Showing posts with label Working Life. Show all posts
Showing posts with label Working Life. Show all posts

Sunday, December 22, 2019

The Truth

"Kamu jadi pengangguran lagi ya?"

Saya tersedak saat mengunyah gorengan bakwan ketika Mamak bertanya hal tersebut.

"Iya. Kenapa?" tanya saya sambil tetap menguyah sisa bakwan.

"Kenapa lagi sih?"

"Dipaksa resign." jawab saya singkat.

"Heh?" tanya Mamak lagi, kali ini penasaran.


"Iya dipaksa resign. Abis leadernya toxic, lingkungannya jadi ikutan toxic," jawab saya sambil mengambil bakwan lain di piring.


Mamak hanya mengangguk paham dengan jawaban tersebut. Saya terdiam beberapa saat, sampai terlintas satu pertanyaan yang jawabannya akan selalu sama; "Sebenernya Mamak ikhlas gak sih anaknya jadi jurnalis?"

"Enggak." jawab Mamak dengan mantap.

TUH KAN! 

"Ya terserah sih, udah tau anaknya batu, masih juga dilarang," kata saya sambil ngenye ke arah Mamak yang langsung pasang wajah mesem.

***

First of all, I'm not trying to burn the bridge. I'm just sharing what happens a couple months ago, and I'm sick of this person. 

Jadi tanggal 27 Juni lalu, saya resmi menyerahkan surat resign paksaan ke kantor. Ingat ya, saya bukan resign atas kemauan sendiri, tetapi dipaksa. Sekali lagi, saya dipaksa menyerahkan surat resign pada bulan keempat bekerjapadahal kontak kerja masih ada dua bulan lagi.

Ada berbagai alasan mengapa akhirnya surat resign paksaan itu sampai ke HRD. Salah satunya karena so-called-leader yang toxic parah. Saya dipimpin oleh seseorang yang cukup toxic, menganggap dirinya seorang pemimpin, padahal hanya sampah masyarakat yang tidak paham apapun.

You can call me harsh, but really, he's the worst team leader I ever hadPadahal dia hanya seorang koordinator lapangan (korlip) di perusahaan tersebut. Rumornya, dia diangkat dari penulis jadi korlip karena ia pintar 'menjilat' dan 'cari muka' dengan atasan. Haduh.

No. Ini tidak bisa dibilang gosip, tapi memang benar fakta dia orangnya seperti itu. Orang-orang macam dia memang harusnya tidak diberikan kekuasaan untuk memimpin banyak orang, karena memang tidak capable.

Beberapa waktu sebelum surat resign paksaan itu dilayangkan ke HRD, saya sempat dipanggil HRD tanpa adanya pemberitahuan terlebih dahulu. Jujur, saya kaget. 
Ada apa?

Ternyata si korlip tersebut sudah mengadu ke HRD bahwa pekerjaan saya tidak benar, dan ia meminta HRD untuk memecat saya.

Sebelum kepala HRD meminta surat resign paksaan saya, dia bilang untuk saya mencoba berbicara dengan korlip tersebut. Menurut kepala HRD, takutnya ini hanya kesalah-pahaman.

And I was like... What?

Jadi saya disuruh memohon-mohon, gitu? Oke kalau mau kamu begitu, saya ladeni. Saya membuang semua ego saya karena masih pengin mempertahankan pekerjaan tersebut, sebab saat itu saya belum mendapatkan pekerjaan lain.

Sekali lagi, saya belum mau mencoba burning the bridge, jadi saya mencoba berbicara dengan leader toxic dan salah satu kacungnya.

Tapi... selama berbicara dengan mereka, saya rasanya mau meledak!

Ingin rasanya menyemprotkan kata-kata kasar ke mereka, karena mereka sebodoh itu. Banyak sekali alasan-alasan tak masuk akan yang mereka lontarkan. Bahkan mereka menjelek-jelekan reporter lain yang tidak sepaham dengan mereka. AMPUN GAK PAHAM LAGI DEH JAHATNYA MULUT DAN PEMIKIRAN MEREKA.

Tapi semua itu saya tahan. Sekali lagi, saya masih ingin mempertahankan.

Lalu yang bikin kaget, alasan mengapa saya dipaksa resign karena... karena saya enggak asik. Bahkan salah satu kacung korlip tersebut bilang kalau saya terlalu sering nulis berita lifestyle dan entertainment.

