (the moon). In French, Thea means Princess. But, according to my Mom, Thea is just ‘Thea’. My Mom chose this name simply because when I was born, our neighbor's daughters were named Dhea and Ghea.

In Islam, Fathanah (or Fathonah) is one of the characteristics of the Prophet which means intelligent, smart, bright, and clever. Arbar is my family name, stands for Abdur Rachim bin Abdur Ronny, my grandfather's name from my Dad's side. So, Thea Fathanah is an intelligent princess/goddess of God's creation.

I was a bit narcissistic when writing this essay, but yeah, this is the meaning of my name.

Thursday, June 15, 2017

Kinematics Magazine


Untuk kedua kalinya diberi kepercayaan untuk menjabat sebagai Pemimpin Redaksi. 

Majalah ini diberi nama “Kinematics”, yaitu cabang mekanik yang bersangkutan dengan gerak benda tanpa mengacu pada kekuatan yang menyebabkan gerak. Kalau pembaca beranggapan nama dan isi konten majalah kami tidak nyambung, nay, kami melihat lebih jauh arti dari Kinematics.

Mereka bergerak tanpa mengacu pada kekuatan yang menyebabkan gerak, sama seperti manusia yang dapat memiliki pergerakan atau movement untuk menggerakan manusia lainnya. Ya, movement merupakan kata kunci dari majalah ini. Kami bergerak untuk menggerakan manusia lainnya lewat majalah ini.

Majalah Kinematics merupakan majalah bulanan yang fokus utamanya mengulas seputar dunia film, musik, dan lifestyle dalam lingkup nasional dan internasional. Kami hadir untuk memberikan muatan edukasi secara kritis namun tetap menghibur.

Dan saya cuma berharap majalah ini bisa memberikan kami nilai A. Amin!

Monday, May 15, 2017

Individualist Ms. Ji-Young

Individualist Ms. Ji-Young.
Pic from here.

Baru beberapa waktu lalu saya menulis kegelisahan saya mengenai kesendirian (baca di sini), eh tanggal 8-9 Mei 2017 ada TV movie (atau short-drama) 2 episode berjudul Individualist Ms. Ji-Young (개인주의자 μ§€μ˜μ”¨) tayang di KBS2.

Channel KBS2 bisa kamu tonton streaming di YouTube atau TV berlangganan. Untuk drama, variety show, talk show, dan siaran tidak langsung sudah memiliki subtitle bahasa Inggris. Yasss! XD

Individualist Ms. Ji-Young bercerita mengenai Na Ji-Young (Min Hyo-Rin) yang menganut paham individualisme, introvert yang tidak bisa memiliki hubungan pertemanan maupun romantis dengan orang lain, bertemu dengan Park Byeok-Soo (Gong Myung), seorang extrovert yang tidak bisa tidak memiliki hubungan pertemanan maupun romantis dengan orang lain.

Hubungan mereka berdua berkembang setelah Ji-Young dan Byeok-Soo putus dengan masing-masing kekasihnya di koridor apartemen lantai 7 pada hari yang sama. Kejadian itu menimbulkan kegaduhan yang berakhir di kantor polisi. Ji-Young yang super keras kepala membuat Byeok-Soo menginap di penjara.

Setelah itu Byeok-Soo berusaha untuk tidak perduli dengan kelakuan Ji-Young walaupun mereka bertetangga. Hingga suatu hari mereka tak sengaja bertemu kembali di midnight cinema bernama Dream Cinema dan menonton film 12th Assistant Deacon (2013).

Pertemuan itu menimbulkan tanda tanya besar di kepala Byeok-Soo mengenai Ji-Young, dan keduanya menggunakan cara kekanakan agar tak berhubungan lagi satu sama lainnya (padahal mereka bertetangga -_-).

