Friday, March 25, 2011

Mungkin

Saya ini perempuan yang dapat menangis karena hal sangat sepele. Seperti menangis saat menonton drama Korea atau saat membaca buku yang ceritanya menyedihkan. Tetapi saya menangis bukan hanya karena hal seperti itu saja. Saya pernah menangis saat saya gagal menyatakan perasaan saya kepada seseorang yang dari dulu saya cintai. Dia adalah cinta pertama saya.

Hari itu. Hari dimana banyak wajah-wajah bahagia karena akan di 'wisuda' tetapi ada satu wajah yang menampakkan kekesalan. Wajah itu adalah milik saya. Saya kesal karena saya tidak dapat menemukan letak tempat duduk dia. Semenjak tadi saya sibuk mencari-carinya. Berpindah-pindah tempat hanya untuk mengetahui letak tempat duduknya. Saya mulai frustasi karena tidak dapat menemukan letak tempat duduknya.

Terdiam sejenak. Seseorang yang saya cari-cari sedari tadi, terlihat! Dia ternyata duduk di depan bagian kiri saya. Saya tidak bisa berkata apa-apa. Saya hanya bisa terdiam melihatnya. Dirinya begitu menawan dengan setelan jas dan dasi berwarna hitam. Saya terpesona hanya dengan melihatnya dari kejauhan. Dia begitu menawan.

Namun, hari ini sepertinya akan menjadi hari dimana saya dan dirinya terakhir bertemu. Setidaknya untuk 3 tahun mendatang. Kami akan bersimpang jalan. Dia akan berjalan menuju SMA Negeri sedangkan saya berjalan menuju SMA Swasta. Siapa yang tahu kalau nanti dia dan saya akan bertemu kembali? Hanya Tuhan yang tahu. Saya tidak rela harus berpisah dengannya. Saya terlalu mencintainya. Namun jarak yang kian jauh ini membuat saya frustasi. Bagaikan dirinya berada di planet Bumi dan saya di planet Pluto.

Dan memang jaraklah yang kian memisahkan kita berdua.

Selama beberapa tahun kita takkan saling bertemu. Terpisahkan oleh jarak. Dan saat kita dipertemukan kembali, akan ada hal-hal yang berbeda dari diri kita. Mungkin kita takkan saling mengenali satu sama lain atau yang lebih tragis lagi, dia akan lupa dengan wajahku, suaraku dan namaku. Itu sengatan mematikan. Racun yang mematikan. Yang dapat membunuh seseorang dalam hitungan detik.

Mungkin saat kita terpisah, dia sudah mempunyai kekasih dan mungkin dia sudah menetapkan hatinya di hati gadis yang beruntung tersebut. Namun disini saya akan selalu setia menunggu dirinya. Menunggu dalam kegelapan yang tidak ada cahaya sedikitpun didalamnya.

Mungkin disini kita tidak berjodoh. Mungkin kita akan berjodoh di Surga nanti.

Mungkin.

No comments:

Post a Comment