Saturday, December 11, 2010

Irfan Bachdim: Artis Baru di Lapangan Hijau Indonesia

Irfan Haarys Bachdim lahir di Amsterdam, 11 Agustus 1988. Ia adalah keturunan Indo-Belanda. Ayahnya, Noval Bachdim, dulunya adalah pemain Persema Malang di era 80-an sedangkan Ibunya, Hester Van Dijic adalah warga negara Belanda. Sekarang mereka tinggal di kota Amsterdam.

Irfan adalah pemain Timnas. Pemain Naturalisasi. Irfan bermain bola di Indonesia karena menurutnya sangat menarik. Di Belanda, ia pernah masuk klub Ajax Amsterdam Junior 1999-2001, SV ARgon Junior 2002, FC Utrecht Junior 2003-2007, Timnas U-23 Asian Games Qatar 2006, FC Utrecht 2008-2009, HFC Haarlem Netherland 2009.

Mungkin karena peruntungannya di Belanda tidak terlalu bagus, maka ia pindah ke Indonesia. Setelah sesampainya di Indonesia, ia tidak langsung menjadi pemain Timnas dan terkenal. Ia harus menerima 2 kali penolakan dari klub Persija Jakarta dan Persib Bandung. Setelah di tolak, ia langsung kembali ke negeri asalnya, Belanda.

Sesampainya Irfan Bachdim di Belanda, Radio Netherlands Worldwide mewawancarainya. (Liat videonya di sini)

Sedih karena di tolak 2 klub sekaligus, Irfan tetap bermimpi bermain di Indonesia. Dan mimpinya terwujud. Dengan menjadi pemain Naturalisasi, ia sekarang menjelma menjadi pemain Timnas Indonesia.

Ia menyumbang 2 gol di pertandingan AFF Suzuki Cup 2010 melawan Malaysia (5-1, Irfan menyumbang 1 gol) dan Laos (6-0, Irfan menyumbang 1 gol kembali). Sedangkan di pertandingan melawan Thailand (2-1), Irfan tidak menyumbang gol sama sekali. Bambang Pamungkas-lah yang menyumbang 2 gol.

Walaupun di pertandingan melawan Thailand ia tidak menyumbang gol, namun mimpinya yang ingin bermain bola di Indonesia akhirnya tercapai juga. Berkat potensinya dan kegigihannya dan juga ketampanannya ia akhirnya bisa bermain bola di Indonesia dan menjadi pemain Timnas Indonesia. (TFA)

Referensi:

Friday, September 17, 2010

Behind The Scene: Hunting Part 3






Behind the scene: hunting Part 3 di Kota Tua, Jakarta.

Model: Selena Alesandra dan Sofyan.
Fotografer: Thea, Dziky, Decu, Arini, Vinkan, Sally dan Richel Fachrein.

Wednesday, September 15, 2010

Lipsy London Contest @ Looklet.com







Ada kontes di Looklet.com dan diatas ini adalah karya gue. Mudah-mudahan gue masuk nominasi. Karena menurut gue, mix and match baju gue udah keren. Hehehe.

Saturday, September 11, 2010

Idul Fitri 1431 H.









Kami segenap cucu-cucu Eyang Kesih mengucapkan:

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431 H.
Minal Aidin Wal Faidzin.
Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Wednesday, September 1, 2010

Kalah dan 'Nembak'

They're Lemi. Boneka kertas buatan Rere.

Hari ini gue lagi gak enak badan, tapi pas udah mau jam istirahat gue langsung semangat lagi. Hahaha... dasar.

Hari ini diumumin pemenang lomba menghias kelas, dan kelas gue kalah. Dapet juara 4. Kalah sama kelas 12-nya. Kelas gue juga kalah dalam lomba kartu ucapan. Tapi kelas gue dapet juara 3 lomba kaligrafi. Terima kasih untuk Dziky Darmawan.

Yah, kekalahan adalah keberhasilan yang tertunda kan? Gue cukup senang karena kelas gue dapet juara 4 menghias kelas dan juara 3 lomba kaligrafi.

