Wednesday, May 20, 2020

Lika-liku Hidup Selama Pandemi

Siang itu sama seperti siang-siang pada hari-hari sebelumnya.

Saya diam di kamar. Menghembuskan nafas malas sembari terlentang di atas ranjang. Saya tinggalkan laptop yang menyala, menampilkan pekerjaan-pekerjaan yang belum usai dikerjakan.

"Oh, sudah lebih dari 10 minggu," gumam saya.

Mungkin ini aneh, tapi saya rindu hiruk pikuk Jakarta. Sepuluh minggu lalu, mungkin ini hal yang paling saya benci.

Sudah lebih dari 10 minggu saya 'terkurung' di rumah akibat pandemi COVID-19.

Saya yang bekerja sebagai jurnalis hampir mengalami mental breakdown karena saban hari harus menulis berita up to date mengenai penyakit ini.

Tapi makin lama saya makin bodo amat.

Jujur, sebelum memasuki fase bodo amat, saya bisa mual-mual saat nulis berita mengenai COVID ini. Rasanya pusing, merasa hidup akan berakhir. Pemikiran itu terus ada menghantui hingga saya merasa kebal sendiri.

Nggak tahu deh bakal seperti apa ke depannya. Saya tetiba rindu isu yang mengatakan pandemi virus ini akan berakhir setelah dua minggu lockdown di rumah masing-masing. Kalau dipikir-pikir, ini agak bullshit ya, tapi ya sudahlah.

Life must go on ceunah! ðŸ˜

Monday, February 24, 2020

Drama kopi darat

Saya pernah punya pengalaman tidak mengenakan soal kopi darat (kopdar) dengan pria, dan ini terjadi saat SMP.

Singkatnya dulu saya pernah dicomblangin dengan sepupunya salah satu teman lelaki. Dimintalah saya ketemu dengan sepupunya di stasiun Depok Lama. Saya iyain aja karena penasaran.

Dulu polos banget ya, jadi nggak curiga kenapa tiba-tiba minta ketemuan... di stasiun pula. Ngapain deh haduh... ðŸ™„

Sebelum diminta kopdar, teman saya ini selalu membanggakan sepupunya. Manisss banget omongannya.

Eh ternyata zonk abis. Kata teman saya, sepupunya ini manis tapi boro-boro manis. Sumpah buyar image dia di pikiran saya. Mana kelihatan kayak mesum. Langsung ilfeel sejadi-jadinya.

Karena takut, saya langsung pura-pura bilang baru ingat ada janji sama nyokap. Dari situ saya langsung ngacir dan pulang ke rumah.

Dahlah... akibat peristiwa ini saya jadi trauma dengan kopdar.


***

Belasan tahun kemudian, saya nekat kopdar lagi. Saya merasa sudah dewasa, jadi sepertinya bisa mengatasi trauma kopdar.

Hari ini akhirnya saya kopi darat dengan salah satu match pria di aplikasi pencarian jodoh Bumble. Awalnya saya nggak ekspektasi berlebih. Saya hanya berharap aslinya sesuai dengan apa yang selama ini saya pikirkan.

Syukurlah pertemuan saya dengan pria tersebut berjalan mulus. Rasanya seperti bertemu dengan teman lama. Fyi, kami sudah saling berkomunikasi via WhatsApp sejak 1 Agustus 2019 lalu, jadi sekitar 7 bulan lah. 

Kami janjian bertemu di Habitat, kafe milik temannya teman saya. Saya juga mengenalkannya ke beberapa teman saya yang saat itu sedang nongkrong di sana.

Pertemuan itu berakhir dengan baik dan kita berpisah di stasiun kereta (lagi-lagi lokasi ini ðŸ™„). Sebelum berpisah, saya dan dia berjanji akan bertemu lagi bulan depan.

I hope this going well lah ya hehehe ðŸ˜

Sunday, February 23, 2020

Feeling betrayed

Hari Minggu siang rumah saya kedatangan para tante, atau adik-adiknya Mamak. Mereka berkumpul di teras, berkomunikasi dan bersenda-gurau seperti biasa.

Saya, yang saat itu sedang bersiap untuk pergi, sempat duduk sebentar untuk mengikuti obrolan mereka. Kita sempat membicarakan hal-hal yang sedang viral di sosial media dan pemberitaan saat itu.

Namun, salah satu adik Mamak yang bernama Tante Hen, out of the blue, bertanya mengenai topik yang selalu saya hindari.

"Kak, sudah punya teman dekat?" tanya Tante Hen.

