Sunday, December 22, 2019

The Truth

"Kamu jadi pengangguran lagi ya?"

Saya tersedak saat mengunyah gorengan bakwan ketika Mamak bertanya hal tersebut.

"Iya. Kenapa?" tanya saya sambil tetap menguyah sisa bakwan.

"Kenapa lagi sih?"

"Dipaksa resign." jawab saya singkat.

"Heh?" tanya Mamak lagi, kali ini penasaran.


"Iya dipaksa resign. Abis leadernya toxic, lingkungannya jadi ikutan toxic," jawab saya sambil mengambil bakwan lain di piring.


Mamak hanya mengangguk paham dengan jawaban tersebut. Saya terdiam beberapa saat, sampai terlintas satu pertanyaan yang jawabannya akan selalu sama; "Sebenernya Mamak ikhlas gak sih anaknya jadi jurnalis?"

"Enggak." jawab Mamak dengan mantap.

TUH KAN! 

"Ya terserah sih, udah tau anaknya batu, masih juga dilarang," kata saya sambil ngenye ke arah Mamak yang langsung pasang wajah mesem.

***

First of all, I'm not trying to burn the bridge. I'm just sharing what happens a couple months ago, and I'm sick of this person. 

Jadi tanggal 27 Juni lalu, saya resmi menyerahkan surat resign paksaan ke kantor. Ingat ya, saya bukan resign atas kemauan sendiri, tetapi dipaksa. Sekali lagi, saya dipaksa menyerahkan surat resign pada bulan keempat bekerjapadahal kontak kerja masih ada dua bulan lagi.

Ada berbagai alasan mengapa akhirnya surat resign paksaan itu sampai ke HRD. Salah satunya karena so-called-leader yang toxic parah. Saya dipimpin oleh seseorang yang cukup toxic, menganggap dirinya seorang pemimpin, padahal hanya sampah masyarakat yang tidak paham apapun.

You can call me harsh, but really, he's the worst team leader I ever hadPadahal dia hanya seorang koordinator lapangan (korlip) di perusahaan tersebut. Rumornya, dia diangkat dari penulis jadi korlip karena ia pintar 'menjilat' dan 'cari muka' dengan atasan. Haduh.

No. Ini tidak bisa dibilang gosip, tapi memang benar fakta dia orangnya seperti itu. Orang-orang macam dia memang harusnya tidak diberikan kekuasaan untuk memimpin banyak orang, karena memang tidak capable.

Beberapa waktu sebelum surat resign paksaan itu dilayangkan ke HRD, saya sempat dipanggil HRD tanpa adanya pemberitahuan terlebih dahulu. Jujur, saya kaget. 
Ada apa?

Ternyata si korlip tersebut sudah mengadu ke HRD bahwa pekerjaan saya tidak benar, dan ia meminta HRD untuk memecat saya.

Sebelum kepala HRD meminta surat resign paksaan saya, dia bilang untuk saya mencoba berbicara dengan korlip tersebut. Menurut kepala HRD, takutnya ini hanya kesalah-pahaman.

And I was like... What?

Jadi saya disuruh memohon-mohon, gitu? Oke kalau mau kamu begitu, saya ladeni. Saya membuang semua ego saya karena masih pengin mempertahankan pekerjaan tersebut, sebab saat itu saya belum mendapatkan pekerjaan lain.

Sekali lagi, saya belum mau mencoba burning the bridge, jadi saya mencoba berbicara dengan leader toxic dan salah satu kacungnya.

Tapi... selama berbicara dengan mereka, saya rasanya mau meledak!

Ingin rasanya menyemprotkan kata-kata kasar ke mereka, karena mereka sebodoh itu. Banyak sekali alasan-alasan tak masuk akan yang mereka lontarkan. Bahkan mereka menjelek-jelekan reporter lain yang tidak sepaham dengan mereka. AMPUN GAK PAHAM LAGI DEH JAHATNYA MULUT DAN PEMIKIRAN MEREKA.

Tapi semua itu saya tahan. Sekali lagi, saya masih ingin mempertahankan.

Lalu yang bikin kaget, alasan mengapa saya dipaksa resign karena... karena saya enggak asik. Bahkan salah satu kacung korlip tersebut bilang kalau saya terlalu sering nulis berita lifestyle dan entertainment.

Hah? Gimana? ðŸ¤”🤔🤔

Saya pikir ada yang salah dengan tulisan atau lainnya. Misalnya tulisan saya banyak typo dan lain-lain, tapi ternyata bukan. Saya dicut karena tidak asik dan terlalu sering menulis berita lifestyle dan entertainment.

Sungguh alasan pemecatan yang tidak profesional.

Padahal dulu, waktu awal-awal saya masuk, pemimpin redaksi (pemred) meminta saya untuk banyak menulis artikel soal lifestyle dan entertainment karena tidak ada bisa menulis hal tersebut.

Saya juga awalnya kaget, soalnya media ini kan kental banget dengan citra politiknya, masa mau masukin tulisan lifestyle dan entertainment yang receh sih? Tapi waktu itu pemrednya sendiri yang nyuruh saya. Ngomongnya di depan para editor juga, jadi saya manggut-manggut aja, walaupun sedikit bingung.

Anyway, akhirnya saya ikhlas dipaksa resign. Sekitar 1 minggu setelahnya, saya resmi keluar dari perusahaan tersebut.

Tapi entah kenapa rasanya kok hati ini lega sekali, plong gitu. OMG. I was wrong. Tidak seharusnya saya mempertahankan hal yang beracun seperti ini. Memang lebih baik keluar dari lingkungan dan manusia-manusia toxic, biar enggak ketularan sakit.

Beberapa saat setelah saya dan salah satu kawan saya keluar dari lingkungan toxic tersebut, banyak kawan-kawan seperjuangan di sana yang juga bernasib sama seperti saya. Tapi yang mengherankan... mereka semua merasa lega keluar dari perusahaan tersebut.

Beberapa di antara mereka bahkan sudah mendapatkan pekerjaan lain yang jauh lebih baik. Syukurlah!

***

Note: Tulisan saya ini sudah berada di draft beberapa hari setelah setelah saya resmi keluar dari perusahaan tersebut. Awalnya saya enggan mempublikasikannya karena masih menghargai mereka. Tapi rasanya kok gak guna ya kalau peristiwa beracun ini disimpan sendiri. Jadi saya publikasikan saja sekalian. Bye toxic!

Saya juga menuliskan hal ini lewat postingan saya sebelumnyaKamu juga bisa membaca postingan kawan saya yang sama-sama dipaksa resign di sini. 

No comments:

Post a Comment