Hah? Gimana? πŸ€”πŸ€”πŸ€”

Saya pikir ada yang salah dengan tulisan atau lainnya. Misalnya tulisan saya banyak typo dan lain-lain, tapi ternyata bukan. Saya dicut karena tidak asik dan terlalu sering menulis berita lifestyle dan entertainment.

Sungguh alasan pemecatan yang tidak profesional.

Padahal dulu, waktu awal-awal saya masuk, pemimpin redaksi (pemred) meminta saya untuk banyak menulis artikel soal lifestyle dan entertainment karena tidak ada bisa menulis hal tersebut.

Saya juga awalnya kaget, soalnya media ini kan kental banget dengan citra politiknya, masa mau masukin tulisan lifestyle dan entertainment yang receh sih? Tapi waktu itu pemrednya sendiri yang nyuruh saya. Ngomongnya di depan para editor juga, jadi saya manggut-manggut aja, walaupun sedikit bingung.

Anyway, akhirnya saya ikhlas dipaksa resign. Sekitar 1 minggu setelahnya, saya resmi keluar dari perusahaan tersebut.

Tapi entah kenapa rasanya kok hati ini lega sekali, plong gitu. OMG. I was wrong. Tidak seharusnya saya mempertahankan hal yang beracun seperti ini. Memang lebih baik keluar dari lingkungan dan manusia-manusia toxic, biar enggak ketularan sakit.

Beberapa saat setelah saya dan salah satu kawan saya keluar dari lingkungan toxic tersebut, banyak kawan-kawan seperjuangan di sana yang juga bernasib sama seperti saya. Tapi yang mengherankan... mereka semua merasa lega keluar dari perusahaan tersebut.

Beberapa di antara mereka bahkan sudah mendapatkan pekerjaan lain yang jauh lebih baik. Syukurlah!

***

Note: Tulisan saya ini sudah berada di draft beberapa hari setelah setelah saya resmi keluar dari perusahaan tersebut. Awalnya saya enggan mempublikasikannya karena masih menghargai mereka. Tapi rasanya kok gak guna ya kalau peristiwa beracun ini disimpan sendiri. Jadi saya publikasikan saja sekalian. Bye toxic!

Saya juga menuliskan hal ini lewat postingan saya sebelumnyaKamu juga bisa membaca postingan kawan saya yang sama-sama dipaksa resign di sini. 

Saturday, December 21, 2019

25

Saya baru sadar jadi perempuan berusia 25 tahun itu melelahkan.

Ada banyak ekspektasi yang orang inginkan dari saya, seperti punya kekasih dan menikah. I MEAN, WHO THE F*CK ARE Y'ALL??? Kok berani banget kasih saya ultimatum, padahal kalian bukan siapa-siapa saya.

Punya kekasih atau menikah itu bukan perlombaan ya, jadi enggak perlu diburu-buru! πŸ€¦πŸ½‍♀️

Saya pernah posting sebuah Instagram Story mengenai hal ini. Saya tekankan lagi, punya kekasih atau menikah bukanlah sebuah lomba atau persaingan. PUNYA KEKASIH DAN MENIKAH BUKAN PERLOMBAAN. Tolong jalani saja masing-masing or better shut the f*ck up.

Buat saya, menikah bukan hanya soal cinta dan jadi halal kalau mau bersanggama. It's beyond that. Ini soal komunikasi dan komitmen untuk hidup bersama, dan juga soal keterbukaan atau transparansi antara pasangan dalam segala hal. 

Jujur, saya paling malas mendengar ocehan pasangan yang baru menikah atau orang tua yang gembar-gembor mengenai indahnya hidup bersama, dan mengajak para lajang untuk segera menikah.

Hhh... Saya mau galak sedikit. Kedua orang tua saya, khususnya Mamak, hanya pernah bertanya sekali mengenai kisah percintaan saya, dan itu pun sudah lama sekali. She's never ask about that shit again, karena saya yakin beliau tahu saya sedang menikmati hidup.

Lalu tiba-tiba, kalian-kalian ini, yang tidak kasih saya makan atau pun menghidupi saya, kasih ultimatum seperti; "Nikah dong biar gak sendirian kemana-mana", "Kamu kapan nikah? Itu kakak-kakak kamu udah pada nikah dan punya anak", "Umur sudah segini kok gak punya pacar juga?", "Lo normal gak sih?" atau "Elu gendut sih, makanya gak laku".