Saya langsung memutar otak, berharap jawaban saya ini bisa menghentikan pertanyaan selanjutnya, "Teman dekat? Banyak kok tan!"

Tetapi, saya salah. Tante saya yang lainnya, Tante Lis, malah dengan gamblang membetulkan maksud dari Tante Hen.

"Bukan teman dekat, Hen. Pacar maksudnya!" ujar tante Lis, dengan nada semangat.

"Oh pacar? Ah ribet ah pacar-pacar," jawabku lagi.

"Kita mau rapat nih, Kak. Makanya kapan?" tanya Tante Hen kembali.

Belum aku menjawab, Tante El menimpahi omongan Tante Hen sambil tertawa, "Punya calon juga enggak, gimana mau rapat?"

"Nah itu tau, Tan," imbuhku.

"Iya nih, kita mau bikin seragam lagi," ujar Tante Lis.

"Kalau seragam, pakai seragam bekas nikahan kakak atau abang aja. Gak ada budget lah Tan," ucapku mantap.

Kupikir cecaran soal punya pacar dan menikah akan berhenti sampai situ, but I was wrong. Kali ini yang buka suara bukan para tante-tante, melainkan Mamak sendiri.

"Iya nih, tinggal nikahin satu lagi," ujar Mamak.

DEG! ðŸ˜Ļ

WHAT? W-H-A-T? MOM! YOU BETRAYED ME!

Sumpah demi apapun, saat Mamak mengeluarkan kalimat tersebut, saya merasa terkhianati. Sebab saya pikir Mamak paham bahwasanya saya sedang menikmati hidup sendiri, dan paham kenapa saya belum mau menikah dan berumah tangga.

Padahal saya sudah senang karena selama ini Mamak tidak pernah mengeluarkan pernyataan seperti ini. Tetapi ketika ada 'dukungan' dari adik-adiknya, Mamak jadi berani memberi pertanyaan seperti itu.

"Ya sudah kak, siapa tahu abis Kakak pergi hari ini, kakak bisa dapat pasangan," tutup Tante Hen, meninggalkan saya yang bengong karena merasa tanteku satu ini semacam cenanyang.

Kalimat akhir Tante Hen ini entah bisa dibilang sedikit tepat, sebab hari ini saya akan kopi darat alias bertemu dengan salah satu pria yang saya kenal lewat aplikasi pencarian jodoh Bumble.

Ini akan menjadi pertama kalinya saya bertemu dengan dia, setelah 'match' dengannya sejak 23 Juni 2019 silam. Saya enggak berekspektasi apa-apa, hanya berharap dia sama seperti chat yang intens kami lakukan dalam beberapa bulan terakhir. I hope. ðŸ™‚

Friday, December 27, 2019

Is this love?

Siang itu, saya dan beberapa kolega perempuan berniat turun ke bawah untuk makan di kantin. Kami masuk ke dalam lift setengah penuh. Saat itu saya tidak memiliki ekspektasi apa-apa.

Saat itu pintu lift terbuka di lantai 3, saya langsung terperajat tatkala melihat dia, salah satu kolega pria yang menarik, berdiri di depan pintu lift.

Mata kami bertemu, namun beberapa detik kemudian saya langsung menunduk sambil mundur sedikit untuk memberikan ruang agar dia bisa masuk ke dalam lift.

Saya melihatnya kembali, dan ia menggerakan alisnya tanda menyapa saya. Namun dengan bodohnya, saya malah kembali menunduk karena malu.

Kalau kami hanya berdua di lift, mungkin keadaanya akan seperti ini ðŸĪŠ

Kala itu lift jadi lumayan penuh, namun tidak desak-desakan. Ia terlihat agak repot karena membawa tripod dan kamera video. Salah satu kolega saya menyolek dia, bertanya "Mau kemana?"

Kurang lebih dia jawab, sambil tersenyum manis, "Biasa lah Mbak, liputan."

Sejak saat itu, hati saya deg-degan tidak karuan. Rasanya panas. Semenit, dua menit, hingga sejam kemudian hati saya masih deg-degan, seakan enggan berhenti. Rasanya saya mau menangis karena hati ini tiba-tiba enggak karuan.

Bekal yang saya bawa pun tidak habis, saya benar-benar tidak nafsu untuk makan, ataupun bekerja. Salah satu kolega saya sampai heran kenapa saya tidak menghabiskan bekal tersebut, tidak seperti biasanya.

