Monday, February 24, 2020

Drama kopi darat

Saya pernah punya pengalaman tidak mengenakan soal kopi darat (kopdar) dengan pria, dan ini terjadi saat SMP.

Singkatnya dulu saya pernah dicomblangin dengan sepupunya salah satu teman lelaki. Dimintalah saya ketemu dengan sepupunya di stasiun Depok Lama. Saya iyain aja karena penasaran.

Dulu polos banget ya, jadi nggak curiga kenapa tiba-tiba minta ketemuan... di stasiun pula. Ngapain deh haduh... 🙄

Sebelum diminta kopdar, teman saya ini selalu membanggakan sepupunya. Manisss banget omongannya.

Eh ternyata zonk abis. Kata teman saya, sepupunya ini manis tapi boro-boro manis. Sumpah buyar image dia di pikiran saya. Mana kelihatan kayak mesum. Langsung ilfeel sejadi-jadinya.

Karena takut, saya langsung pura-pura bilang baru ingat ada janji sama nyokap. Dari situ saya langsung ngacir dan pulang ke rumah.

Dahlah... akibat peristiwa ini saya jadi trauma dengan kopdar.


***

Belasan tahun kemudian, saya nekat kopdar lagi. Saya merasa sudah dewasa, jadi sepertinya bisa mengatasi trauma kopdar.

Hari ini akhirnya saya kopi darat dengan salah satu match pria di aplikasi pencarian jodoh Bumble. Awalnya saya nggak ekspektasi berlebih. Saya hanya berharap aslinya sesuai dengan apa yang selama ini saya pikirkan.

Syukurlah pertemuan saya dengan pria tersebut berjalan mulus. Rasanya seperti bertemu dengan teman lama. Fyi, kami sudah saling berkomunikasi via WhatsApp sejak 1 Agustus 2019 lalu, jadi sekitar 7 bulan lah. 

Kami janjian bertemu di Habitat, kafe milik temannya teman saya. Saya juga mengenalkannya ke beberapa teman saya yang saat itu sedang nongkrong di sana.

Pertemuan itu berakhir dengan baik dan kita berpisah di stasiun kereta (lagi-lagi lokasi ini 🙄). Sebelum berpisah, saya dan dia berjanji akan bertemu lagi bulan depan.

I hope this going well lah ya hehehe 😁

Sunday, February 23, 2020

Feeling betrayed

Hari Minggu siang rumah saya kedatangan para tante, atau adik-adiknya Mamak. Mereka berkumpul di teras, berkomunikasi dan bersenda-gurau seperti biasa.

Saya, yang saat itu sedang bersiap untuk pergi, sempat duduk sebentar untuk mengikuti obrolan mereka. Kita sempat membicarakan hal-hal yang sedang viral di sosial media dan pemberitaan saat itu.

Namun, salah satu adik Mamak yang bernama Tante Hen, out of the blue, bertanya mengenai topik yang selalu saya hindari.

"Kak, sudah punya teman dekat?" tanya Tante Hen.

Saya langsung memutar otak, berharap jawaban saya ini bisa menghentikan pertanyaan selanjutnya, "Teman dekat? Banyak kok tan!"

Tetapi, saya salah. Tante saya yang lainnya, Tante Lis, malah dengan gamblang membetulkan maksud dari Tante Hen.

"Bukan teman dekat, Hen. Pacar maksudnya!" ujar tante Lis, dengan nada semangat.

"Oh pacar? Ah ribet ah pacar-pacar," jawabku lagi.

"Kita mau rapat nih, Kak. Makanya kapan?" tanya Tante Hen kembali.

Belum aku menjawab, Tante El menimpahi omongan Tante Hen sambil tertawa, "Punya calon juga enggak, gimana mau rapat?"

"Nah itu tau, Tan," imbuhku.

"Iya nih, kita mau bikin seragam lagi," ujar Tante Lis.

"Kalau seragam, pakai seragam bekas nikahan kakak atau abang aja. Gak ada budget lah Tan," ucapku mantap.

Kupikir cecaran soal punya pacar dan menikah akan berhenti sampai situ, but I was wrong. Kali ini yang buka suara bukan para tante-tante, melainkan Mamak sendiri.

"Iya nih, tinggal nikahin satu lagi," ujar Mamak.

DEG! 😨

WHAT? W-H-A-T? MOM! YOU BETRAYED ME!

Sumpah demi apapun, saat Mamak mengeluarkan kalimat tersebut, saya merasa terkhianati. Sebab saya pikir Mamak paham bahwasanya saya sedang menikmati hidup sendiri, dan paham kenapa saya belum mau menikah dan berumah tangga.

Padahal saya sudah senang karena selama ini Mamak tidak pernah mengeluarkan pernyataan seperti ini. Tetapi ketika ada 'dukungan' dari adik-adiknya, Mamak jadi berani memberi pertanyaan seperti itu.

"Ya sudah kak, siapa tahu abis Kakak pergi hari ini, kakak bisa dapat pasangan," tutup Tante Hen, meninggalkan saya yang bengong karena merasa tanteku satu ini semacam cenanyang.

Kalimat akhir Tante Hen ini entah bisa dibilang sedikit tepat, sebab hari ini saya akan kopi darat alias bertemu dengan salah satu pria yang saya kenal lewat aplikasi pencarian jodoh Bumble.

Ini akan menjadi pertama kalinya saya bertemu dengan dia, setelah 'match' dengannya sejak 23 Juni 2019 silam. Saya enggak berekspektasi apa-apa, hanya berharap dia sama seperti chat yang intens kami lakukan dalam beberapa bulan terakhir. I hope. 🙂