F*CK Y'ALL. πŸ–•πŸ½

Gini, saya banyak melihat masalah-masalah yang dihadapi para pasutri. Tidak usah jauh-jauh, saya melihatnya dari orang tua, dan kedua kakak saya yang sudah menikah. Saya juga melihatnya dari teman-teman saya yang menikah muda dan beberapa diantaranya harus gugur karena ego masing-masing.

Kalau mau jujur, saya belum siap berkomitmen soal menikah. Bukannya saya takut, tapi menikah tanpa persiapan mental yang matang adalah 'bunuh diri'. Maka dari itu, saya masih ingin bebas menggali dan mengenal lebih jauh diri sendiri.

Di sisi lain, sebagai salah satu Sagitarius, saya ini cinta kebebasan dan tidak ingin dikekang oleh hubungan apapun saat ini. Saya masih ingin bebas bekerja, nongkrong bersama teman-teman, menonton bioskop sendirian, dan lain-lain.

Menurut saya, ini bentuk saya dalam mencintai diri sendiri. Dengan begini juga saya bisa jauh lebih mengenal baik dan buruknya diri sendiri. Maka ketika saya siap, artinya saya sudah mengenal diri sendiri. Jadi kalau pun ada masalah, setidaknya saya bisa menanganinya dengan baik.

Oh ya, menjawab normal atau tidak, saya normal dan saya masih tertarik dengan pria. Ada salah satu kolega yang saat ini sedang saya suka karena wajahnya manis. Tapi hanya sebatas suka gitu aja sih, enggak ada keinginan buat petrus jakador.

Karena balik lagi, sekarang saya lagi enggak mau terikat oleh hubungan apapun. 

Jadi intinya, ada saatnya nanti saya siap untuk menikah kok, tapi tidak sekarang. Begitulah. Clear ya, enggak perlu kalian begini lagi ke saya. Terima kasih! πŸ’…πŸΌ

***

Hadeuh, niat hati mau menulis yang menyenangkan soal ulang tahun ke-25 kali ini, tapi yang terlintas malah hal-hal yang menyebalkan dan malah bikin saya misuh-misuh. Maaf deh ya, habis kalau dipendam malah akan jadi bom waktu, jadi lebih baik saya utarakan.

Terus, kalau dipikir-pikir, jadi orang dewasa itu memang sulit sekali ya. Saya jadi paham,  sekarang makin banyak orang yang berusia tua, bukannya lebih bijaksana malah makin jadi sok tahu. Padahal itu bukan urusan mereka, tapi banyak yang ikut campur. Capek deh.

Semoga saya nanti tidak seperti itu ke orang lain. Noted! 

***

Anyway, saya mau cerita mengenai apa yang terjadi kepada saya selama satu tahun terakhir ini. Lagi-lagi, sama seperti tahun lalu, hidup saya terombang-ambing layaknya sedang naik wahana roller coaster. It's fun, tapi di sisi lain bikin pusing juga, tapi pada akhirnya I enjoyed it.

Cerita setahun terakhir ini lebih ke soal pekerjaan dan karir sih. Jika tahun lalu saya dua kali pindah perusaahan, tahun ini pun sama. Ini bukan mau saya juga sih, tapi yah memang lagi kurang beruntung saja dapat atasan yang (lagi-lagi) toxic. πŸ˜‚

TL;DR pada perusahaan ketiga, saya dipaksa resign oleh ketiga koordinator lapangan (korlip) saya. Saya ingat betul apa kata kepala HRD mengenai alasan saya dipaksa resign.

"Kata mereka, kamu enggak asik"

Saya gak kaget sih, karena orang-orang di kantor tersebut memakai sistem like and dislike.  Kalau kamu sudah enggak mereka suka, ya kamu ditendang.

Lingkungan kantor juga sudah tidak sehat alias toxic abis. Di sana kalian bakal menemukan  orang-orang dengan jabatan atas yang toxix. Mereka bersikap bossy dan tentu semena-mena kepada para reporter.