Syalalalala~

*

Hari ini temen gue yang bernama Dilla Leoni Brata dan Akhmad Saikhu Pratama Putra resmi menjalin hubungan cinta. Cieee...

Gue jadi iri. Gue belum pernah pacaran soalnya. Kapan ya Kim Beom nyatain cintanya ke gue? Hahaha ngarep banget! Haduh, ada-ada aja deh gue mengharapkan dirinya menyatakan cintanya pada gue. Itu gak mungkin! That's impossible!

Tuesday, August 10, 2010

Nonton Bareng

Nonton film The Last Airbender bareng Gilang, Saiful, Fajar, Dziky, Chepy, dan (gue lupa namanya tapi dia anak IPA 2).

Ada satu kejadian yang bikin kesal, Saiful dan Chepy ngaret! Alhasil kita jadi nonton The Last Airbender jam 14.25.

Ini pertama kalinya gue nonton film bareng 6 cowok, dan gue cewek sendiri. Agak awkward, tapi mau gimana lagi, gue harus ikut karena ini ditraktir Gilang. Yah, kapan lagi kan ditraktir nonton. Hahaha.

Selama nungguin pemutaran film jam 14.25, gue sms-an ama Sinta. Semua sms yang gue kirim ke Sinta isinya gerutuan semua. Yah, thanks Sinta udah mau nemenin gue sms-an. Hahaha... gue orangnya moody-an sih, jadi gampang ngegerutu.

Pas lagi nonton, tiba-tiba gue malah mual, pusing, dan ingin pipis. Mau ke WC tapi sayang filmnya kalau ditinggal, ditambah gue duduk paling ujung jadi agak susah untuk keluar. Jadi gak konsen nontonnya. Efek nahan pipis, jantung gue deg-degan dan pundak gue lemes banget. Aduh, gak nyaman banget.

Back to the film:
Keren, efeknya bagus. Tapi kok yang jadi Zuko-nya orang India? Bukannya rasis tapi , gimana ya, agak gak pas gitu. Pemeran Aang, Katara, dan Sokka keren (mereka jadi cakep gitu di film). Tapi kok filmnya bersambung gitu ya? Gak asik ah.

Tadi sayang banget kita gak foto-foto.

Saturday, August 7, 2010

Menjelang Puasa




Mau puasa lagi...

Libur lagi...

Hari ini, tepatnya tadi siang, Sejahtera Senior High School mengadakan acara maaf-maafan sebelum puasa. Gue sedih harus libur beberapa hari. Gue sedih kalo gak ketemu sama anak-anak XI SOS 4 yang narsis. Gue sedih.

Tadi gue sempet foto-foto sama anak-anak SOS 4 dan anak-anak SOS lain, juga anak-anak IPA di lapangan pas lagi ngantri mau maaf-maafan sama guru-guru (wali kelas XI SOS 4, Pak Dana, gak ada). Tetep narsis. Hmm...

Oiya, ada anak baru di kelas gue. Namanya Ayu (gak tahu nama panjangnya). Gue belom sempet nanya-nanya.

Yaudah, gue dan keluarga mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa ya.

Friday, July 30, 2010

Helm dan Lampu Sein

Kejadiannya begitu cepat.

Gue ceritanya lagi naik motor. Mau pulang ke rumah. Nah, gak lama setelah gue pamit dari rumah tante gue (pulang sekolah gue main dulu sampai malam dirumah tante gue) seperti biasa lewat jalan yang biasanya gue lewatin.

Dan gak lama kemudian (eng ing eng) motor bapak-bapak udah nempel aja di motor gue. Bapak-bapak itu jatuh dan helmnya kelepas (gue gak jatuh dan posisi gue masih duduk manis di motor dan gak berubah posisi sama sekali). Langsung deh tuh para warga sekitar mendatangi kami.

Beruntung pinggang gue yang kena stang motor tuh bapak-bapak gak kenapa-napa. Badan dan seluruh tubuh gue gak kenapa-napa dan kepala gue untung pake helm yang ber-SNI (Standar Nasional Indonesia) jadi alhamdulillah gak kenapa-napa (terima kasih ya Allah udah melindungi hamba-Mu ini). Tetapi si bapak-bapak itu yang naas alias sial...

