Thursday, June 21, 2012

This is Indonesia.

Halo para blogger yang berbahagia!

Long time no post. Maafkan saya. Karena saya terlampau sibuk dengan pekerjaan baru saya, pengangguran.

Ya, pekerjaan saya sebagai pelajar sudah selesai. Dan akhirnya saya harus mengganti pekerjaan saya menjadi mahasiswa. Namun ada masa transisi dari pelajar ke mahasiswa, yaitu pengangguran.

By the way, kali ini saya mau membahas mengenai masalah sosial. Masalah sosial yang sangat dekat (benar-benar dekat) dengan kehidupan masyarakat di Indonesia.


Kemiskinan.

Semua masyarakat Indonesia tahu bahwa negara Indonesia adalah negara dengan angka kemiskinan yang masih cukup tinggi.

Mengapa?

Tidak ada yang bisa menjawab. Saya tidak bisa menjawabnya. Masyarakat tidak bisa menjawabnya. Pemerintah-pun tak bisa menjawabnya.

Sedih melihat anak-anak yang tidak mampu (saya gak tega untuk mengetik 'miskin'. Karena terlalu kasar -menurut saya) yang tidak sekolah karena tidak mampu untuk membayar uang sekolah. Ya Tuhan, untuk makan saja mereka susah. Apalagi untuk membayar uang sekolah yang lumayan mahal.


Kan ada program pemerintah wajib belajar 9 tahun.
Yang sekolahnya gratis dari SD sampai SMP!

Hahaha! Iya. Memang ada. Namun nyatanya mereka yang tidak mampu harus tetap membayar sejumlah uang kepada pihak sekolah. Contohnya keponakan saya. Meski ia tidak membayar iuran, ia tetap harus membayar uang buku, uang seragam dan segala tetek bengek lainnya.

Gratis kok setengah-setengah?

Saya yakin, ada korupsi dibalik program pemerintah wajib belajar 9 tahun ini.

Negara akan sukses bila SDM-nya terdidik dan terpelajar. Oke, kita percaya kalimat ini dan berarti seluruh lapisan masyarakat di Indonesia harus bersekolah. Karena selain di sekolah, dimana lagi kita bisa mengenyam pendidikan?

Bagi orang berduit, gampang saja masuk sekolah. Apalagi sekolah RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional) dan SBI (Sekolah Bertaraf Internasional). Karena yang dibutuhkan calon siswa/i, selain otak yang encer (karena minimal rata-rata di sekolah RSBI dan SBI adalah 7,5 dan 8,00), mereka perlu uang yang banyak.

Sebenarnya tidak dipungkiri, sekolah RSBI dan SBI itu mempunyai fasilitas yang oke punya. Ruang kelas ber-AC, buku-buku penghantar menggunakan bahasa Inggris, fasilitas laboratorium yang lengkap.

Oke, intinya kalau kalian bersekolah di sekolah RSBI atau SBI kalian akan merasa bangga. Karena masuk ke sekolah itu cukup sulit kalau hanya mengandalkan otak semata.

Sebenarnya ada kuota untuk anak-anak pintar namun tidak mampu secara finansial di sekolah RSBI dan SBI. Tapi banyak sekolah RSBI dan SBI yang tidak mampu memenuhi kuota tersebut. Misalnya dari 30 bangku hanya terisi 10-15 bangku.

Padahal mereka (anak-anak pintar namun tidak mampu secara finansial) bakal mendapatkan beasiswa lho. Tapi mengapa? ini jawabannya: mereka minder bersekolah di tempat yang banyak siswa/i berduit, ber-handphone canggih, dan bermobil mahal.

Rasa minder itu bisa menjadi rasa iri dan bisa menghasilkan tindak kriminal. Seperti mencuri uang teman (yang berduit lebih) untuk membeli sesuatu agar terlihat keren dimata teman-temannya sampai melawan orang tua (karena orang tua tak sanggup membelikan handphone canggih).

Ini adalah penyakit sosial yang susah untuk dihilangkan.


****

Halah, gue ngomongin apa sih dari tadi? Hahaha... Intinya cukup generasi kita aja yang 'begini'. Semoga generasi yang akan datang gak kayak kita ini. Cukup sekian dan terima kasih. :p

@theaarbar

Monday, June 18, 2012

...

Teman di Twitter: mau di unfollow, gak enak.
Di follow, menuh-menuhin timeline dengan tweet-tweet yang kurang bermutu.

@theaarbar