Bahkan kalian juga akan menemukan sekelompok korlip yang tidak punya pengalaman di media berbasis online tetapi malah diangkat dan diberikan posisi tersebut. INI. MIND-BLOWING. SEKALI. πŸ€¦πŸ½‍♀️🀦🏽‍♀️🀦🏽‍♀️

Mereka bahkan tidak up to date atau berusaha mempelajari isu terkini. At least, Googling lah kalau enggak tahu! Kalah jauh dengan para reporter yang mereka dzolimi. Giliran dikasih tahu soal isu terkini yang seharusnya diangkat, mereka malah marah karena merasa digurui. πŸ€£πŸ€£πŸ€£

Ini merupakan hal yang fatal untuk sebuah media berbasis online sih, sebab reporter dipimpin oleh orang-orang tak berpengalaman di online sebelumnya.

Padahal ya, kita bisa belajar bersama, sama-sama belajar, bukan saling menjatuhkan. Tapi kayaknya hal-hal baik kayak gini enggak berlaku buat mereka.

Oh ya, misal ada orang-orang dari kantor lama, terutama yang manusia-manusia toxic membaca ini, tolong wawas diri, introspeksi, atau refleksi diri kalian. Kalau kata Muslim dan Coki, MUHASABAH DIRI ANDA dan bersikaplah profesional.

Kembali ke topik awal. Alasan saya enggak disukai karena terlalu vokal dalam menyuarakan pendapat. Apalagi saya suka mempertahankan opini dan hak saya. Karena hal ini, bahkan salah satu korlip itu pernah mengancam saya secara personal.

Saya tidak berbohong soal ancaman. Saya masih ada bukti chatnya~

Mereka, khususnya sekelompok korlip tersebut, memang tidak suka dengan reporter yang terlalu vokal, makanya saya dicut dan disemena-menakan.

Tapi fenomena ini enggak hanya terjadi kepada saya. Sebulan sebelumnya, dua reporter juga dipaksa resign karena terlalu vokal. Bulan berikutnya, saya dan kawan saya juga dipaksa resign. Bulan selanjutnya juga ada dua teman saya yang dipaksa resign.

Hingga kini, dari 28 reporter yang tergabung, hanya sisa belasan. Ada yang memang resign karena memang kantor sudah setoxic itu, namun lebih banyak yang dipaksa resign. Bahkan beberapa hari yang lalu, kedua kawan saya yang masih bertahan di sana juga dipaksa resign dengan alasan yang tidak masuk akal.

Oh ya, dipaksa resign itu sebenarnya kita dicut kantor, tapi kita pula yang kasih surat resign. Iya, mereka memang licik sekali, biar enggak kelihatan main kotor.


Saya baru berani menuliskan hal ini sekarang karena sudah tidak ada beban. Kemarin-kemarin saya tahan karena saya masih menghargai mereka, tapi rasanya udah gak guna juga. Jadi sekalian saja lah saya burn the bridge. Bye toxic! πŸ‘‹πŸΌπŸ‘‹πŸΌ


***

Tapi selalu ada hikmah dibalik hal buruk. Selalu ada pelangi setelah badai.

Pasca dipaksa resign, saya gencar kirim lamaran ke berbagai media dan perusahaan startup ternama. Ada 8 lamaran yang dikirim lewat email, dan puluhan lamaran via situs pencari kerja (i.e JobStreet, Kalibrr, UrbanHire, Jobs.ID, dan Glints) ataupun langsung ke situs perusahaan.

Setiap minggu saya bisa bolak-balik ke percetakan untuk mencetak CV dan portofolio saya sebagus mungkin, agar menarik dibaca oleh para recruiter. Tidak perlu bertanya sudah habis berapa uang saya untuk hal ini, karena saya sendiri enggak berani menghitungnya.

Akhirnya... penantian berakhir.

Setelah mengikuti beberapa kali proses interview di berbagai perusahaan dalam waktu sebulan lebih, akhirnya saya diterima di sebuah perusahaan media ekonomi waralaba.

Proses penerimaan saya sebagai reporter juga terbilang cukup singkat. Setelah beberapa hari mengirimkan lamaran lewat email, saya ditelepon untuk ikut psikotes dan interview. Interview dengan user, yakni korlip dan editor juga terbilang singkat.

Setelahnya saya sih enggak berharap banyak dan cuma bisa berserah kepada Allah soal hasilnya. Diterima atau enggak, yang penting saya sudah ikuti prosesnya. Nothing to lose kalau kata Umire, salah satu kawan saya yang gesrek itu.

Eh dua hari setelahnya, saya ditelepon HRD. Mereka bilang saya lolos dan langsung nego gaji. Saya udah enggak pakai nego, dan langsung menerima pekerjaan tersebut. Hari Senin berikutnya saya datang ke kantor untuk tanda tangan surat perjanjian kerja, dan foto untuk ID card press.