Udah jatuh kelempar jauh pula tuh helmnya. Gue sekilas lihat helmnya yang kayaknya gak ber-SNI dan warna lampu seinnya yang gak sesuai dengan peraturan (lampu sein seharusnya berwarna kuning tua tapi ya gak tua-tua amat). Lampu sein tuh bapak-bapak warna merah gelap sama kayak lampu penanda berhenti di motor. Gak bener banget tuh bapak-bapak. Mana kelihatan kalau warna lampu seinnya merah dan gelap??

Kurang lebih begini dialog gue ama tuh bapak-bapak...

"Maaf pak! maaf..."

"Gua gampar lu. Gak liat tuh lampu sein?" gue langsung liat lampu seinnya.

"Maaf pak, gak liat." lampu seinnya gelap gitu, warna merah pula, gak kelihatan lah!!

"Maaf pak." gue minta maaf lagi

"Udah sana pergi!!" gue diusir. Yee... bego lu pak!! Tapi akhirnya gue pergi sambil menganggin pinggang gue yang kena stang motor tuh bapak-bapak. Buat akting doang sih, padahal gue gak kenapa-napa.

Sebenarnya gue salah juga sih. Ceritanya mau ngeduluin tuh motor bapak-bapak tapi malah jadi sial begitu. Tapi bapak-bapak itu juga salah, lampu sein warna merah gelap gitu mana kelihatan sama pengendara lainnya, pak??

Sial hari ini (mungkin). Hahaha...

Monday, July 26, 2010

BAGUS

Mencari dress untuk Pesta Ulangtahun Kirarin lumayan susah ya, Ry. Aku udah cari ke butik-butik di Mall di seluruh Jakarta tetap aja gak dapet-dapet yang pas sama aku. Mana pestanya tinggal 2 hari lagi! Duh, pasti si Kirarin marah kalo aku gak datang ke pestanya. Aku harus minta tolong ke siapa nih? Kakak Yuli? Atau Mama? Duuh!!! Sebel kalo udah kayak gini. Yaudah, aku minta tolong sama Mama dan Kak Yuli aja deh. Selamat Malam ya, Diary Marie. Met bobok.

Arista Getamidi

***

Aku langsung menuju tempat tidur. Sudah tidak bisa lagi berpikir otakku ini. Ini gara-gara dress code yang dibuat oleh Kirarin. Dress code yang dia buat adalah 'Tuan Putri dan Pangeran' yang artinya adalah dress ala putri dan tuxedo ala pangeran.

Aku perempuan yang ditakdirkan berbadan besar. Susah untuk cari dress ala putri. Hei, Kirarin, kamu sahabatku atau bukan sih?!

***

“Selamat liburan dan jangan lupa kerjain PR kalian”.

“Iya, Pak!”

Suara riuh menggema di dalam kelas itu. Semua anak di kelas itu langsung mengerubungi tempat duduk Kirarin dan aku.

“Nanti malam jangan lupa ya!” Kata Kirarin pada semua anak-anak di kelas.

“Tenang aja! Pasti kita-kita datang kok. Makanannya yang banyak ya?” Kata Rudi mewakili anak-anak.

“Tenang aja. Gue udah siapin semua buat kalian. Jangan lupa kadonya. Jangan mahal-mahal, mobil juga boleh. Hahaha..”

“Mobil-mobilan ntar gue kasih. Hahaha…” suara tertawa menggema di dalam kelas itu.

“Rin, lo bakal nyuruh kita pake dress code ala Pangeran dan Putri dan juga membawa pasangan, kan? Tapi kayaknya bakal ada satu tamu lo yang gak bakal punya pasangan dan juga punya baju ala Putri, deh.” Kata Bagus tiba-tiba.

“Masa? Siapa?” Tanya Kirarin bingung. Bagus langsung menunjuk diriku.

“Ini orangnya. Masa lo gak tahu, gak ada dress ala Putri yang muat dipake dia. Dan apakah si Arista ini juga udah punya pacar? Jawabannya pasti tidak. Hahaha…”

Kelas kembali penuh dengan lautan tawa.