Tapi... yah bisa ditebak akan seperti apa endingnya ya~

Drama ini sepertinya lebih fokus ke sebab-akibat dalam membangun karakter Ji-Young dan Byeok-Soo, which is good dalam membangun plot cerita karena keduanya unik tetapi disisi lain mereka cukup menyedihkan.

Yes, I'll recommend this short drama for you who always feel lonely af (like me).

Oiya, jika kalian suka short drama, saya juga rekomendasi TV movie berjudul Splash Splash Love (퐁당퐁당 LOVE) yang dibintangi oleh Kim Seul-gi (my favorite actress) dan Yoon Doo-joon. ;)

Happy watching!

Tuesday, May 9, 2017

Banana Actually

Kegiatan yang paling saya lakukan di smartphone, selain posting hal-hal tidak penting di Instagram Story adalah nonton video di Facebook. Beberapa diantaranya merupakan video yang (sedikit) berfaedah, sisanya hanya hiburan untuk membunuh waktu.

Suatu hari saya menemukan video berdurasi 2 menit dari akun Facebook On Demand Korea. Isi konten video tersebut begitu sederhana, mengenai cara pandang perempuan mengenai laki-laki yang sedang duduk di depannya di restoran sushi, dan berakhir di ranjang. One night stand yang berlanjut dengan indah, sepertinya.

Selain ide ceritanya yang begitu sederhana namun sarat makna, pengambilan gambarnya pun cantik sekali. Ini alasan mengapa drama dan film dari Korea Selatan memiliki banyak sekali penggemar di seluruh dunia. Dari segi cerita dan gambar, mereka memiliki kualitas yang oke.

Banana Actually season 1 ini merupakan mini drama romantis 8 episode dengan durasi 72 detik (2 menit) setiap episodenya. Bercerita mengenai hubungan percintaan empat pasangan kekasih. Diproduksi oleh 72초TV. Walaupun tidak ada peringatannya, serial Banana Actually memiliki rating 19+ karena mengandung beberapa adegan dewasa. Mini drama ini memiliki 2 season, tapi sejauh ini saya baru menonton season pertama.

I never had a romantic relationship before, dan menonton serial ini menyadarkan saya bahwa untuk membangun chemistry antara perempuan dan laki-laki, fondasi utamanya adalah melakukan hal-hal sederhana (namun sarat makna) dalam hubungan tersebut. Seperti mengetahui kesukaan masing-masing, atau makanan apa yang tidak disukai. Yah hal-hal yang (cukup) remeh tapi (cukup) krusial.

Well, semoga mini drama ini bisa menjadi referensi jika nanti saya memiliki hubungan romantis tersebut. Cukup ambil bagian yang positifnya saja ya, mengingat kultur di Indonesia dan Korea Selatan cukup jauh berbeda. Hahaha.

Banana Actually S1 bisa kalian tonton di bawah ini.

Tuesday, April 25, 2017

Updating Life

Biasanya saya langsung pulang ke rumah setelah selesai kelas selasa sesi 1, tapi mengingat setelah makan siang akan ada bimbingan dengan dosen pembimbing skripsi, saya urungkan niat tersebut.

Sebagai mahasiswa tahun akhir, tempat tongkrongan yang masih welcome dengan saya dan mahasiswa tahun akhir lainnya hanya sekretariat UKM AuviPro. Sekretariat biasanya ramai oleh abang-abangan (baca: senior) pada hari sabtu.

Namun semenjak ruang sekretariat itu selalu bocor saat hujan, anggota UKM AuviPro angkatan 13 tidak pernah terlihat batang hidungnya. Ada beberapa anggota yang sering terlihat itupun hanya untuk numpang ngecharger smartphone, sekedar tiduran atau makan/minum yang kemudian sampah makanan dan minumannya gak dibuang ke tempat sampah, digletakin gitu aja yang akhirnya disemutin. Kejadian tadi siang nih kayak gini.