What a day to be alive.

Saat ini saya masih bekerja di media tersebut, dan saya harap saya bisa bekerja di sini hingga beberapa tahun mendatang. Saya betah bekerja dengan mereka yang memang profesional dalam bidangnya.

Tentu saya yang tadinya goblok banget soal ekonomi, jadi sedikit paham dunia ekonomi. Memang jadi reporter itu harus bisa belajar apapun, apalagi ekonomi yang jadi momok menakutkan sejak saya SMA dulu.

Hai, Mbak dan Mas, saya senang bekerja dengan kalian. Terima kasih sudah memberi saya kesempatan yang baik untuk selalu belajar. πŸ˜Š

***

Lalu apa yang saya lakukan di hari ulang tahun kali ini?

Berbeda dengan tahun lalu, dimana saya bebersihan kamar, saya bangun jam 9 pagi, abis itu gelegoran saja di kasur. Terus saya makan nasi kuning yang dibeli tadi pagi sama Mamak. Bikin kopi, dan melanjutkan beberapa pekerjaan yang belum kelar.

Di sela-sela waktu mumet kerjaan, saya menulis postingan ini.

KOK GAK FANCY BANGET YA? πŸ€£πŸ€£πŸ€£

Pengin deh sesekali ulang tahun fancy, kayak makan di restoran mewah sambil mengenakan pakaian cantik gitu. Atau solo traveling ke luar negeri. Mungkin tahun depan ya. Nabung dulu kita! Semoga tercapai! Amin! πŸ™πŸΌ

Tambahan: Mamak ngajak makan malam di luar. Tadinya mau makan di Shabu Hachi, tapi akhirnya melipir ke Abuba Steak. Acara birthday dinner dadakan tersebut bahkan sempat saya buat thread di Twitter. Enjoy! πŸ€£

Wednesday, February 12, 2014

New Project.

Mati satu, tumbuh seribu mungkin menjadi peribahasa yang cocok untuk saya saat ini. Tadinya saya udah senang karena tidak keterima di acara JKT Move In (padahal saya udah ikut interviewnya) dan Dreamers Festival 2014. Sekarang tinggal nungguin pengumuman volunteer ARTE Indonesia 2014 (kalau yang ini sih saya berharap keterima, karena emang udah saya incar dari tahun lalu).

Tapi tadi sore saya meeting di Byblos Bistro di Pondok Indah Mall sama Kak Sela, Mas Reiza, Kak Citra, Kak Faisal, Momo, Ian, dan Karina. Ngomongin project baru: A'Fiiilm Short Movie Project Competition.

OUCH!

Saya sudah bilang belum kalau saya adalah salah satu kontributor tulisan review film di Kinescope? Yap! Karena saya salah satu dari kontributor, saya dipercaya menjadi event staff di acara ini.

Acara ini akan berlangsung dari bulan Februari sampai April nanti. Tadinya sih saya mau nolak ikut acara ini karena saya mau memperbaiki kehidupan kuliah dulu. Tapi akhirnya saya urungkan, karena kalau saya pikir-pikir lagi, susah lho dapet kepercayaan kayak gini. Saya termasuk kontributor yang malas (bukannya malas sih, soalnya saya baru pertama kali ngereview film). Saya cuma ngirim satu tulisan reviewan film buat Kinescope bulan Desember tahun kemarin. Saya ngereview filmnya Paul Walker, Hours. Habis itu saya gak ngirim review sama sekali, padahal saya udah disuruh belajar ngereview sama Mas Reiza. Makanya sekarang saya lagi mencoba ngereview film Killers. Hehehe.

By the way, kayaknya sekarang saya harus pintar-pintar bagi waktu deh. Pokoknya yang paling utama adalah kuliah! K-U-L-I-A-H! IPK saya harus naik di semester 4 ini! Tolong doakan saya teman-teman! Dan doakan agar saya selalu diberi kesehatan, soalnya sekarang saya agak pusing nih. Hiks. :'|

Ya gitu aja deh. Mohon dukungan dan doanya ya teman-teman! Terima kasih! :)

@theaarbar

Sunday, January 26, 2014

The Color Run Indonesia


Hari ini saya ngevolunteer di acara The Color Run Indonesia yang diadakan di Parkir Timur Senayan, Jakarta.