Ini ada apa sih? Akhirnya saya mencari tahu mengenai hal ini. Kalau menurut sebuah artikel, ini tandanya saya sedang jatuh cinta. MASA IYA?!?! 😭

Kok saya jadi jatuh cinta beneran sih??? Saya kan niatnya cuma suka gitu-gitu aja karena orangnya manis, bukan buat beneran jatuh cinta! Haduuuh!

Guna meyakinkan diri sendiri, saya langsung kirim pesan WhatsApp ke salah satu kawan saya yang super gesrek aka Umire.

"Ya beneran suka hahaha," ujar Umire.

No no no! Gak mau! Saya enggak mau jatuh cinta lagi! 😭😭😭

Umire menyarankan saya untuk berdiskusi dengan kawan saya lainnya bernama Putri, yang katanya udah profesional dalam hal receh begini. Saya langsung kirim pesan WA, meminta Putri untuk datang ke tempat nongkrong lebih cepat dari biasanya setelah jam pulang kantor.

Ketika bertemu dengan Putri di tempat nongkrong, saya mengambil nafas dalam-dalam dan langsung menceritakan duduk perkaranya. Selain Putri, ada kawan saya yang lain di sana, Dhani yang juga mendengarkan kisah picisan ini.

Dengan cepat Putri langsung menyimpulkan kalau saya memang benar-benar jatuh cinta dengan kolega saya tersebut. Mereka tertawa dengar kisah ini, kapan lagi lihat perempuan berusia 25 tahun bilang jatuh cinta beneran macam ABG. 😓

Alasan saya tidak mau jatuh cinta lagi karena jatuh cinta beneran seperti ini sama saja 'membunuh' saya. Roman picisan yang endingnya sudah jelas kalau rasa suka saya tidak akan diterima dengan baik.

Kok bisa yakin? Ya karena dulu kan juga sempat kejadian seperti ini, waktu saya suka dengan cinta pertama selama 9 tahun. Takut deh saya, sumpah.

Putri bilang, memang saya enggak bisa mengatur perasaan saya, tapi setidaknya saya bisa mengurangi rasa suka saya dengannya.

Ia memberi saya saran untuk tidak menghiraukannya. Saya cukup bersyukur, walaupun berada di satu perusahaan yang sama, kami berbeda divisi, juga berbeda ruang dan laintai. Jadi setidaknya saya tidak akan bertemu dengannya setiap hari.

Jujur, ini pengalaman yang cukup lucu sih karena tahu-tahu suka bisa suka sama orang yang bahkan jarang berkomunikasi hahaha 😅

Sunday, December 22, 2019

The Truth

"Kamu jadi pengangguran lagi ya?"

Saya tersedak saat mengunyah gorengan bakwan ketika Mamak bertanya hal tersebut.

"Iya. Kenapa?" tanya saya sambil tetap menguyah sisa bakwan.

"Kenapa lagi sih?"

"Dipaksa resign." jawab saya singkat.

"Heh?" tanya Mamak lagi, kali ini penasaran.


"Iya dipaksa resign. Abis leadernya toxic, lingkungannya jadi ikutan toxic," jawab saya sambil mengambil bakwan lain di piring.


Mamak hanya mengangguk paham dengan jawaban tersebut. Saya terdiam beberapa saat, sampai terlintas satu pertanyaan yang jawabannya akan selalu sama; "Sebenernya Mamak ikhlas gak sih anaknya jadi jurnalis?"

"Enggak." jawab Mamak dengan mantap.

TUH KAN! 

"Ya terserah sih, udah tau anaknya batu, masih juga dilarang," kata saya sambil ngenye ke arah Mamak yang langsung pasang wajah mesem.

***

First of all, I'm not trying to burn the bridge. I'm just sharing what happens a couple months ago, and I'm sick of this person. 

Jadi tanggal 27 Juni lalu, saya resmi menyerahkan surat resign paksaan ke kantor. Ingat ya, saya bukan resign atas kemauan sendiri, tetapi dipaksa. Sekali lagi, saya dipaksa menyerahkan surat resign pada bulan keempat bekerjapadahal kontak kerja masih ada dua bulan lagi.

Ada berbagai alasan mengapa akhirnya surat resign paksaan itu sampai ke HRD. Salah satunya karena so-called-leader yang toxic parah. Saya dipimpin oleh seseorang yang cukup toxic, menganggap dirinya seorang pemimpin, padahal hanya sampah masyarakat yang tidak paham apapun.

You can call me harsh, but really, he's the worst team leader I ever hadPadahal dia hanya seorang koordinator lapangan (korlip) di perusahaan tersebut. Rumornya, dia diangkat dari penulis jadi korlip karena ia pintar 'menjilat' dan 'cari muka' dengan atasan. Haduh.