Sebagai anggota UKM AuviPro angkatan 11, saya agak geram dengan kelakuan mereka. Karena dapat ruang sekretariat itu tidak mudah. Para senior UKM AuviPro sempat rebutan ruangan dengan UKM dan HIMA lain, yang akhirnya kami harus mengalah dan dapat satu ruang yang dibagi dua dengan HIMA HI (yang beberapa anggota barunya intolerant dan berisik bukan main!).

Sekarang ruang sekretariat itu disia-siakan dan jarang dirawat oleh mereka.

Ah, oke, back to the topic.

Pergi lah saya ke sekretariat. Sudah ada kawan saya, Amel, mahasiswa jurnalistik 2011 yang sampai duluan di sana sedang mendengarkan siaran radio. Siang itu, sekretariat sebelah sepi. Di sekretariat kami hanya ada saya dan Amel. Kami berdua ngobrol dari pukul 10.00 sampai menjelang waktu makan siang.

Saat makan siang, kami pergi makan di Teh Nia. Setelah makan, saya dapat kabar dosen pembimbing skripsi saya sedang tidak mau bimbingan karena tak enak badan. Maklum, dosen pembimbing saya sudah tua, umurnya 70 tahun ke atas.

Tadinya saya dan Amel mau langsung pulang saja, toh sudah gak ada kelas atau dosen yang ditunggu. Tapi siang itu merupakan siang dengan obrolan yang paling intens yang pernah kami lakukan.

Sebelum makan siang, topik yang dibicarakan adalah project film Koper yang tak kunjung digarap karena stuck di teman kami, si penulis skenario dan sutradara. Kita hanya nungguin kerjaan dia itu, tapi sampai sekarang tak kunjung selesai. Setelah makan siang, topik yang kami bicarakan adalah mengenai masalah di dalam keluarga masing-masing, karma baik dan buruk, dan bagaimana roda kehidupan berputar. Kita juga membicarakan bagaimana orang lain memperlakukan kita.

Orang tua kami, terutama para ibu, ternyata sama-sama terlalu baik dengan orang lain. Ini yang sebenarnya bikin miris. Ada banyak orang di sekitar kami (termasuk keluarga besar) yang memanfaatkan kebaikan para ibu kami. Ada yang mulutnya manis bak gula, tapi di belakang nyinyirin alias bermuka dua. Ada yang ngemis minta ini-itu, padahal mereka mampu beli tapi mereka terlalu pelit kepada diri sendiri. Ada yang iri tapi selalu nempel biar kecipratan kalau para ibu ini sedang dapat rejeki.

Waduh, kalau dijabarin mah banyak banget. Tetapi beruntung karena ada satu moment dimana kedua ibu kami melihat dengan jelas bagaimana kelakuan orang-orang di sekitarnya, entah yang bermuka dua, yang gak mau rugi atau yang iri. Akhirnya mereka, para ibu ini, jadi lebih aware dengan orang-orang seperti itu, biar tidak dirugikan seperti dulu. Alhamdulillah.

Oiya, ibunya Amel dan ibu saya tidak mengenal satu sama lain ya. Walaupun tak mengenal satu sama lain, mereka memiliki kesamaan, yaitu mereka merupakan working mom, dan mereka terlalu baik atau terlalu royal kepada orang yang salah.

Menurut saya, obrolan tadi siang cukup membuka pikiran kami. Ternyata setiap individu melewati fase permasalahan yang bisa dibilang cukup sama. Ada dimana saya dan Amel dinyinyirin dan difitnah oleh beberapa oknum tetangga karena kami sebagai perempuan, kami selalu pulang larut malam.

Entah apa yang ada dipikiran oknum tetangga yang suka nyinyir. Yah, cuma dia dan Tuhan yang tau. Well, pada dasarnya kami tipe manusia yang masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri alias masa bodo, kami tak ambil pusing sih. Toh ini hidup kami yang jalani sendiri, dan bukan mereka yang membiayai.