Kemarin saya tidur jam 10 malam dan bangun jam dua pagi. Yah... Karena mandi saya lama banget, saya harus bangun lebih awal. Jam segitu airnya dingin banget! Tapi gak masalah sih. Karena  paling lambat saya harus sudah berada di Parkir Timur Senayan jam 5 pagi. Wuih! :))

Dari rumah saya udah pakai celana pendek dan sepatu olahraga. Abis rasanya malas ganti celana di sana. Hahaha.

Saya jalan dari rumah jam 4 pagi. Mamak saya bingung kenapa saya berangkat pagi banget. Ah, daripada telat. Saya kan orangnya telat mulu. Kali ini saya gak mau telat. Karena kan saya 'kerja' (walaupun gak dibayar). :p

Nyampe Senayan... gelap banget! Asli gelap banget! Mana pagar yang menuju Parkir Timur Senayan-nya ditutup lagi. Untungnya gak lama ada satpam yang bukain. Tapi sedikit bete juga sih sama satpamnya.

Satpam: "Mau kemana, mbak? Tiga ribu ya."

Saya: "Ke acara The Color Run, pak. Saya panitianya."

Satpam: (sambil senyum-senyum najis) "Oh, gak usah bayar mbak, lewat aja."

Huft.

Sebenarnya saya agak bingung dengan pembagian warnanya. Waktu di sms kemarin, saya disuruh jaga di zona orange. Tapi pas pembagian kaos, saya dapat yang warna merah. Lho?

Ah, acara baru sih. Koordinasinya belum sempurna. Yah... Semoga tahun depan bisa lebih baik lagi (dan semoga tahun depan saya bisa jadi volunteernya lagi, lumayan gak bayar). :p

Pukul 06:00 WIB. Briefing singkat para volunteer.


Sebelum 'perang'. Masih pada bersih banget kan? :))

#ZonaMerah #TeamZonaMerah #VolunteerColorZone :D

Pada bukain gentong yang berisi bubuk warna merah.

Main-main sedikit sama bubuknya sebelum para peserta datang :))

Saat lagi 'perang'. Gilaaak! Rame banget! Pesertanya gokil semua! Malah ada beberapa pasangan yang sempat ciuman dan minta difotoin. Katanya sih buat foto pre-wedding. Hahaha! :))




Daaan ini adalah foto-foto sehabis 'perang'. Gokil banget kan warnanya?! :))












Nasi Padang! :9

Akh! Gila! Seru banget kan! Walaupun bubuk warna merah susah banget hilangnya. Saya sampai mandi tiga kali dan tetap susah banget hilangnya. Mamak saya sempat marah-marah karena badan saya merah semua. Hahaha.

Senang banget bisa jadi salah satu volunteer di acara ini. Ditunggu tahun depan yak! Semoga tahun depan acara ini makin baik lagi. Terutama koordinasi buat volunteer. Kita memang gak dibayar, tapi bukan berarti kita harus mendapat koordinasi seperti itu, kan? :p

@theaarbar

Sunday, November 17, 2013

Pop Up Cinema & Retrospective Bong Joon-ho JiFFest

Hari ini ngevolunteer lagi!

Hari ini spesial karena akan ada Indonesia Filmmakers Gathering dan special screening Snowpiercer dan lebih spesial lagi karena kita udah stand by dari pukul 13.00 WIB!

Mulai dari pukul 13.00 WIB, kita briefing sampe benar-benar paham dengan kerjaan masing-masing daaan hari ini (akhirnya) para volunteer dapat name tag! Yay! (Kenapa baru dapat name tag sekarang? Karena baru jadi hari ini juga).

Atas: Danu, saya, Kahfi, Vania, Grace, Fahmi.
Bawah: Rino, Levi, Kak Adis, dan Wildan.

Yay! My name!

By the way, saya punya teman-teman baru, yaitu para volunteer JiFFest juga. Mereka adalah Vania Ivena, Grace Esther, Wildan Ramadhan, Rino Sriwijaya, Fahmy Siddiq, Rizky Danurwindo, dan Fahlevi Andika Putra. Dan kita langsung akrab padahal baru pertama kali ketemu lho! :')

Hari ini sebelum mulai kerja, saya, Vania, Grace, Kahfi, dan Levi late lunch di Yoshinoya. Kita banyak ngobrol-ngobrol sampai Kak Jeffrey nelponin Vania buat cepet-cepet balik ke Blitzmegaplex. Duh sabar dong Kak Jeff. :p

Kerjaan saya hari ini adalah stay di depan Blitzmegaplex Grand Indonesia sambil bawa-bawa pamflet JiFFest buat dibagiin ke orang-orang yang lalu lalang daaan menjadi guide bagi para undangan Indonesia Filmmakers Gathering (yang gak tau tempat registrasi gatheringnya dimana).