No. Ini tidak bisa dibilang gosip, tapi memang benar fakta dia orangnya seperti itu. Orang-orang macam dia memang harusnya tidak diberikan kekuasaan untuk memimpin banyak orang, karena memang tidak capable.

Beberapa waktu sebelum surat resign paksaan itu dilayangkan ke HRD, saya sempat dipanggil HRD tanpa adanya pemberitahuan terlebih dahulu. Jujur, saya kaget. 
Ada apa?

Ternyata si korlip tersebut sudah mengadu ke HRD bahwa pekerjaan saya tidak benar, dan ia meminta HRD untuk memecat saya.

Sebelum kepala HRD meminta surat resign paksaan saya, dia bilang untuk saya mencoba berbicara dengan korlip tersebut. Menurut kepala HRD, takutnya ini hanya kesalah-pahaman.

And I was like... What?

Jadi saya disuruh memohon-mohon, gitu? Oke kalau mau kamu begitu, saya ladeni. Saya membuang semua ego saya karena masih pengin mempertahankan pekerjaan tersebut, sebab saat itu saya belum mendapatkan pekerjaan lain.

Sekali lagi, saya belum mau mencoba burning the bridge, jadi saya mencoba berbicara dengan leader toxic dan salah satu kacungnya.

Tapi... selama berbicara dengan mereka, saya rasanya mau meledak!

Ingin rasanya menyemprotkan kata-kata kasar ke mereka, karena mereka sebodoh itu. Banyak sekali alasan-alasan tak masuk akan yang mereka lontarkan. Bahkan mereka menjelek-jelekan reporter lain yang tidak sepaham dengan mereka. AMPUN GAK PAHAM LAGI DEH JAHATNYA MULUT DAN PEMIKIRAN MEREKA.

Tapi semua itu saya tahan. Sekali lagi, saya masih ingin mempertahankan.

Lalu yang bikin kaget, alasan mengapa saya dipaksa resign karena... karena saya enggak asik. Bahkan salah satu kacung korlip tersebut bilang kalau saya terlalu sering nulis berita lifestyle dan entertainment.

Hah? Gimana? ðŸĪ”ðŸĪ”ðŸĪ”

Saya pikir ada yang salah dengan tulisan atau lainnya. Misalnya tulisan saya banyak typo dan lain-lain, tapi ternyata bukan. Saya dicut karena tidak asik dan terlalu sering menulis berita lifestyle dan entertainment.

Sungguh alasan pemecatan yang tidak profesional.

Padahal dulu, waktu awal-awal saya masuk, pemimpin redaksi (pemred) meminta saya untuk banyak menulis artikel soal lifestyle dan entertainment karena tidak ada bisa menulis hal tersebut.

Saya juga awalnya kaget, soalnya media ini kan kental banget dengan citra politiknya, masa mau masukin tulisan lifestyle dan entertainment yang receh sih? Tapi waktu itu pemrednya sendiri yang nyuruh saya. Ngomongnya di depan para editor juga, jadi saya manggut-manggut aja, walaupun sedikit bingung.

Anyway, akhirnya saya ikhlas dipaksa resign. Sekitar 1 minggu setelahnya, saya resmi keluar dari perusahaan tersebut.

Tapi entah kenapa rasanya kok hati ini lega sekali, plong gitu. OMG. I was wrong. Tidak seharusnya saya mempertahankan hal yang beracun seperti ini. Memang lebih baik keluar dari lingkungan dan manusia-manusia toxic, biar enggak ketularan sakit.

Beberapa saat setelah saya dan salah satu kawan saya keluar dari lingkungan toxic tersebut, banyak kawan-kawan seperjuangan di sana yang juga bernasib sama seperti saya. Tapi yang mengherankan... mereka semua merasa lega keluar dari perusahaan tersebut.

Beberapa di antara mereka bahkan sudah mendapatkan pekerjaan lain yang jauh lebih baik. Syukurlah!

***

Note: Tulisan saya ini sudah berada di draft beberapa hari setelah setelah saya resmi keluar dari perusahaan tersebut. Awalnya saya enggan mempublikasikannya karena masih menghargai mereka. Tapi rasanya kok gak guna ya kalau peristiwa beracun ini disimpan sendiri. Jadi saya publikasikan saja sekalian. Bye toxic!

Saya juga menuliskan hal ini lewat postingan saya sebelumnyaKamu juga bisa membaca postingan kawan saya yang sama-sama dipaksa resign di sini.