“Parah lo, Gus! Dia sahabat gue! Jangan menghina dong!” kata Kirarin membelaku.

“Udah lah, Rin. Bagus bener. Kayaknya gue gak bakal datang ke pesta ulangtahun lo. Bener juga kata Bagus, gue gak punya dress ala putri dan gue juga gak punya pasangan untuk dibawa ke pesta ulangtahun lo. Gue pulang duluan ya.” Aku langsung keluar meninggalkan kelas.

Benar kata Bagus, aku gak akan datang ke pesta ulangtahun Kirarin. Kalaupun aku datang, aku akan cuma mempermalukan diri sendiri.

***

“Arista, ini udah jam setengah 7, lho! Kamu kok gak siap-siap ke pesta ulangtahun Kirarin? Kasihan kan Kirarin...” tanya Mama padaku saat aku sedang membaca komik.

“Arista sakit perut, Ma.” Kataku berbohong, “Udah, Mama keluar dari kamar Arista. Arista mau tidur.”

“Mau Mama ambilin obat?” Tanya Mama, khawatir.

“Gak usah! Udah Mama keluar aja.” Aku langsung mendorong Mama untuk keluar dari kamarku dan aku langsung menutup pintu.

***

“Arista, bangun!”

“Ada apa sih, Kak? Gue baru mau tidur nih! Ganggu aja.”

“Ada cowok cakep di depan!” kata Kak Yuli antusias.

“Si anak tetangga itu? Iya emang cakep.” Kataku sambil memeluk guling dan kembali tidur.

“Bukan!! Jangan tidur dong! Cowok itu nyariin lo. Katanya lo di suruh pakai ini.” Aku langsung melek dan menerima kotak dari kakak.

“Apaan ini isinya? Bom?” tanyaku bingung.

“Gue gak tau, coba lo buka.” Aku langsung membuka kotak itu dan benar-benar takjub dengan isinya: little black dress yang sangat cantik. Kak Yuli langsung mengambil dress itu dari tanganku.

“Wow, cepat pakai, Ta! Nanti lo gue dandanin!” Kak Yuli makin antusias. 

Aku langsung mencoba dress tersebut dan… muat! Aku langsung melepas dress itu dan langsung pergi ke wastafel untuk cuci muka. Aku harus datang ke Pesta Ulangtahun Kirarin!

***

“Cantik sekali kamu, sayang.” Kata Mama takjub melihatku berdandan ala putri.

“Aku lho yang ngedandanin. Cantik kan?” kata Kak Yuli, jumawa. Tapi kali ini aku berterimakasih atas kebaikannya, “Udah sana keluar. Temuin pangeran lo. Dia nungguin lo di luar!"

Aku langsung bertanya-tanya siapa cowok yang berbaik hati yang mau beliin little black dress sebagus ini?

Klek!

Aku langsung kaget bukan main. Ternyata orang yang memberikan dress itu adalah Bagus. Bagus, orang yang tadi siang menghinaku. Bagus melongo melihatku. Terlihat senang. Tapi aku tidak terlihat senang sama-sekali. Aku malah benci! Benci!!!

“Arista... Cakep banget lo...” Kata Bagus lalu terdiam.

“Jangan menghina!” Mama dan Kak Yuli yang melihat kejadian ini langsung kaget.

“ARISTA! Apa-apaan sih lo?! Dia cowok yang ngasih lo dress itu tau!” omel Kak Yuli. Aku langsung masuk ke dalam rumah dan cepat-cepat mengganti dress itu dengan piyama.

“Arista! Cepat keluar! Kasihan nih si Bagus!” teriak Kak Yuli dari teras. Aku langsung turun dengan membawa dress itu ditangan.

“Terima kasih atas kebaikan lo. Ini dress yang sangat bagus tapi gue gak mau memakainya karna gue gak mau lo hina lebih jauh!” aku langsung melempar dress tersebut ke wajah Bagus dan aku langsung menarik Mama dan Kak Yuli masuk kerumah. Mama sangat bingung. Kak Yuli kesal bukan main.