Ada moment lucu dimana salah satu undangan Indonesia Filmmakers Gathering adalah orang bule. Dia kelihatan kebingungan gitu sambil bawa-bawa undangan IFG. Dengan takut-takut saya ngedatengin dia.

Saya yang gak pandai berbahasa Inggris cuma nyapa dia dengan 'excuse me'. Dan betapa speechless-nya saya, TERNYATA ORANG BULE ITU LANCAR BERBAHASA INDONESIA. Astaga... :')

By the way, yang diputar di Pop Up Cinema itu adalah Cinema Shorts: Doc is Doc, yaitu kumpulan film dokumenter pendek. Film-film dokumenter itu adalah; Bukit Bernyawa, Epic Java, Komedi Coklat, Grady Sang Penyembuh, dan Selamat Tinggal Sekolahku.

Sedangkan untuk Retrospective Bong Joon-ho, yang diputar adalah film-film berjudul The Host, Mother, dan special screening Snowpiercer (invitation only)!

Tadinya saya mau nonton Epic Java, tapi sayang sekali seat di GIK penuh, jadinya saya nonton Snowpiercer aja di Blitzmegaplex bareng volunteer yang lainnya.

Film Snowpiercer keren! 

Eh, kalau dipikir-pikir, saya ini kerja atau enggak sih? Rasanya saya kebanyakan mainnya deh daripada kerjanya. Hihihi... Ternyata emang enak banget kalo ngevolunteer di acara JiFFest.

Dan hari ini saya pulang bareng Grace. Ternyata Grace ngekost di deket UI (soalnya dia kuliah di UI). Wuih... Alhamdulillah ternyata ada yang searah. Hahaha...

Hari ini menyenangkan!

@theaarbar

Friday, November 15, 2013

Pop Up Cinema JiFFest

Hari ini adalah hari pertama saya ngevolunteer di JiFFest dan partner saya hari ini adalah Kahfi Ramadhan (@kafkahfi). Ada yang familiar sama dia? Mungkin ada. Soalnya doi seleb tweet gitu deh karena followersnya 7 ribu keatas, kalau kata Kak Jeffrey sih. :p

Hari ini saya sudah stand by di Galeri Indonesia Kaya (GIK), Grand Indonesia (sebelah Blitzmegaplex) dari pukul 14.00 WIB. Saya agak telat beberapa menit sih tapi ternyata masih sepi banget. 

Saya bingung kenapa masih sepi. Akhirnya saya WA Kak Jeffrey dan katanya, Kak Nana udah sampai di sana. Saya langsung menghubungi Kak Nana. Sambil nungguin Kak Nana naik ke atas, saya duduk-duduk di depan Blitzmegaplex.

By the way, saat itu saya belum kenal sama Kahfi lho (karena briefing saya dan dia berbeda waktunya).

Akhirnya Kak Nana datang dan kami langsung di briefing lagi. Saya sedikit gelagapan ditanyain soal jadwal JiFFest. Soalnya saya agak lupa-lupa (padahal kemarin saya baru aja di back office dan ngetweet tentang Pop Up Festival di akun JiFFest).

Yang semula saya mau ditaruh di meja registrasi, akhirnya gak jadi gara-gara saya masih belum hafal jadwal JiFFest. Duh... Malu-maluin ah.

Kalau kerjaan Kahfi sih jadi MC di setiap pertunjukan. Dia kelihatan gemeteran pas pertama kali ngomong diatas panggung. Saya sih cuma ketawa kecil dan bersyukur karena gak terpilih menjadi MC. Soalnya gue gak bisa ngomong di depan orang banyak. Alhamdulillah banget!

Hari ini ada tiga film yang diputar. Ada Elesan Deq A Tutuq (Jejak Yang Tidak Berhenti) karya Syaiful Anwar, Mangga Golek Matang di Pohon (The Mangoes) karya Tonny Trimarsanto, dan Toilet Blues karya Dirmawan Hatta.