“Arista... maafin gue! Gue ngaku salah! Gue… Gue… GUE SUKA SAMA LO!!” Aku terdiam. Mama tersenyum. Kak Yuli terkaget-kaget.

“Sayang, kasihan lho dia. Tapi kalau memang tak suka tak usah dipaksakan.” Nasihat Mama. Aku masih terdiam. Kak Yuli masih gak percaya dengan kejadian tadi.

“Biarin. Aku gak suka dia. AKU BENCI DIA!!” teriakku keras supaya Bagus mendengar kata-kataku tadi.

“Walaupun lo benci gue, gue akan nunggu lo di sini sampai lo mau maafin gue dan nerima gue!”

Aku terdiam lagi, “Mama, Kakak, jangan ada yang keluar untuk nemuin Bagus. Kalau kalian nemuin Bagus, aku bakal benci banget sama kalian!”

“Kamu gak boleh begitu, sayang.” Mama menatapku lekat-lekat dan tersenyum lembut.

“Tau, lo gak boleh egois. Dia sayang sama lo tau!” Kak Yuli ikut-ikutan.

“Aku gak suka sama dia!” Aku langsung pergi ke kamar dan mengunci diri di sana.

“Arista! Maafin gue! Gue akan nunggu di sini sampai lo mau maafin gue!” Teriak Bagus dari teras.

Aku mengintip Bagus dari jendela kamarku. Aku bingung kenapa bisa benci sama Bagus. Sebenarnya dia gak salah apa-apa tapi kenapa… kenapa aku bisa benci dia? Apa aku menemui dia saja ya? Akh! Aku bingung…

***

Sejam telah berlalu. Mama dan Kak Yuli sepertinya sudah tidur. Aku mengintip dari jendela untuk melihat keadaan teras dan... Bagus masih ada di situ. Duduk di bangku sambil mengusap-ngusap tangannya. Aku merasa sangat kejam. Aku langsung saja keluar dan menemui Bagus…

“Kenapa lo ngelakuin kayak gini? Gak bener!” omelku. Bagus langsung memelukku, “Lepasin!”

“Maaf. Gue benar-benar minta maaf.” Kata Bagus tanpa melepas pelukannya padaku.

“Gue bingung… Kenapa gue bisa benci lo, kenapa gue bisa kayak gini sama lo. Gue bingung…”

Yang keluar dari mulut Bagus hanya, “Maaf… Gue minta maaf…”

“Gue memaafin lo. Gue juga minta maaf atas kelakuan gue ke lo.” Pelukan Bagus makin erat. Aku tak mau melepaskan pelukan ini.

“Gue suka sama lo.” Pelukan Bagus semakin erat lagi. Sampai membuatku sesak nafas.

***

“Kemarin pada kemana lo?” Tanya Kirarin kesal.

“Maaf ya, Rin. Maaf. Kami minta maaf.” Kata Bagus sambil nyengir. Aku hanya diam.

“Kami?” Tanya Kirarin bingung.

“Kami… Kami tadi malam pergi berdua. Kami sudah jadian.” kata Bagus santai. Aku langsung terbelalak mendengar pernyataan Bagus.

Kirarin dan seluruh anak-anak di kelas itu langsung menyoraki kami dan memberikan selamat kepada kami.

“Duh, bikin malu. Lagipula aku suka kamu belum tentu aku menerima kamu.” omelku malu
Bagus langsung memelukku, “Aku mau kamu menerima aku.”

“Haah… Aku menerimamu.”

Kelas menjadi penuh dengan anak-anak yang bersorak gembira dan senang karena kami jadian. Kelas semakin penuh sorak saat Bagus mencium keningku. Ah, ternyata Bagus menyukaiku dan ternyata dia juga sangat sayang padaku.

Aku menyesal telah memperlakukan dia seperti ‘anjing yang dibuang majikannya’ kemarin malam. Dan sekarang aku sangat senang atas apa yang telah terjadi sekarang. Aku sangat menyayangi Bagus lebih dari apapun. Aku menyukainya.