For your info, film Toilet Blues adalah film dengan penonton terbanyak. Gila!

By the way, kerjaan saya hari ini (akhirnya) cuma ngambilin ID Card GIK (sambil terus-terusan bilang 'Terima kasih' sampai penontonnya keluar semua) di pintu keluar auditorium. Hahaha...

Ini nih ID Cardnya GIK

Mbak Shanty, founder JiFFest, lagi di wawancara sama SCTV

Karena kerjaan saya mudah dan tidak makan banyak waktu, saya dan Kahfi banyak main di Galeri Indonesia Kaya. Seru banget! GIK tuh kayak @America tapi versi Indonesianya. Keren banget deh! Selain masuknya gratis, di tiap weekend, GIK pasti ngadain acara di auditorium-nya. Entah pertunjukan theater, pertunjukan musik atau film. Wajib main ke sini!

Hari ini rapi sekali...

Sayangnya 'display only'. Padahal lucu banget!

Hari ini pakai tali sepatu keberuntungan!

Setelah selesai main-main, saya dan Kahfi dikasih waktu makan malam (sendiri-sendiri) dan dikasih uang 20 ribu/orang. Saya sama Kahfi bingung. Di GI, mau makan apa dengan uang 20 ribu? Akhirnya Saya dan Kahfi mutusin makan di Yoshinoya yang makanannya paling murah (setidaknya tidak hampir 30 ribu).

Setalah acara ini selesai, kami pulang ke rumah masing-masing dan siap ngevolunteerin lagi lusa nanti. Hehehe...

See ya!

@theaarbar

Thursday, November 14, 2013

Admin.

Hari ini back office!

Hari ini datang lagi ke kantor Muvila. Datang pukul 13.00 WIB dan pulang pukul 17.30 WIB, saya di sana mantengin layar notebook terus. Ngetweet dan ngeposting sesuatu di Facebook.

Saya pikir kerjaan saya hanya itu.

Tapi ternyata Kak Jeffrey nyuruh saya bantuin Kak Adis nelponin para penyumbang Save JiFFest untuk confirm kedatangan mereka di acara di premiere film Snowpiercer. Duh... Susah emang nelponin orang sibuk dan orang kaya. Ada yang telponnya di reject, ada yang gak diangkat-angkat, dan sekalinya diangkat, mereka gak bisa datang.

Kerjaan saya hari ini di back office cuma itu aja sih.

Dan saya pulang ke Depok dengan basah kuyup. Kehujanan dari Cilandak sampai Depok gara-gara gak bawa jas hujan. Nasib.

@theaarbar

Wednesday, November 13, 2013

Briefing.

Aaaakh!

Masih gak percaya kalau saya kepilih jadi volunteer JiFFest (Jakarta International Film Festival)! Syukur Alhamdulillaaah! :D

Hari ini saya briefing di kantor Muvila, tepatnya di Belleza Shopping Arcade, persis di sebrangnya ITC Permata Hijau.

Jauh? Jangan ditanya. Ketika berangkat, saya perlu 1 jam 30 menit dari Kampus Tercinta menuju kantor Muvila. Padahal briefingnya gak sampai 15 menit lho! Dan ketika pulang, saya butuh 2 jam dari kantor Muvila menuju rumah di Depok.

Perjuangan banget! Tapi sebanding sama apa yang gue dapat nanti: pengalaman.

Dari dulu saya sudah di doktrin sama om-om dan sepupu-sepupu yang lebih tua (dan berpengalaman, tentunya) untuk mencari pengalaman sebanyak-banyaknya sebelum benar-benar terjun ke dunia pekerjaan yang sesungguhnya nanti. Kalau soal uang urusan belakangan, yang penting pengalaman.

Makanya waktu itu saya kerja jadi Publicist di film 'Wanita Tetap Wanita' selama dua bulan sampai gak dibayar (bukannya gak mau dibayar tapi kita udah keburu muak sama produsernya yang bukan artis itu).

Pengalamannya? Ada dan banyak! Tapi saya tetap bersyukur karena nama saya terpampang indah di credit title sebagai Publicist (walaupun sedikit jengkel karena nama saya di sana adalah 'Thea Arbar Fathanah' dan kebodohan itu dibuat oleh produser saya).

By the way, saya diajak untuk back office juga lho jadi admin Twitter dan Facebook JiFFest! Alhamdulillah! Terima kasih ya Allah!

@theaarbar